8 February 2010
Singapore dan Pergaulan Remaja
Singapore.
INSPIRASI untuk menulis posting kali ini datang ketika aku menuliskan komentarku di blog bintangtimur. Kalimat tambahan yang aku tuliskan dalam bagian p.s. membuat banyak kalimat menari- nari di kepala dan mendorongku membuat tulisan ini.
Singapore.
Dalam perjalanan karirku, Singapore adalah kota kemana aku paling sering berkunjung. Baik kunjungan singkat atau agak panjang.
Dan, jika Irma menceritakan keindahan serta keteraturan Singapore, aku di sini akan menceritakan sisi lain dari Singapore yang selalu membuat aku “gregetan”.
Duluuuuuuuu sekali, kali pertama aku perkunjung ke sana seabad lalu, aku baru saja lulus kuliah.
“Fresh from the oven”, aku ketika itu adalah seorang gadis yang baru saja pindah ke ibu kota dari kota kelahiran. Dan, ha ha, asal tahu saja, orang tuaku walau berpandangan luas dengan visi yang jauh menjangkau masa depan, tetap memiliki aturan yang strict yang diterapkan pada anak- anaknya.
Aturan yang aku ingat sampai saat ini adalah bahwa batas jam malam yang berlaku adalah waktu maghrib.
Aku memiliki banyak kegiatan di luar sekolah. Orang tuaku tahu itu, dan sepanjang mereka tahu aku berada di mana serta sudah kembali ke rumah sebelum maghrib, maka aku tak harus memberikan alasan yang terlalu panjang pada mereka.
Tapi jika kegiatan itu dilakukan malam hari, maka sederet pertanyaan lebih detail akan diutarakan. Ibuku juga akan mencatat beberapa nomor telepon rumah kawan- kawanku dengan siapa aku katakan aku akan pergi sehingga dalam keadaan darurat, orang tuaku akan mudah menghubungi orang tua kawan- kawanku ( mohon dicatat, ketika itu telepon genggam belum lagi diproduksi… )
Sehubungan dengan pergaulan dengan kawan- kawan, orang tuaku memberikan sinyal yang jelas bahwa jika memungkinkan, mereka lebih suka jika aku mengajak kawan- kawanku bermain ke rumah daripada jika aku menemui mereka di luar rumah.
Tentang kunjung mengunjung ini, tak ada aturan “hanya boleh berkunjung sebelum maghrib” di rumah orang tuaku dulu. Batasan itu hanya berlaku jika aku yang pergi keluar rumah.
Sekarang, setelah menjadi orang tua, aku pahami dengan baik alasan di balik “minta kawan- kawanmu main ke rumah kita saja” itu, yaitu bahwa kondisi itu akan membuat orang tuaku lebih mudah mengawasi kami…
Lalu, apa hubungan semua prolog yang panjang di atas dengan Singapore yang akan aku ceritakan?
Ini :
Kali pertama aku berkunjung ke sana, aku dengan segera merasakan sesuatu yang “aneh”. Karena, begitu banyak anak remaja berpacaran di mall- mall dan tempat umum. Terutama stasiun Mass Rapid Transit (MRT) serta di dalam MRT itu sendiri.
Ketika itu di Indonesia sendiri belum banyak mall berdiri dan fenomena menjadikan mall sebagai tempat nongkrong anak remaja sama sekali belum muncul. Tapi tentu saat itu juga adalah hal biasa di sini jika remaja yang sedang berpacaran mengisi waktunya dengan pergi berjalan- jalan atau menonton bioskop.
Bukan urusan berjalan- jalannya yang aneh. Tapi apa yang dilakukan ketika “berjalan- jalan” itu yang aneh di mataku.
Apa yang aku saksikan di Singapore ketika itu adalah pacaran yang “jauh”, bukan pacaran dengan batas wajar menurut ukuranku.
Para remaja yang saling menyentuh dan meraba di tempat- tempat sensitif dan dilakukan di tempat umumlah yang aku saksikan pada kunjungan pertamaku ke Singapore dulu. Duh, risi dan “menyebalkan” untuk ukuran aku.
Dan begitulah. Waktu berjalan.
Singapore lagi dan lagi menjadi tujuan wisata perjalananku, entah untuk mengikuti training, ujian, atau meeting.
Alih- alih berkurang, jumlah remaja yang berpacaran di tempat umum makin banyak kudapati di sana. Aku dapati, usia mereka makin muda. Dan juga… wow… apa yang mereka lalukanpun makin membuat aku “gerah”.
Belum lagi, baju yang mereka ( baca: remaja putrinya) kenakanpun makin ‘provokatif’.
Pernah suatu petang, ketika aku selesai meeting dan sedang berada di escalator yang menuju pertokoan dimana toko buku yang hendak aku datangi berada, aku tersadar bahwa di anak tangga di depanku lagi- lagi ada… sepasang ABG yang sedang pacaran.
Dan… aduh!
Aku sampai bingung harus diarahkan kemana mata ini.
Rok si gadis itu begitu pendek dan lebar serta terbuat dari bahan halus yang melayang sehingga tanpa harus terlalu banyak usaha, apa yang dia gunakan di balik rok yang “minimalis” itu jelas terlihat. Hmm… dan jika baju semacam itu digunakan ketika gadis remaja itu bepergian bersama pacarnya, mudah diduga godaan seperti apa yang akan timbul selama waktu kencan mereka, bukan?
Duluuuuuu sekali, ketika aku pertama kali mendapati fenomena remaja berpacaran di area publik, baik di Singapore maupun di beberapa kota besar di negara lain kemana aku pernah berkunjung, aku mencoba menganalisa apa sebabnya mereka melakukan itu.
Dan secara sederhana aku mengambil kesimpulan bahwa selain urusan kurang ketatnya pagar agama, juga urusan budaya, ada satu hal lagi yang juga berperan besar: sempitnya tempat tinggal!
Bayangkan jika sebuah keluarga memiliki beberapa orang anak remaja dan kawan-kawan anak-anaknya berkunjung ke apartement yang mereka tinggali secara bersamaan.
Tentu tak cukup tempat untuk mereka. Tak pula ada privacy tersedia.
Berbeda dengan kondisi masa remaja yang aku alami dulu dimana aku dan adik- adikku bisa saja pada saat bersamaan mengajak beberapa kawan bertandang ke rumah sebab kami dapat memilih ruangan- ruangan yang berbeda untuk bercengkrama. Atau jikapun kami memilih berada di ruangan yang sama, hal tersebut bukan disebabkan alasan keterbatasan ruang tetapi karena kami memang memilih untuk saling berkenalan dan bergaul dengan kawan- kawan saudara sekandung kami.
Lalu… mengapa sebenarnya aku menuliskan ini?
Begini. Di perkotaan di Indonesiapun saat ini, ukuran rumah juga menyempit. Lahan yang makin mahal membuat rumah luas merupakan kemewahan yang tak terjangkau.
Selain itu, kini juga ada trend untuk “kembali ke tengah kota” agar para pekerja tak lagi harus menghabiskan waktu terlalu lama di jalan untuk mencapai kantor dari daerah sub-urb di pinggiran kota. Apartemen dan rumah susun dibangun sebagai solusinya.
Artinya apa?
Artinya, para remaja kita menghadapi apa yang sejak beberapa dekade lalu dihadapi oleh remaja- remaja di kota- kota besar dunia dimana tempat tinggal sangat sempit: tak ada tempat cukup lapang untuk melakukan “kegiatan pribadi” di rumah. Termasuk untuk bercengkrama dengan teman, atau sekedar bertukar cerita dengan sang kekasih hati.
Lalu, akankah kita membiarkan “konsekwensi logis” dari sempitnya tempat tinggal dimana lalu para remaja berpacaran di tempat umum dengan cara- cara yang “canggih” seperti yang selama ini telah aku saksikan di Singapore dan di beberapa kota besar lain di dunia itu terjadi di sini?
Atau, bagaimana ya kira- kira solusi untuk menghindari agar hal tersebut tak terjadi?
p.s. i love you
7 February 2010
Kesepakatan di Minggu Pagi
Minggu pagi.
DEE agak sedih.
Pagi itu dia melihat suaminya berganti pakaian, dan bersiap- siap untuk berangkat… bekerja!
Hari Minggu bekerja???
Dee duduk di tepi ranjang, memperhatikan suaminya. Dia sudah tahu sejak beberapa hari yang lalu bahwa hari Minggu ini Kuti akan harus pergi untuk bekerja itu. Kuti telah memberitahukan padanya. Tetap saja, hal itu membuatnya sedih.
“ Kenapa harus terima pekerjaan tambahan di hari Minggu, ‘yang? “ protes Dee pada sang suami.
“ Dee, “ Kuti tersenyum dan dengan sabar menjawab pertanyaan istrinya, “ Hasilnya lumayan. Bisa untuk ditabung, siap- siap untuk kelahiran si kecil… “
Dee terdiam.
Dia mengerti. Sungguh mengerti, bahwa itu dilakukan Kuti karena rasa tanggung jawabnya. Tak lama lagi, anggota keluarga mereka akan bertambah. Dan itu artinya, akan ada kebutuhan tambahan yang harus mereka tanggung.
Tapi…
Dee merasa tenggorokannya tersumbat.
Dia tak suka ini.
