Suasana hening terdengar di sekitar rumahkayu. Malam telah menjelang.
Dee dan Kuti tengah berbaring di tempat tidur di kamar mereka. Si kecil Pradipta sudah terlelap sejak tadi.
Dee menelusupkan kepalanya ke dada suaminya, sementara sang suami memeluk dan mengelus-elusnya dengan sayang.
Dee, sambil masih mengelus istrinya Kuti membuka percakapan, Tentang tulisan kamu itu
Mmm jawab Dee, yang mana ?
Tentang segala perbedaan antara laki- laki dan perempuan itu, jawab Kuti.
Oh itu, pikir Dee. Ya. Kenapa dengan tulisan itu ? tanya sang istri.
Aku sedang berpikir- pikir, jawab Kuti, Secara ilmiah telah diketemukan fakta bahwa ada perbedaan mendasar antara laki- laki, sementara kita juga tahu bahwa ada gerakan yang menginginkan persamaan hak diberikan antara perempuan dan laki- laki.
Dan sampai batas tertentu, aku juga menyetujui tentang gerakan emansipasi tersebut
Dee mendengarkan suaminya bicara. Dia belum menjawab ketika terdengar kembali suara Kuti.
Akhirnya aku sampai pada kesimpulan kita memang harus memisahkan fakta bahwa secara biologis, genetis, fisik, hormonal, seksualitas dan semacamnya perempuan berbeda dengan laki- laki, tetapi pada dasarnya sebagai manusia, perempuan juga memiliki hak yang sama dengan laki- laki untuk menjadi manusia seutuhnya, untuk berkembang, untuk maju, dan berkarya dan di sinilah titik berat tujuan emansipasi perempuan. Di sini pulalah sebagian dari gerakan feminisme berfokus.
Dee tersenyum. Dia menggeser tubuhnya agar dapat ditatapnya suaminya. Dan Dee merasakan rasa cinta itu mengalir deras.
Ah, pikir Dee, betapa beruntungnya dia bahwa dia menikah dengan seorang laki- laki yang dapat mengendalikan egonya demi memberikan ruang gerak yang cukup luas bagi istrinya. Bukan sekedar tentang emansipasi, tetapi dalam banyak hal, Kuti selangkah lebih maju dalam menghargai hak- hak perempuan.
Dee teringat pada kejadian di saat- saat awal pernikahan mereka. Seperti layaknya pasangan yang baru menikah, saat itu Dee bertanya pada Kuti, berapa anak yang diinginkannya hadir dalam pernikahan mereka. Dan Dee ingat betul bahwa Kuti tersenyum menjawab pertanyaan Dee dan dengan tenang menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang saat itu sungguh mencengangkan Dee.
Atas pertanyaan yang diajukan istrinya, Kuti menjawab begini, Dee, tentang jumlah anak, bukan aku yang berhak menjawab, tapi kamu. Berapa jumlah anak itu akan sangat terkait dengan seberapa kekuatan perempuan untuk hamil dan melahirkan. Maka, dalam pernikahan kita ini, kamulah yang berhak menjawab pertanyaan itu. Berapa anak yang kamu inginkan? Berapa kali kamu sanggup hamil dan melahirkan ?
Walaupun Dee tahu sejak sebelum mereka menikah bahwa Kuti berpandangan luas dengan visi yang jauh ke depan, sejujurnya Dee tetap agak terkejut dengan jawaban yang diberikan suaminya. Bagaimanapun, dia tahu, itu bukan jawaban yang umum diberikan lelaki saat ditanya seperti itu oleh istri atau calon istrinya.
Dan Dee makin meyakini bahwa dia telah menikahi lelaki luar biasa saat hanya berselang beberapa hari dari percakapan mereka tersebut, Dee membaca sebuah artikel di koran. Artikel tersebut menuliskan tentang suatu gerakan yang memperjuangkan tentang hak reproduksi perempuan. Inti gerakan tersebut adalah untuk memberikan hak bagi perempuan agar dapat memutuskan berapa kali dia sanggup hamil, berapa kali dia sanggup melahirkan. Karena pada intinya hamil dan melahirkan dialami oleh perempuan, bukan lelaki. Dan karenanya perempuan seharusnya berhak memutuskan seberapa siap dan kuat dia menghadapi proses tersebut, dan pada ujungnya, perempuan harus diberi hak untuk memutuskan berapa kali dia bersedia hamil dan melahirkan.
Ah, pikir Dee saat itu. Seandainya saja semua suami berpikiran dan berwawasan luas seperti suaminya, maka gerakan semacam itu tak perlu lagi ada. Jika semua suami memiliki faham bahwa sebagai manusia, istrinya tetap merupakan individu yang utuh dan berhak mengembangkan diri dan membuat keputusan atas hal- hal yang menyangkut dirinya sendiri, barangkali jumlah gerakan- gerakan dan kampanye- kampanye yang tema utamanya adalah memberikan berbagai hak pada perempuan akan sangat jauh berkurang jumlahnya, karena tak perlu lagi ada gerakan semacam itu jika semua suami mengerti dan memahami tentang hak- hak tersebut…
p.s. i love you







setuju Dee…seandainya para suami memiliki wawasan luas spt Kuti, psti lah banyak kehidupan RT yg romantis
Betul banget, lelaki yang baik, akan selalu menyertakan pasangannya dalam mengambil keputusan…. ‘hak prerogatif perempuan’ untuk hamil dan melahirkan, rasanya memang pantas didengarkan. Jadi buat Kuti, salut!
Pertanyaan sederhana yang diajukan pada Dee, nilainya dalam banget, penuh cinta, kasih sayang dan penghargaan