Dee tak memungkiri, bahwa pekerjaan- pekerjaan tambahan semacam ini memberikan penghasilan tambahan yang ‘lumayan’, seperti yang dikatakan Kuti tadi. Tetapi…
“Tapi kan nggak harus begitu, ‘yang… “ tukas Dee. “ Kita bisa saja atur- atur kembali prioritas pengeluaran kita, kan? Aku yakin tanpa kamu harus bekerja di hari liburpun kita akan dapat mencukupkan penghasilan yang ada termasuk ketika kelak adik Pradipta sudah lahir…”
Kuti memasang kancing kemejanya perlahan.
Dari luar jendela terdengar suara Pradipta bermain- main dengan kucing abu- abunya.
Ah, memang, bagaimanapun, daripada pergi bekerja, akan lebih menyenangkan untuk berada di rumah pada hari Minggu seperti ini. Merajut kebersamaan. Memelihara kedekatan dan rasa cinta.
Tak harus ada kegiatan istimewa di hari Minggu. Sekedar menikmati hari libur di rumah bersama orang- orang yang dikasihi akan sangat menghangatkan hati. Barangkali hanya duduk- duduk di beranda sambil melihat Pradipta bermain. Atau membaca buku. Atau memindahkan tanaman. Atau menguras kolam ikan…
Apapun.
Kuti mengerti dengan baik mengapa Dee keberatan dia bekerja di hari Minggu. Dia mengerti, bagi Dee, uang tak pernah dapat mengalahkan pentingnya waktu untuk dilewatkan bersama keluarga.
Walau… Kuti juga sebenarnya memang ingin menabung untuk persiapan kehadiran adik bayi.
Kuti menatap sang istri yang masih juga duduk tak bergerak di tepi ranjang.
Dan dia menyerah.
” Baiklah Dee, “ jawabnya, “ Baiklah. Ijinkan aku menyelesaikan apa yang telah aku sepakati saja, untuk mengerjakan hal ini pada hari Minggu ini dan Minggu depan. Setelah itu, aku tak lagi akan menerima tawaran bekerja di hari Minggu.”
Dee mengangguk. Dia mengerti, janji adalah janji. Dan Kuti harus bersikap profesional terhadap kesepakatan yang telah dilakukan. Tentu dia tak dapat secara mendadak membatalkan janjinya.
Baiklah, akan dia relakan suaminya bekerja di hari Minggu ini dan Minggu depan, tapi… sebisa mungkin, tak lagi itu terjadi, kecuali jika sangat-sangat-sangat terpaksa, di hari- hari Minggu selanjutnya.
Dee mendapati Kuti masih menatapnya sambil tersenyum. Dibalasnya senyum sang suami dengan setulus hati.
Kegembiraannya meluap. Dee merasakan kelegaan yang luar biasa memenuhi hatinya…
p.s. i love you
5 February 2010
Teladan dari Mr. Kerr
Keteladanan dan inspirasi
KETELADANAN bisa dipelajari dari siapa saja. Seperti yang bisa dipetik dari Mr. Kerr, sosok lugu dan bersahaja.
Aku kenal Mr. Kerr sejak kanak-kanak. Di kampung dia dikenal sebagai sosok yang lugu dan tak banyak bicara. Dalam berbagai tindak tanduk dia lebih mementingkan kerja.
Mr. Kerr punya spesialisasi di bidang pertanian. Dia biasa diajak berpartisipasi pada tahapan awal budidaya. Etos kerja yang biasa dipraktekkan Mr. Kerr adalah: Tak banyak bicara namun kerja. Dan: Biar lambat asal selamat.
Sayang, dengan berlalunya waktu, etos kerja yang diyakini Mr. Kerr dianggap sudah ketinggalan jaman. Banyak pihak yang merasa paham ‘biar lambat asal selamat’ tak lagi sesuai dengan dinamika kehidupan yang berkembang pesat. Sebagian besar masyarakat lebih menganggap etos kerja lebih cepat lebih baik ‘biar cepat namun tepat’ lebih sesuai.
Akhirnya, Mr. Kerr mulai jarang dilibatkan dalam berbagai kegiatan pertanian. Dia lebih banyak menganggur.
Karena tak tahu berbuat apa, Mr. Kerr mau saja diajak berdemonstrasi. Walau dia tak sepenuhnya memahami, Mr. Kerr enjoy aja diajak jalan-jalan (sekalian cuci mata).
Yang tak terbayangkan adalah, tampilnya Mr. Kerr dalam aksi unjuk rasa menjadi pembicaraan hangat. Pemimpin negeri merasa disindir dan keberatan disamakan dengan Mr. Kerr yang dianggap bodoh, lamban dan susah maju.
Mr. Kerr akhirnya dilarang mengikuti unjuk rasa. Padahal itu juga bukan keinginannya dan dia tak tahu apa-apa soal itu.
Mr. Kerr hanya tahu soal etos kerja. Biar lambat asal selamat. Dia tak mengerti kenapa ada pihak yang tersinggung dan sibuk bercurhat di sana sini. Padahal solusinya sederhana: kalau merasa tidak lamban, bukankah itu tinggal dibuktikan dengan kerja nyata?
Dan bukankah waktunya juga masih panjang, bukan sekedar 100 hari tapi beratus- bahkan beribu hari?
Mr. Kerr tak mengerti, kenapa ada yang sewot.
Oh ya, sebagian dari Anda mungkin bisa menebak siapa Mr. Kerr. Selang dua pekan terakhir sosoknya kerap menghiasi media massa. Juga menjadi topik posting blog. Dia menjadi inspirasi negeri. Di media massa, Mr. Kerr biasa ditulis dengan nama panjangnya. Yakni Kerr…bau (tanpa embel-embel Mr. tentu saja) Hehehehe
p.s.
Posting ini adalah partisipasi rumahkayu pada kontes yang dibikin eyang. Malas bikin posting kontes yang rada serius, jadi dibikin yang error saja, hehehe. Buat Mr. Kerr (bau)–dan pihak yang merasa terkait, aku minta maaf kalau sudah bersikap lancang. Posting ini hanya untuk bersenang-senang dan tak dimaksudkan untuk membuat huruhara menyinggung pihak tertentu….
We still ♥ you…
4 February 2010
Bidadari kecil itu…
Nama bidadari kecil itu.
AKU tersenyum membaca komentar Hes yang mengatakan bahwa Wicak menyampaikan keinginannya untuk memberi nama Salma jika mereka dikaruniai seorang anak perempuan.
Komentar Hes mengingatkanku pada suatu hari di masa lalu, ketika seorang lelaki yang aku kasihi yang ketika itu mulai membicarakan tentang rencana pernikahan kami mengatakan suatu hal padaku. Dia menanyakan padaku apakah aku akan setuju jika kelak kami menikah dan dikaruniai anak perempuan, anak itu dinamai dengan satu kata yang telah disimpan olehnya lebih dari sepuluh tahun lamanya, jauh sebelum dia mengenalku…
Kata- kata yang disimpannya tersebut sangat unik dan berasal dari bahasa yang sangat tua dan klasik.
Lelaki terkasih itu menceritakan padaku bahwa sejak lama dia bercita- cita ingin memberi nama anak perempuannya dengan jalinan kata yang berarti “wanita yang cantik budi”. Dan salah satu kata dari jalinan kata tersebut adalah kata yang sebelumnya dia tunjukkan padaku.
Kata yang konon ditemukannya ketika lebih dari sepuluh tahun sebelum itu, di awal masa dia menjadi mahasiswa, ditemukannya pada kitab Negara Kertagama yang dibacanya di Perpustakaan Nasional.
Ah, apa yang dapat kulakukan ketika seorang laki- laki yang sangat aku cintai meminta hal tersebut? Apalagi, itu berkaitan dengan hal yang telah diimpikannya begitu lama…
Aku mengangguk. Tanpa syarat.
Ya, baiklah.
Dan…
Ketika kemudian kami menikah lalu dikaruniai seorang anak perempuan sebagai anak sulung kami, nama itulah yang kami berikan pada bidadari kecil kami. Rangkaian nama yang artinya adalah “wanita yang cantik budi”, nama yang merupakan doa kami orang tuanya bagi dia, sang malaikat kecil itu…
***
Bercerita tentang kehamilan, adalah bercerita tentang masa peralihan.
Peralihan peran, peralihan sikap.
Tidak sangat sulit, tapi bukan juga hal yang mudah.
Bahkan untuk hal- hal kecil sekalipun.
Sebelum menikah, aku adalah gadis yang “tak bisa diam”. Aku bergerak ke sana ke mari. Saat mahasiswa, aku beredar di antara ruang kuliah, les bahasa, kolam renang serta lapangan- lapangan olah raga.
Saat itu, aku tergabung dalam sebuah regu olah raga di universitas. Regu kami masuk ke dalam divisi utama dan sangat diperhitungkan di setiap kejuaraan cabang olah raga tersebut. Hari- hari penuh latihan fisik dan tekhnik permainan mengisi banyak hariku ketika itu.
Ketika lulus kuliah dan mulai bekerja, aku tak juga menjadi lebih ‘manis’ ( he he!). Kesibukan kerja tak membuatku berhenti beredar di banyak tempat. Waktu- waktu sepulang kerja kembali kugunakan untuk beredar di tempat les bahasa, serta… kolam renang, dan lapangan olah raga yang beragam, karena aku saat itu memainkan beberapa cabang olah raga yang berbeda.
Kadangkala, di akhir minggu, aku menikmati hari dengan menceburkan diri ke air laut yang bening dan menikmati keindahan ikan- ikan yang berenang ketika aku snorkeling di laut- laut dangkal di seputar beberapa pulau. Pernah juga aku mencoba mendaki gunung…
Di masa- masa awal mulai bekerja itu, aku menjalin pertemanan dengan beberapa kawan baru dan ‘meracuni’ mereka, menularkan hobbyku akan suatu cabang olah raga ber-racket. Aku mengajak mereka mencoba memainkan cabang olah raga tersebut, serta kemudian mencari lapangan yang mudah dicapai dari kantor, tempat dimana kami dapat bersenang- senang melewatkan waktu memainkan cabang olah raga tersebut.
Mulai dari hanya beberapa orang, kelompok kami makin besar dan pada suatu ketika cabang tersebut menjadi cukup populer di kalangan teman sekantor dan bahkan dipertandingkan antar karyawan. Aku tentu saja mendaftarkan diri, dan… ha ha ha, pada tahun kesekian, ketika kejuaraan tersebut hendak diadakan lagi, panitianya menghubungi aku dan meminta aku untuk tidak mendaftarkan diri, dengan alasan untuk “memberi kesempatan yang lain menjadi juara. “
Aku tergelak mendengar permintaan tersebut tapi sama sekali tak berkeberatan.
Jadi, ada suatu masa dimana aku duduk saja di tepi lapangan menonton teman- teman yang bertanding. Jika adakalanya aku ‘gatal’ dan ‘gemas’ ingin turun ke lapangan, aku membujuk beberapa kawan ( biasanya kawan lelaki, bukan kawan perempuan… karena aku menghendaki permainan yang ‘seru’… he he ) dan menawarkan pada mereka untuk berlatih mempersiapkan diri untuk kejuaraan dengan bermain melawan aku. Tak boleh ikut bertanding, jadi sparring partner pun jadilah. Ha ha ha…
***
Begitulah.
Aku yang “sok atlit” semacam itu lalu menikah dan mengandung anak pertama kami.
Yang terjadi?
Oh, sebenarnya, aku menjalani hari- hari seperti biasa. Tentu saja aku juga berhati- hati dan menjaga kandunganku, walau…
Ada kalanya aku “lupa” bahwa aku bukanlah lagi seorang atlit gesit yang bisa bergerak bebas ke sana kemari. Aku lupa bahwa saat berjalan aku membawa seorang bayi di dalam perutku.
Kejadian yang kuingat sampai saat ini adalah, ketika kandunganku sudah berusia delapan setengah bulan, aku dan suamiku mengantarkan ibu dan ayah mertua yang kebetulan sedang datang menginap di rumah kami ke rumah seorang kerabat.
Turun dari mobil, untuk mencapai rumah yang dituju, kami harus menyeberangi selokan selebar kira- kira satu meter lebih sedikit.
Aku menatap selokan tersebut dan mendapati bahwa jembatan yang dapat digunakan untuk menyebrangi selokan itu terletak agak jauh dari mobil. Duh, betapa malasnya harus berjalan ke arah jembatan itu.
Lalu… kuambil keputusan, dan…
Hup.
Aku melompati selokan itu. Mendarat dengan tepat di titik yang aku perkirakan, dan kemudian setelah itu berjalan melenggang ‘tanpa dosa’.
Aku baru menyadari bahwa ada ’sesuatu yang salah’ ketika mendapati ibu mertuaku menatapku kaget. Dan ketika… beberapa hari kemudian, kakak iparku ( yang rupanya mendengar cerita tersebut dari ibu mertua) meneleponku dan mengingatkanku untuk berhati- hati, jangan suka meloncat- loncat… ‘kasihan bayinya nanti kalau ibunya terpeleset’, kakak iparku mengingatkan aku.
Aku terbahak, menyadari betapa error-nya aku dan selama beberapa minggu sampai saat melahirkan tiba, aku menahan diri untuk tidak lagi meloncati selokan manapun… ha ha.
p.s. i love you
3 February 2010
Bisakah jenis kelamin anak ditentukan?
Anak itu anugerah…
MEMILIKI anak merupakan cita-cita terbesar pasangan yang berumahtangga. Namun bisakah jenis kelamin anak ditentukan? Bisakah orang tua memilih jenis kelamin anak yang diinginkan?
Jika rumahtangga itu bermukim di dunia maya, maka jawabannya YA. Jika rumahtangga itu tinggal di dunia nyata, jawabannya TIDAK. Di dunia maya, kita bisa memilih sendiri jenis kelamin anak, kapan lahirnya, bahkan jika ingin kembar pun bisa. Di dunia nyata, ada banyak faktor dan variabel yang berperan, yang bisa menggagalkan apa yang kita inginkan.
Beberapa bulan lalu, dalam komentar di sebuah posting, ada teman yang iseng mengusulkan agar kami memberi adik buat si kecil Pradipta. Usul yang iseng-iseng ini kami tanggapi serius. Rasanya menyenangkan jika punya bayi (lagi). Dalam percakapan selanjutnya kami langsung menentukan jenis kelamin si calon bayi: perempuan. Waktu lahir, dijadwalkan tahun 2010.
Begitu masuk tahun baru, kami langsung disibukkan dengan hajatan kontes. Rencana ‘membuat’ adik kecil pun terlupakan. Ketika kami memasuki hari-hari penuh stress (karena bingung memilih pemenang dari sekumpulan tulisan berkualitas) Dee tiba-tiba bilang, dia rindu bikin posting. Dan dia ingin membuat posting tentang kehamilan. Dan muncullah posting bando putih yang oleh yuniarinukti disebut sebagai ‘kayak potongan cerpen tapi kisah nyata’. Hehehe….
***
Dalam posting yang diikutkan dalam kontes, “eyang” anjari membuat tulisan yang bagus sekali soal anak. Anjari juga mengungkap fakta (yang untuk sebagian laki-laki sebenarnya merupakan rahasia), bahwa keinginan terbesar dari seorang laki-laki (baca: suami) adalah memiliki anak laki-laki.
Anjari benar. Sejak sebelum menikah (dalam konteks ini, menikah di dunia nyata) aku selalu membayangkan punya anak laki-laki. Karena aku senang nonton sepak bola, rasanya menyenangkan jika kelak bisa bermain bola dengan si kecil di halaman rumah.
Begitu menikah, istri tidak langsung hamil. Baru sekitar enam bulan dia positif. Rupanya di bulan sebelumnya kami ’salah prosedur’. Jika istri bilang haidnya terlambat, kami mensyukuri itu dengan bermesraan. Keesokan harinya dengan wajah lesu istri bilang telah mendapat haid. Setelah kejadian itu terjadi berulang aku langsung bertanya kepada ‘om Google’. Jawabannya adalah, kemungkinan rahim istriku lemah.
Di bulan keenam, istri bilang haidnya terlambat. Kami menahan diri untuk tidak bermesraan. Dengan harap-harap cemas aku menganjurkan istri untuk memeriksa melalui alat pendeteksi kehamilan. Dan, sampai sekarang masih terbayang momen itu. Ketika istri memberikan test pack yang ada jalur merahnya. Istriku hamil!! Rasa senangku tak terlukiskan.
Kami langsung memeriksakan ke dokter kandungan, seorang dokter yang sangat cantik dan ramah (karena alasan tertentu istriku ogah diperiksa dokter kandungan laki-laki, hehehe). Dokter mengatakan rahim istri memang rada lemah. “Supaya aman, bapak harus puasa,” begitu ujar si dokter.
Aku mengangguk. Demi si buah hati, aku siap melakukan apapun. Iseng aku bertanya,” Berapa lama dok?”
Dokter menjawab diplomatis dengan menjelaskan kalau masa kritis kehamilan itu pada tiga bulan pertama.
“Jadi artinya aku harus puasa selama tiga bulan?” tanyaku kaget.
Dokter dan istriku tertawa. “Kenapa? Bapak gak kuat?”
Aku bilang,” Demi si kecil, jangankan tiga bulan, tiga hari pun aku siap!!!” Hehehehehe
***
Begitu istriku hamil, otomatis subyek doa yang kami sampaikan setiap malam sedikit berubah. Ketika belum hamil, setiap malam kami selalu berdoa agar Tuhan berkenan memberikan kehamilan. Setelah doa itu terkabul, setiap malam, secara bergantian kami berdoa semoga pertumbuhan bayi dalam kandungan berlangsung normal. Semoga bisa lahir dengan selamat dan sempurna. Dan, karena kami sejak awal menginginkan anak laki-laki, kami mendoakan hal itu secara khusus. Aku masih ingat kata demi kata yang kami ucapkan: “Tuhan, jika Engkau berkenan, kiranya Engkau memberikan kami anak laki-laki. Tapi bukan seperti kehendak kami, melainkan hanya seturut kehendak-Mu…”
Kami memang sangat mendambakan anak laki-laki. Kami melakukan berbagai aspek medis yang bisa dilakukan. Namun di atas semua itu, kami tahu bahwa menentukan jenis kelamin anak adalah otoritas Tuhan. Dan apapun yang Dia lakukan dan putuskan itu yang terbaik.
Dan doa kami dikabulkan. Anak kami laki-laki. Kami mensyukuri itu sebagai anugerah tak terhingga, hingga bayi itu kami namakan menggunakan salah satu bahasa tertua di dunia yang artinya ‘Allah memberi anugerah’.
Dan akhirnya, aku bisa mewujudkan khayalan semasa muda: bermain bola dengan si kecil di halaman rumah. Betapa bahagia melihat dia tertawa girang karena berhasil mencetak gol, sebab aku sebagai penjaga gawang jatuh pada posisi yang salah…
Aksi main bola ini sempat terhenti cukup lama ketika si kecil dengan tendangan ‘cannon ball’-nya sukses memecahkan kaca depan rumah, yang membuat istriku marah besar!!
p.s.
i ♥ youuuuu….
2 February 2010
Bando Berenda Putih
Mulanya adalah sebuah bando.
BANDO renda putih dengan beberapa bunga mungil merah muda berdaun hijau terbuat dari pita.
Dee memegang bando cantik itu.
Sekali. Dua kali.
Lagi.
Dan lagi.
Siang itu, dia berada di sebuah pusat pertokoan karena suatu keperluan. Dan secara tak sengaja dilewatinya tempat yang menjual keperluan bayi. Lalu dia melihat bando yang terbuat dari renda berwarna putih itu.
Dee menghentikan langkahnya. Menghampiri rak tempat bando tersebut berada dan menatapnya agak lama.
Dia mengamati dengan senang hati bando tersebut.
Hatinya menghangat.
Tanpa disadarinya dia tersenyum dan berkata dalam hati, jika suatu saat dia dikaruniai seorang bayi perempuan, akan dia pakaikan bando semacam itu pada anaknya.
Dee mengamati bando cantik tersebut beberapa saat lagi dan kemudian meneruskan langkah ke tempat dimana kebutuhan yang membuatnya datang ke pusat pertokoan itu berada…
***
Dua strip.
Dee menatap dua buah garis yang nyata tertera pada test pack yang ada dihadapannya.
Dua strip.
Ah, pikir Dee. Jadi… itu sebabnya akhir- akhir ini aku sering merasa agak lelah dan mengantuk.
Dee tersenyum lagi. Itu juga sebabnya dia kadang- kadang merasa agak mual dan perutnya terasa agak kembung, pikirnya.
Angan Dee melayang lagi pada bando cantik yang dilihatnya di toko beberapa hari yang lalu.
Siang itu, usai dia membeli beberapa barang yang memang dia butuhkan, Dee tak dapat menahan diri untuk tidak kembali ke tempat dimana sebelumnya dilihatnya bando berenda yang cantik itu. Dia kembali ke sana, mengambil bando itu, memegangnya beberapa saat, menimbang- nimbang dan akhirnya berjalan ke kasir dengan membawa bando tersebut. Diputuskannya untuk membeli bando tersebut.
Untuk adik Pradipta kelak, pikirnya senang. Mudah- mudahan si kecil Pradipta dikaruniai adik perempuan, harapnya dalam hati.
Ketika itu, dia belum tahu bahwa harapannya tentang keinginan memberikan seorang adik pada Pradipta ternyata akan segera terpenuhi…
***
Dee menatap kembali dua buah garis di atas karton tebal yang dipegangnya. Hatinya berdendang senang. Dan dia mengucap doa syukur pada Yang Maha Memberi.
Pradipta akan segera mendapatkan seorang adik, pikirnya dengan bahagia. Pradipta akan memiliki seorang adik…
Perlahan, Dee berjingkat keluar dari kamar mandi.
Tadi, pagi- pagi sekali dia turun dari tempat tidur. Kuti masih terlelap ketika dia berjalan perlahan menuju kamar mandi di rumah kayu untuk melakukan test itu. Dan kini, dia kembali ke kamar, dengan niat untuk memberi tahu suaminya tentang kabar gembira tersebut.
Si kecil Pradipta akan segera memiliki adik…
Dee tersenyum lagi. Hatinya masih juga mendendangkan lagu riang.
Dee membuka pintu kamar dan menghampiri Kuti di tempat tidur. Dia duduk di tepi ranjang dan menyentuh lengan suaminya lembut untuk membangunkannya.
Ah, Dee sungguh ingin tahu, bagaimana reaksi Kuti dan apa perasaan sang suami bila kabar gembira ini sudah disampaikannya nanti…
p.s. i love you
1 February 2010
And the winner is…..
Hari-hari yang menyenangkan…
20 hari terakhir merupakan masa-masa paling membahagiakan dan membanggakan untuk rumah kayu. Untuk pertama kali seumur hidup (hehe), rumahkayu dikunjungi hampir 2.000 orang setiap hari. Ya, setiap hari. Tak ada yang paling membanggakan jika ‘rumah’ kita didatangi sangat banyak pengunjung…
Kalau kemudian peserta kontes tidak sebanyak pengunjung, itu sangat kami pahami. Kontes yang kami adakan memang tidak sesederhana yang biasa digelar. Writing contest ala rumahkayu memerlukan beberapa tahap.
Pertama, (calon) peserta harus mendapatkan bukunya dengan cara membeli. Membeli buku seharusnya bukan sesuatu yang rumit. Sayang ada beberapa kendala. Pemasaran kami rupanya belum menjangkau seluruh kota di Indonesia. Atau kalau toh ada, mungkin stoknya sangat terbatas sehingga keburu habis (hehehe, harapannya sih…)
Jika tidak sempat beli, seharusnya bisa dengan meminjam. Namun karena buku kami masih tergolong baru, belum banyak pihak yang bisa diminta meminjamkan. Sebenarnya bisa saja meminta kami mengirimkan buku (gratis). Sayang saat kontes digelar stok buku kami untuk promosi sudah habis.
Jika kebetulan sempat beli bukunya, tahapan selanjutnya adalah membaca buku. Itu pun jika punya waktu, karena ternyata ada beberapa teman yang sudah punya bukunya namun belum sempat (atau masih malas) membaca bukunya.
Jika bisa ’sukses’ membaca hingga tamat, tahap berikutnya adalah mencari sub bab untuk diposting. Ini juga bukan hal yang mudah karena ke-63 bab menyajikan tema yang berbeda.
Jika sudah menemukan sub bab yang sesuai, tahap selanjutnya, yang paling sukar adalah membuat posting. Ada beberapa teman yang mentok di tahap ini, yang hanya keburu menulis satu alinea hingga waktu kontes habis (hal ini kami ketahui dari komentar mereka di blog lain, hehehe). Dan untuk beberapa teman, setelah bikin posting masih ada kendala bernuansa teknis. Banner rumahkayu tak kunjung nongol!!
(Oh ya, kami menemukan setidaknya ada tiga peserta yang, dari gaya menulisnya, kami yakin tidak pernah baca bukunya saat bikin posting, hehehe…)
***
Namun, dengan berbagai tahapan (seleksi), pada akhirnya peserta yang mengikuti kontes ini adalah mereka yang benar-benar suka dan ingin berbagi. Adalah mereka yang suka menulis dan berbagi opini. Tak berlebihan rasanya jika kami menyebut, semua tulisan yang masuk untuk kontes ini kualitasnya di atas rata-rata. Tulisan kelas satu!!
Ini bukan pujian kosong. Kami yakin, teman-teman pembaca bisa menilai sendiri. Semua peserta mengirimkan linknya di komentar. Kami yakin kita semua sepakat. Tulisan yang masuk semuanya layak menang.
Karena itu, selain senang, beberapa hari terakhir aku dan Dee mulai ‘pusing’. Ada begitu banyak tulisan yang bagus. Semuanya layak menang!!
Ada saat tertentu, ketika membaca tulisan tertentu, dalam hati kami bilang, kayaknya ini bisa (menjadi pemenang). Namun keesokan harinya muncul lagi tulisan yang sama bagusnya. Ah, kami bingung sekaligus senang.
***
Walau semua tulisan yang masuk sama bagusnya, tentu saja kami harus menentukan siapa sepuluh besar (dan kemudian 2 besar) untuk menjadi pemenang. Kalau mengikuti kata hati, kami ingin semua peserta dinyatakan sebagai pemenang. Namun itu tentu saja tidak mungkin (Lagian ngapain repot-repot bikin kontes kalau semua peserta kemudian dinyatakan sebagai pemenang? Hehehehe).
Karena itu kami melakukan seleksi secara ketat. Walau ini pengalaman pertama menjadi juri sebuah kontes, kami berusaha sedapat mungkin berlaku profesional. Kami harus berlaku adil. Dan sebagai tolok ukur, kami memilih tulisan yang (kami nilai) bagus dan inspiratif. Kami juga memberi nilai tambah kepada peserta yang mampu memberikan analisa yang memperkaya apa yang kami tulis, yang melengkapi yang tidak sempat kami singgung, baik itu sepaham maupun tidak senada dengan yang kami tulis.
Dan akhirnya, kami memutuskan untuk menentukan semua pemenang. Kepada yang menang kami ucapkan selamat, kepada yang belum, kami harap untuk tidak kecewa (dan tidak dendam pada rumahkayu, hehehe). Setidaknya, kendati belum menang namun kami harap tradisi yang kami coba bangun, yakni menyampaikan gagasan dan opini, bisa menjadi kebiasaan positif.
Kepada teman-teman peserta, kami ucapkan terima kasih atas kerjasamanya. Untuk peserta yang baru pertama kali bergabung dengan blogdetik, apalagi yang menjadikan tulisan kontes sebagai pembuka tulisan di blog, kami ucapkan selamat bergabung. Dengan memiliki blog di blogdetik Anda kini telah menjadi bagian dari dblogger. Dan kami tentunya berharap, semoga posting di blog baru itu bukan yang pertama dan terakhir. Kami bisa pastikan Anda tak akan menyesal bergabung di blogdetik, salah satu layanan internet gratis terbaik di Indonesia saat ini.
Kepada keluarga besar detik, terutama mas KW yang memfasilitasi kontes ini kami ucapkan terima kasih atas kerjasamanya, terutama atas kebijakan menampilkan banner kontes rumahkayu di semua kanal detik. Kami harap, kerjasama ini bukan yang pertama sekaligus yang terakhir, namun bisa menjadi jembatan dari hubungan persahabatan dan persaudaraan yang sangat menyenangkan.
Dan, tanpa perlu berpanjang kata (karena pengantarnya juga sudah amat panjang), inilah mereka yang menjadi pemenang Rumah Kayu Writing Contest:
Pemenang pertama, dengan hadiah sebuah digital camera dan merchandise dari blogdetik adalah tulisan berjudul “Menampik Monopoli Makna Cantik” yang dimuat di blog erirawan.
Sebuah ipod shuffle serta merchandise dari blogdetik yang merupakan hadiah kedua diberikan untuk tulisan berjudul “Tembok Pertahanan Anak Remaja “ di blog bintangtimur.
Dan berikut adalah daftar delapan buah tulisan yang memenangkan hadiah ketiga. Para penulisnya masing- masing akan mendapatkan hadiah merchandise dari blogdetik :
1. Pendidikan Anak Tugas Siapa di blog erryandriyati.blogdetik.com
2.Puisi Romantis Dalam Kamar di Rumah Kayu di blog manterakata.blogdetik.com
3. Komputer di Rumah Kayu, dimuat di blog pradna.blogdetik.com
4. Laki- laki dan Perempuan Memang Beda, dipublikasikan di blog anjari.blogdetik.com
5. Isu Gender di Rumah Kayu, yang dipublikasikan di blog suarahatiku.blogdetik.com
6. Biarkan Mereka Melakukan Kesalahan di blog inspiredthings.blogdetik.com
7. Untuk Para Wanita, ditayangkan di blog srex.blogdetik.com
8. Selingkuh a-la Ayam Goreng ( Obrolan di Rumah Kayu ) , dari blog anny.blogdetik.com
Sekali lagi, kami mengucapkan terimakasih bagi semua teman serta sahabat yang telah berpartisipasi dalam “Rumah Kayu Writing Contest” ini. Kami sungguh menghargai dan gembira atas keikutsertaan teman- teman semua.
Kami yakin bahwa teman- teman sepakat bahwa menang atau kalah tidaklah menjadi masalah dalam suatu kompetisi yang sehat, dan mudah- mudahan kontes menulis yang dilakukan oleh rumahkayu bekerja sama dengan blogdetik ini dapat digolongkan sebagai kompetisi sehat dan sportif yang akan berdampak positif bagi kita semua.
p.s. we love you all…
8 January 2010
Rumah Kayu Writing Contest
Kejutan itu…
BANYAK teman-teman yang ‘penasaran’ seperti apa kejutan yang disiapkan rumah kayu. Sebenarnya, kejutannya tidak luar biasa, yakni rumah kayu menggelar sebuah ‘iven’ bertajuk ‘Rumah Kayu Writing Contest’. Yang membuat ajang kontes ini menjadi luar biasa adalah, kesediaan pihak blogdetik untuk bekerjasama dengan kami (apalagi sebelumnya blogdetik barusan bikin kontes bareng Nadine yang… hehehe).
Bagaimana mekanisme kontesnya? Sederhana saja. Peserta kontes membuat posting yang berisi tanggapan atau opini terhadap isi salah satu sub bab/ topik yang ada dalam buku ‘Senandung Cinta dari Rumah Kayu’ yang telah beredar di pasaran.
Di Dalam buku Senandung Cinta dari Rumah Kayu ada 63 ( enam puluh tiga ) sub bab dengan beragam topik yang dapat dipilih untuk ditanggapi.
Isi opini, terserah. Bisa positif (yang mendukung pemikiran kami) namun bisa juga yang negatif (tidak sepaham dengan kami). Tidak masalah.
Posting harus dibuat di blog blogdetik. Jadi tulisan yang dimuat di blog yang bukan blogdetik tidak akan dianggap sebagai peserta. Bagi yang belum mempunyai blog blogdetik silakan klik di sini. Proses pembuatan blog sangat mudah dan cepat.
Periode kontes dimulai pada Senin tanggal 11 Januari 2010 jam 00.00 WIB dan berakhir 30 Januari 2010 jam 24.00 WIB. Artinya, tulisan yang dibuat sebelum atau sesudah periode itu tidak akan dinyatakan sebagai peserta.
Tulisan harus original dan belum pernah dipublikasikan di media manapun. Pada posting dituliskan tag Senandung Cinta dari Rumah Kayu.
Dan sebagaimana biasa, peserta diwajibkan memasang banner “Rumah Kayu Writing Contest” sebagai tanda keikutsertaan. (Klik di sini untuk mendapatkan banner)
Cara mengirimkan tulisan:
1. Peserta mempublikasikan tulisannya dalam blog masing- masing (ya iyalah, masak dipublikasi di blog orang lain? hehehe).
2. Peserta harus mengirimkan url (alamat) tulisan ke email : adminblog at detik.com dan di CC ke : rumahk4yu at gmail.com dengan subject: Rumah Kayu Writing Contest
3. Dalam email tersebut peserta mencantumkan: nama, alamat, nomor telepon dan judul tulisan/ sub bab dalam buku Senandung Cinta dari Rumah Kayu yang dijadikan bahan posting serta nomor halaman tulisan tersebut dalam buku serta url (alamat ) posting yang disertakan dalam kontes.
4. Peserta harus menuliskan komentar di posting berjudul Rumah Kayu Writing Contest di blog ini dengan menyertakan url (alamat) tulisan yang disertakan untuk kontes.
5. Dengan mengirimkan komentar dan email untuk ikut serta pada kontes ini, peserta otomatis menyatakan kalau tulisan yang dikirimkannya adalah asli karya sendiri bukan merupakan hasil plagiat.
6. Karena sub bab di buku rumahkayu lumayan banyak, peserta bisa mengirimkan lebih dari satu posting, dengan syarat bahwa satu posting hanya berisi tanggapan terhadap isi/ topik yang dibahas dalam satu judul tulisan (sub bab) dan/ atau topik di buku. Kecuali dalam hal terdapat beberapa sub bab/ topik yang merupakan serial/ rangkaian satu tulisan dengan topik tertentu dalam buku, diijinkan untuk memberikan tanggapan dalam satu buah posting. Dalam hal perkecualian ini juri akan dan berhak menggunakan judgement-nya untuk memberi ketetapan.
Kriteria penjurian:
1. Pemenang adalah blogger dengan posting terbaik dan inspiratif.
2. Banyaknya jumlah komentar di postingan peserta dapat menjadi nilai tambah yang dipertimbangkan dalam penilaian.
3. Isi artikel tidak berhubungan dengan periklanan internet, tidak mengandung unsur pornografi dan tidak mengandung SARA.
4. Keputusan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
5. Pemenang akan diumumkan di blog rumahkayu (dan mungkin juga pada ‘berita dari blog’ di blogdetik) pada tanggal 1 Februari 2010.
Hadiah
1 orang pemenang pertama akan mendapat 1 digicam plus merchandise dari blogdetik

1 orang pemenang kedua akan mendapat 1 ipod shuffle plus merchandise dari blogdetik

Delapan orang pemenang ketiga masing-masing akan mendapatkan merchandise ekslusif dari blogdetik
So, pingin ikutan? Segera simak buku ‘Senandung Cinta dari Rumah Kayu’ dan tuliskan apa opini Anda. Buku rumahkayu sudah tersedia di sejumlah toko buku terkemuka di kota-kota besar tanah air. Anda juga bisa memesan dengan sistim ‘delivery order’ pada Agromedia, telp 021-78881850, email: pemasaran.agromedia at gmail.com atau dapat pula dipesan melalui toko buku online.
p.s
i love you…
5 January 2010
Tahun Baru, Kejutan Baru….
Semarak (yang tersisa).
BERBAGAI peristiwa menyertai pergantian tahun. Berbagai kisah mungkin masih membekas. Asap kembang api masih terasa membakar. Ah, tahun baru tetap menjanjikan harapan.
Apa yang akan terjadi di tahun 2010 ini masih menjadi misteri, dan mungkin akan tetap begitu. Namun setidaknya, kita bisa berharap bahwa semuanya akan menjadi lebih baik. Karena 2010 tetap merupakan tahun rahmat Tuhan yang harus disyukuri.
Ada banyak rencana yang terlintas, khususnya bagi kami penghuni rumahkayu. Yang sudah dijadwalkan adalah memberi adik buat si kecil. Rencananya si adik bakal berjenis kelamin perempuan. (Kapan lahirnya, masih akan didiskusikan dengan sang ibu. Belum jelas juga apakah akan lahir ‘caesar’ atau normal, hehehehe…
)
Kami juga berencana, jika diijinkan Tuhan, menerbitkan buku (lagi). Ada beberapa pertimbangan. Mungkin buku kedua rumahkayu. Mungkin buku yang diangkat dari blog s3l…. Mungkin juga buku dari salah satu (atau gabungan) blogger atau dblogger… Semuanya masih dalam perencanaan, dan ada beberapa faktor yang menentukan jadi tidaknya…
Yang jelas, di bulan Januari ini rumahkayu menjanjikan kejutan. Bukan kejutan yang luar biasa sebenarnya, tapi tetap akan menjadi kejutan (yang mudah-mudahan) terasa menyenangkan. Apa persisnya kejutan itu belum akan dipapar di sini karena masih dalam perencanaan. Semoga dalam satu dua hari sudah bisa lebih terang…
Satu hal yang pasti, kami senang sekali bisa menjalin hubungan pertemanan dengan sesama blogger (atau dblogger). Kami dapat merasakan hangatnya persaudaraan dan persahabatan. Bahkan kendati 99 persen belum pernah bertemu muka, namun rasanya sudah seperti teman lama.
Kami harap, pertemanan dan persaudaraan ini akan tetap terjaga. Bahkan kalau memungkinkan, bisa ditingkatkan di tahun 2010 ini…
Semoga…
p.s
Kami mohon maaf kalau ada komentar teman-teman di postingan yang belum sempat dibalas… Semoga saja di tahun baru ini aku dan Dee akan diberi banyak waktu luang untuk makin berinteraksi dengan teman-teman…
Dan… last but not least, hari ini blog rumah kayu tepat berusia tiga belas bulan — atau, satu tahun satu bulan. Harapan kami, mudah- mudahan blog ini akan berusia panjang serta, walau sedikit, dapat memberikan inspirasi serta bermanfaat bagi sekitar…
31 December 2009
Happy New Year
New Year is neither an end nor a beginning but a going on, with all the wisdom that experience can instill in us ( Hal Borland )

Happy New Year 2010
Wishing you and your family a verry happy and prosperous new year.
We love you all !
picture taken from repairman.files.wordpress.com
27 December 2009
Luna Maya, Gossip dan Hati Nurani
Luna Maya.
NAMA yang sudah terkenal ini menjadi lebih terkenal lagi akhir- akhir ini, setelah terjadi perseteruan karena komentar yang ditulisnya melalui twitter tentang pekerja infotainment.
Aku tersenyum pagi tadi ketika membaca halaman depan sebuah harian yang mengutip komentar Luna Maya, “ Sampai- sampai orang ingin tahu baju dalam saya bagaimana. Heran deh, apa pentingnya, “
Lalu ini katanya lagi menjawab pertanyaan reporter harian tersebut tentang bagaimana rasanya jadi sorotan: Luna mendesahkan napas, “ Kadang saya merasa bukan lagi manusia, melainkan robot yang terus- terusan melayani keingintahuan publik, “ ujarnya.
Aku bukan penggemar Luna Maya, bukan pula penggemar infotainment. Tapi aku rasanya bisa mengerti apa yang Luna katakan.
Berbulan lalu, pernah kutulis sebuah tulisan berjudul “Miss No Comment, Gossip dan Infotainment “ di blog ini.
Isinya ‘gugatan’ dan pertanyaan tentang mengapa seseorang yang menolak memberi jawaban atas kehidupan pribadinya lalu ditanggapi miring oleh media? Bukankah hak seseorang untuk membuat garis tentang apa yang ingin dibaginya dan tidak ingin dibaginya kepada publik ?
Tulisan itu bukan hanya menyoroti tentang infotainment, tapi juga menyampaikan opini pribadi tentang gossip secara umum.
Ketika melakukan kilas balik tentang perjalanan membuat buku rumahkayu, aku sempat menuliskan sekilas tentang bagaimana pada suatu saat kami terpaksa berhenti berjalan karena ada badai menerpa.
Dan badai itu bernama gossip.
Dapat kubayangkan mengapa Luna Maya berang sampai pada akhirnya tiba pada batas dimana dia kehilangan kesabaran. Dia tentu menghadapi urusan gossip dan orang- orang yang mengorek- ngorek urusan pribadinya setiap saat.
Tak perlu menjadi orang seterkenal Luna Maya untuk tahu itu. Sekali dua kali saja mengalami hal tersebut, kita akan tahu bagaimana rasanya.
Aku tahu rasa itu.
Aku ingat suatu saat pernah meminta sebuah tulisan yang telah dipublikasikan untuk ditarik kembali. Aku ingat pada suatu saat harus berdiri melawan arus dalam suatu komunitas untuk mempertanyakan bagaimana gossip tak berdasar yang memecah belah dan membenturkan satu pihak dengan pihak lain dapat dimuat dalam suatu media yang seharusnya mempersatukan anggotanya.
Aku mempertanyakan sejauh mana media tersebut dapat memahami dan menghormati hak- hak pribadi seseorang.
Hasilnya?
Ada yang bersikap netral. Sangat sedikit yang mendukung. Kebanyakan bersikap antipati dan menyerang.
Ada yang mengatakan menyampaikan opini seperti itu adalah ‘berselisih dengan cara yang kekanak- kanakan’. Ada yang mengatakan bahwa kenapa pula harus pusing memikirkan gossip, sebab menurut pendapat orang tersebut, gossip seharusnya ditanggapi dengan easy going saja dan bahwa dia sendiri akan santai- santai saja jika ada yang memuat berita negatif tentang dirinya.
Ada tuduhan tentang ‘mengeksklusifkan diri’ sebab tidak bersedia digossipkan, padahal konon gossip itu tujuannya mengakrabkan.
Itu belum cukup. Sebab ada juga yang mengatakan bahwa polemik yang terjadi karena aku menyampaikan opiniku tersebut sebagai ’sampah’ yang mengotori dan juga ‘berisik’, dan dia merasa terganggu.
Oalaaah…
Aku sungguh mengelus dada ketika itu.
Gossip bisa mengakrabkan?
Lihatlah hasilnya.
Bahkan pertukaran opininya ketika itupun berujung pada pelecehan. Ketika ada yang mengatakan tak melihat apa yang dituliskan seseorang di sana sebab dia sudah menganggap orang itu tak ada.
Hmmm… patutkah kita sampai menihilkan keberadaan orang lain demi membela keberadaan gossip?
Dan bahwa menyampaikan opini itu kekanak- kanakan, sampah, atau berisik serta mengganggu? Lalu, apa namanya tulisan berisi gossip yang menjadi pemicu disampaikannya opini tersebut?
Lepas dari seberapa objektif dan murni tujuan para pemberi pendapat itu, tapi itulah yang terjadi.
Dan itu cerminan dari kita.
Kita seringkali melupakan hal yang esensial. Terfokus pada kepentingan jangka pendek. Melupakan apa asal- usul terjadinya sesuatu. Seringkali tak konsisten dalam bersikap. Menganggap kuantitas lebih penting daripada kualitas.
Kita berbondong- bondong mengatakan A ketika banyak orang dalam komunitas mengatakan A, agar kita tampak menjadi bagian dari mereka. Akankah kita tetap mengatakan itu jika pendapat kita berbeda dengan sekitar?
Tak perlu seorang Luna Maya untuk mengatakan bahwa gossip itu tak berguna. Merusak. Kita semua tahu itu. Kembalikan saja pada hati nurani, dan kita akan tahu jawabannya.
Gossip, bagi sementara orang, mungkin menyenangkan untuk dilakukan, tapi apakah bergossip itu baik atau buruk, lain cerita.
Driyarkara, seorang filsuf terkenal pernah menuliskan pendapatnya seperti ini: Manusia itu jika hendak berbuat sesuatu, dia mengerti bahwa akan berbuat; jika sedang berbuat, dia mengerti bahwa dia sedang berbuat. Sesudah berbuat, dia mengerti perbuatannya, objeknya, dan bersama- sama itu dirinya sendiri dan baik buruknya perbuatan itu.
Baik atau buruk di sini, menurut Driyarkara, tidak berarti menyenangkan atau tidak menyenangkan, menguntungkan atau merugikan.
Suatu masalah atau tindakan tidak bisa dilihat secara sepotong- sepotong.
Korupsi bisa disebut menguntungkan jika dilihat dari pandangan bahwa itu menguntungkan secara ekonomi. Bergosip, mungkin juga, klasifikasinya menyenangkan.
Tapi menguntungkan dan menyenangkan itu tak selalu berarti baik. Ada banyak hal yang menguntungkan dan menyenangkan yang klasifikasinya buruk.
Sebab apa? Sebab perbuatan itu tidak baik bagi manusia sebagai manusia.
Karena tidak baik bagi manusia, jadi tidak baik juga bagi siapapun, dimanapun, kapanpun juga.
Dan sebenarnya, pengertian tentang baik ataupun buruknya suatu perbuatan akan senantiasa disuarakan oleh nurani kita. Dikumandangkan oleh suara batin.
Manusia memang bisa membelok- belokkan hidupnya kemana saja. Manusia juga bisa mencoba memadamkan suara batinnya. Walau tak berarti suara batin itu akan hilang. Suara itu akan terus menerus muncul. Mungkin lemah, tapi ada.
Dan disitulah tantangannya. Sebagai manusia, dapatkah kita terus belajar, terus eling, mengasah diri, terus menjaga kebeningan hati?
Tak akan mudah. Dan akan sulit melakukannya dengan sempurna. Tapi itu tak berarti kita tak harus mencoba melakukannya, bukan?
Jadi, baik atau burukkah gossip itu?
Jangan tanyakan pada rumput yang bergoyang. Rumput tak akan dapat menjawab pertanyaan itu. Tapi hati kita bisa.
p.s. i love you
25 December 2009
Sinterklaas dan Bidadari
Apa persamaan antara Sinterklaas dan bidadari?
JIKA pertanyaan itu diajukan padaku, jawabnya adalah: saat kecil dulu, aku percaya keduanya ada.
Masa kecilku aku lalui dengan tinggal di suatu kompleks perumahan dimana para ayah di kompleks tersebut memiliki profesi yang sama. Kompleks itu kecil, berisi hanya sekitar belasan rumah saja. Kami, para anak kecil di kompleks tersebut saling bersahabat dan berangkat besar bersama- sama.
Kala itu, pintu- pintu rumah kami semua di kompleks tersebut biasa terbuka sepanjang hari. Rumah- rumah mungil itu tak berpagar. Kami para kanak- kanak yang hampir sebaya biasa bermain berpindah- pindah dari satu rumah ke rumah yang lain.
Lalu ketika bulan Desember tiba, di beberapa rumah dalam kompleks kecil tersebut, akan hadir pohon Natal.
Aku di masa kecilku seringkali dengan senang hati memperhatikan kelap- kelip lampu di pohon Natal di rumah tetangga kami, dan dengan mata tak berkedip memperhatikan boneka malaikat kecil yang cantik di puncak pohon.
Ada satu hal yang kuingat tentang salah seorang anak perempuan kecil tetangga kami, anak tunggal sebuah keluarga. Setiap tahun di bulan Desember selalu ada Sinterklaas datang ke rumah kawanku ini. Lengkap dengan piet hitam dan karung serta sapu lidi-nya.
Kami, semua anak di kompleks tersebut, selalu diundang datang ke rumah kawanku ini di saat Sinterklaas dan piet hitam datang ‘berkunjung’ ke sana. Dan kami selalu menerima undangan itu dengan gembira.
Saat itu bagi kami semua, Sinterklaas berarti pesta dan kegembiraan yang mengisi liburan sekolah kami di akhir tahun, tak ada hubungannya dengan apapun agama maupun keyakinan yang kami anut.
Dan oh… tak kan pernah hilang rekaman itu dari ingatanku. Tentang bagaimana gembiranya aku dari tahun ke tahun menerima hadiah dari Sinterklaas tersebut. Sinterklaas berbaju merah dengan janggut putih panjang yang entah dengan cara apa selalu saja tahu kado apa yang sangat aku inginkan saat itu.
Masih tergambar jelas dalam anganku ketika aku terlonjak senang ketika suatu saat menerima sebuah kotak pensil plastik berkunci magnet yang saat itu sedang populer. Kotak pensil berwarna pink dan bergambar seorang putri dengan gaun panjang yang indah. Tepat seperti yang kuinginkan.
Di tahun yang lain, aku menerima hadiah sebuah bungkusan besar yang ketika kubuka… ah, aku sampai kehilangan kata- kata. Isi bungkusan itu adalah sebuah boneka berambut panjang yang sudah lama hadir dalam mimpi- mimpiku. Boneka berbaterai yang dapat berjalan dan berbicara.
Kali lain aku pernah mendapatkan satu set spidol berwarna, kuterima dengan sukacita yang setara.
Setiap tahun, kala namaku dipanggil oleh Sinterklaas, dengan berdebar aku menanti pesan apa yang akan dibacakan oleh Sinterklaas itu dari tulisan yang tertempel di atas bungkusan kado itu.
Sinterklas, piet hitam, kotak pensil, boneka serta spidol berwarna itu tersimpan dalam kepala dan hatiku sebagai kenangan indah dan “keajaiban” ketika keinginan- keinginan masa kecilku terwujud dengan sempurna.
Kendati pohon natal, Sinterklaas, piet hitam, tak pernah muncul di dalam rumahku, karena keluarga kami memang tidak merayakan Natal, tetapi kegembiraan di bulan Desember itu muncul secara rutin dalam kehidupan masa kecilku di rumah- rumah yang bersebelahan dengan tempat tinggal kami.
Sinterklaas dan piet hitam itu bagiku sama ajaib dan baik hatinya dengan bidadari. Yang dulu pernah kupercayai datang ke rumahku pada malam hari untuk membantuku menjahit.
Aku duduk di bangku SD kelas dua ketika itu. Dan pada suatu malam dengan setengah mengantuk menjahit tanda regu segitiga berwarna hijau dari kain untuk disematkan di baju pramuka yang akan aku gunakan untuk latihan esok hari.
Tanda regu itu dipesankan oleh pelatih pramukaku untuk dibuat sendiri. Aku membuatnya sehari sebelum hari latihan dan tak dapat menyelesaikannya karena aku sangat mengantuk malam itu.
Walau aku ragu, ibuku menyuruhku untuk tidur saja. Dan begitulah, aku berangkat tidur dengan tanda regu yang baru separuh terjahit. Lalu ketika keesokan harinya aku tergesa- gesa bangun hendak menyelesaikannya, kutemukan tanda regu itu sudah selesai terjahit sangat rapi dan siap untuk kugunakan.
“ Ada bidadari datang ke rumah tadi malam. Dia yang menjahitkan tanda regu itu, “ begitu jawab ibundaku ketika kutanyakan bagaimana tanda regu itu dapat selesai terjahit pagi itu.
Dan…
Bertahun- tahun aku percaya dongeng tentang bidadari yang menjahitkan tanda reguku itu. Kuceritakan pada semua orang bahwa tanda regu berwarna hijau itu dijahit oleh bidadari.
Ketika itu, aku percaya bidadari itu ada, seperti juga aku percaya bahwa Sinterklas dan piet hitam yang setiap akhir tahun datang ke rumah tetangga kami itu memang mengamati semua anak yang tinggal di kompleks kami sepanjang tahun dan memperhatikan apakah kami bersikap baik dan rajin belajar sehingga di akhir tahun berhak menerima sebuah kado yang diidamkan atau tidak.
Kenangan yang sangat indah.
Keindahannya tak pernah berkurang bahkan ketika kelak di kemudian hari aku tahu bahwa bidadari yang menjahit tanda reguku adalah ibundaku tercinta. Bahwa kado- kado yang kuterima setiap bulan Desember dulu itu disiapkan oleh orang tuaku – dan karena itulah pesan- pesan yang tertempel di bungkusnya selalu mengena di hati serta isinya merupakan barang- barang yang memang sangat kuinginkan ketika itu.
Ah… masa kecil memang selalu sangat indah untuk dikenang, ya?
p.s. i love you
22 December 2009
Christmas Greetings
Natal. Dan cinta.
PAGI tadi, saat menaiki lift di gedung kantorku aku membaca running text di layar yang tertempel di dinding lift.
Tulisan yang terbaca olehku berbunyi: Christmas is not about a christmas tree, not about a present, not about a party. It’s about love. Share your love with others.
Ah… walau aku tidak merayakan natal, tapi tulisan tersebut menyentuh hatiku.
Christmas is about love. Aku percaya itu.
Sebab begitulah juga perasaan yang timbul di hatiku ketika bulan Ramadhan tiba, ketika Idul Fitri menjelang. Ramadhan, Idul Fitri, semua adalah tentang cinta. Cinta kita pada Yang Maha Kuasa di atas sana, cinta kita pada keluarga dan orang- orang terkasih serta semua di sekitar kita.
Dan aku selalu percaya bahwa ada banyak hal yang universal di dunia, yang tak terbatasi oleh perbedaan keyakinan. Aku yakin bahwa banyak teman yang merayakan Natal juga setuju dengan ungkapan yang aku baca di dalam lift pagi ini, atau apa yang dikatakan oleh Charles Dickens ( A Christmas Carol ) : But I am sure that I have always thought of Christmas time, when it has come round… as a good time; a kind, forgiving, charitable, pleasant time; the only time I know of, in the long calendar of the year, when men and women seem by one consent to open their shut-up hearts freely.
Selamat Hari Natal bagi kawan- kawan yang merayakan Natal. Semoga hari Natal yang segera datang menjelang akan membawa rasa cinta dan bahagia yang berlimpah serta damai di hati bagi kawan- kawan dan keluarga.
Salam dari kami semua di rumahkayu.
p.s. i love you
15 December 2009
Kenapa Blog Susah Di-update?
Tentang kesempatan. Dan waktu
AKU tersenyum membaca komentar Mou pada posting satu tahun blog rumahkayu. Mou, sambil meminjam ungkapan blogger terkemuka ndorokakung, mengatakan ada tiga unsur penting untuk ngeblog: niat, hasrat dan disiplin. Mou juga mengaku hanya punya dua unsur, minus disiplin
Pernyataan Mou menarik karena dia jujur. Posting terakhirnya dibuat 30 November 2009, atau hampir 2 pekan lalu, dan sampai saat ini belum jelas kapan dia posting lagi.
Mou tidak sendiri. Ada banyak blog bagus di blogdetik yang sayangnya jarang diupdate.
Ela, misalnya, harus menunggu momen perpisahan dengan Julie untuk kembali posting. Sebelumnya Ela mentok pada posting tentang Sumpah Pemuda, sehingga aku sempat berpikir jangan-jangan Ela nanti baru posting lagi pas peringatan Sumpah Pemuda tahun 2010, hehe…
Blog favorit rumahkayu lainnya, suamimalas, posting terakhir dibuat 7 Desember, setelah sebelumnya membuat posting tentang bisnis online pada 16 November. Rupanya Reza lebih suka posting di blog berdomain sendiri. Bahkan jika berkomentar di beberapa blog di blogdetik pun Reza tidak lagi mengaku sebagai suamimalas melainkan ‘bukan facebook’
Tentu Ela dan Reza tidak sendiri. Banyak juga blogger lain yang tak lagi mengupdate blognya. Aku contohnya. Aku sekarang tak pernah lagi mengupdate satu blog di blogdetik (bukan yang s3l, tapi yang satunya lagi) karena memang tak punya waktu.
Kesibukan kerja menjadi alasan utama. Kalau toh punya waktu, aku lebih suka posting di rumahkayu, atau posting di blog berdomain sendiri…
Tapi, kesibukan seharusnya tidak menjadi alasan untuk tidak ngeblog, karena sebenarnya bisa disiasati.
Dee melakukannya dengan bagus. Jika punya waktu luang, dia bisa membuat tiga posting sekaligus dan kemudian mengatur waktu publish. Jadi posting tidak harus langsung dipublikasikan, tapi waktunya bisa diset. Dan pengalaman Dee, timing publikasi selalu sesuai dengan saat diatur…
Jadi intinya pengaturan waktu. Dan tentunya kejelian melihat momen. Seperti Ela, yang langsung bergairah membuat posting lagi.
Aku juga sedang menunggu Reza punya ide menarik lain untuk diposting, karena aku banyak mendapat hal baru saat membaca blog suamimalas. Misalnya aku tahu soal copyscape, archive.org dan kelahiran kembali astaga.com setelah membaca blog itu…
p.s
Posting ini dibuat untuk memotivasi diri agar aku posting lagi di blog yang satunya lagi…hehehe…
14 December 2009
Mengapa Rayuan Gombal (Masih Juga Bisa) Berhasil (2) ?
Suara gelak tawa terdengar.
EMPAT anak lelaki, dua diantaranya berseragam karate dengan sabuk kuning tampak riuh mengobrol dan tertawa- tawa sambil menikmati semangkuk es krim.
Di meja yang sama dengan mereka, duduk Dee dan Kuti dengan es krimnya masing- masing.
“ Jadi Dee, “ Kuti berkata pada sang istri, “ Menurutmu seharusnya Shinta tak menelepon Rudi? “
“ Tidak dalam situasi seperti itu, “ jawab Dee.
“ Aku tidak mengatakan bahwa perempuan tidak pernah boleh menghubungi laki- laki yang menarik hatinya lebih dulu, ‘yang “ jawab Dee. “ Tapi dia harus lihat- lihat situasi. Dan caranyapun mesti halus sekali. Apa yang Shinta lakukan menjadi tak pada tempatnya karena jelas Rudi tidak tertarik pada dia. Belum lagi, dia terlalu memaksa. Tindakan semacam itu, alih- alih membuat lelaki tertarik, aku rasa akan membuat banyak lelaki ‘ngeri’ dan menarik diri… “
“ Aku koq cenderung setuju dengan komentar mas Srex ya… “ kata Dee para Kuti. “ Mas Srex memberikan analisanya bahwa pada banyak kasus perempuan yang melakukan hal tersebut berada pada situasi yang tidak menguntungkan. Berada di persimpangan jalan, menurut istilah mas Srex. Atau dalam posisi inferior terhadap lelaki. Seperti yang aku katakan tadi, Shinta tampak begitu desperate… “
Kuti membiarkan Dee berbicara tanpa menyela. Dia memang ingin tahu apa pendapat istrinya tentang itu.
“ Begini ‘yang, “ kata Dee, “ Seperti juga ‘sudah dari sananya’ perempuan senang mendengar kata- kata manis, sudah dari sananya pula laki- laki itu dilahirkan dengan sifat dasar sebagai pemburu, senang berkompetisi, dan ingin memiliki kendali dalam hidupnya. “
Kuti menyuapkan sesendok es krim ke dalam mulutnya. Begitu pula Dee.
Setelah menelan suapan es krim itu, Dee kembali berkata, “ Mengerti tentang hal itu, maka akan lebih baik jika pada tahap- tahap awal, perempuan membiarkan lelaki yang melakukan inisiatif pendekatan. Tentu saja… “ Dee tersenyum, “ Perempuan itu juga harus memberikan sinyal positif. Tak perlu agresif. Sekedar senyuman serta sikap bersahabat sudah cukup untuk membuat lelaki melangkah mendekati, jika lelaki itu memang tertarik padanya. Sikap menahan diri ini akan menghindarkannya dari ‘mempermalukan diri sendiri’ dan terjebak dalam rayuan gombal seperti Shinta… “
“ Sikap Shinta itu, “ komentar Dee lagi, “ Tampak dari luar seperti sikap orang yang sangat percaya diri, tapi ada kemungkinan sikap seperti itu muncul sebagai kamuflase untuk menutupi rasa tak percaya dirinya… “
“ Begini ‘yang, “ kata Dee. “ Jika hubungan sudah berlanjut, ketika sudah jelas ketertarikan ada pada kedua belah pihak, tak apa perempuan sekali- sekali mengambil inisiatif atau menunjukkan perhatian yang nyata. Tapi di awal masa perkenalan, tetap saja menurutku lebih baik menahan diri… Bagaimanapun, perempuan tetap harus bisa menjaga dirinya agar tak terperdaya dengan menyeimbangkan antara rasa dan rasio. Disamping itu… “
Dee menyuapkan lagi sesendok es krim ke dalam mulutnya dan menikmati bagaimana es krim itu lumer dengan lembut di dalam mulutnya…
“ Aku selalu percaya, bahwa bagaimanapun kita tak pernah dapat memaksakan terjadinya hubungan pertemanan, persahabatan, atau percintaan. Tak ada gunanya. Hubungan yang sehat harus terjadi secara sukarela dari kedua belah pihak. Pemaksaan dari suatu pihak kemungkinan besar akan berujung pada peristiwa tak enak, “ kata Dee.
“ Begitu, ya? “ komentar Kuti.
“ Menurutku begitu, “ jawab Dee.
“ Dan omong- omong, ‘yang… “ Dee melanjutkan bicaranya, “ Peristiwa seperti yang terjadi pada Shinta bukan hanya terjadi di dunia nyata. Bahkan di dunia mayapun itu bisa terjadi… “
Eh?!
Kuti menatap Dee dengan pandangan bertanya.
Dee mengangguk. “ Ya. Kamu ingat Dania kan? Temanku di kantor lama? Dania memiliki seorang saudara kembar laki- laki yang bernama Dana… “
“ Lalu? “ tanya Kuti.
“ Dana yang memang berpembawaan menyenangkan itu memiliki sebuah blog yang cukup populer. Dan banyak pembaca blognya adalah perempuan yang kemudian… “
Hmmm… Kuti dengan mudah menebak kelanjutan ceritanya.
“ Yang kemudian mengejar- ngejar Dana? Menginginkan hubungan lebih dekat, memintanya untuk bertemu? “
Dee mengangguk membenarkan.
“ Ya, itu yang terjadi. Dana yang pada saat itu sedang mempersiapkan pernikahannya enggan memenuhi permintaan tersebut. Tapi beberapa diantara para perempuan itu tetap memaksa. Salah satu diantaranya yang bernama Yanti juga seperti itu, mencoba berbagai cara untuk memaksanya bertemu. Ketika Dana tetap tak bersedia melakukan itu, Yanti marah dan mengirimkan email yang berisi kata- kata kasar. Mengata- ngatainya pengecut karena tak mau menemuinya. Lalu…”
Dee terdiam sejenak. Dia teringat bagaimana kesalnya Dania ketika menceritakan padanya apa yang terjadi pada saudara kembarnya.
“ Lalu ketika Dana tak juga bergeming, Yanti mengatakan dalam suratnya pada Dana bahwa dia, Yanti, tak akan rugi jika tak bertemu Dana, sebab selama ini Yanti toh tak pernah menganggapnya sebagai teman. Bagi Yanti, Dana hanyalah sebuah… blog! “
Astaga. Kuti tercengang.
Dee mengangkat bahu. “ Begitulah ‘yang. Lucu ya? Jika Dana itu hanya sebuah blog, bukan orang, bukan teman, lalu, mengapa Yanti memaksa ingin bertemu dengannya? “
Kuti tertawa.
“ Lebih lucu lagi, “ kata Dee lagi, “ Menurut Dania, walau sudah mengirimkan email semacam itu pada Dana, juga pernah mengatakan bahwa dia akan menganggap Dana itu tidak ada, di beberapa diskusi on line tanpa rikuh atau malu Yanti tetap menyebut Dana sebagai ‘sahabatku’. Tampaknya dia sebenarnya tetap tak ingin kehilangan peluang untuk mendekati Dana…“
Kuti menggeleng- gelengkan kepalanya.
“ Aku rasa, “ komentar Kuti, “ Jika pada suatu saat Dana memancingnya dengan mengatakan ingin bertemu — walau itu sekedar iseng sekalipun — Yanti akan dengan serta merta menyambutnya dengan senang hati ya? “
“ Hmmm… entah ya, “ Dee tertawa, “ Nanti kalau aku kebetulan ketemu Dania, akan aku tanyakan apa Dana pernah mencoba hal tersebut dan apakah hasilnya seperti dugaanmu… “
Kuti tertawa kembali. Ah, ada- ada saja…
p.s. i love you

