Suatu hari di rumahkayu.
DEE dan Kuti sedang membereskan dokumen- dokumen dan buku- buku milik mereka. Pradipta, seperti biasa, berlarian berkeliling rumah dan halaman ditemani kucing abu- abunya.
Dee memilah- milah dan menyisihkan kertas- kertas yang dipegangnya. Sebagian perlu dibuang. Sebagian lagi dipilah dan dimasukkannya ke dalam map untuk disimpan.
Selembar kertas yang kemudian diketemukannya membuatnya tertegun.
Naskah lama. Sebuah cerpen yang dibuat oleh seorang kawan baik.
Dee sejak dulu berkawan dengan beberapa orang teman yang pandai menulis. Dan kawan- kawannya yang tulisannya sering dimuat di koran- koran maupun majalah sering berbaik hati memberikan satu copy tulisan mereka pada Dee bahkan sebelum tulisan tersebut dimuat di media cetak. Hal yang selalu menyenangkan hati Dee dan diterimanya sebagai suatu kehormatan.
Lembaran kertas yang dipegangnya adalah salah satunya. Copy naskah yang diberikan kawan baiknya pada suatu saat kepadanya.
Dee tercenung.
Itu sebuah cerpen.
Bukan cerpennya, walau cerpen itu indah, yang membuatnya terdiam. Tapi
Dee ingat ketika dia pertama kali membaca cerpen tersebut. Kala itu dia tercengang dan terdiam seperti saat ini.
Kawan- kawannya yang sering menulis cerpen bukan satu dua kali meminjam nama Dee untuk mereka gunakan dalam tulisan- tulisan mereka. Jadi, jika hal itu terjadi, itu bukan lagi hal yang terlalu baru bagi Dee. Tapi kali ini
Dee ingat kala itu dia bertanya pada kawannya yang menulis cerpen tersebut, Pernahkan aku katakan padamu tentang ini? Seingatku, belum pernah
Kawannya, tak mengerti apa yang dikatakan Dee bertanya, Pernah apa ?
Pernah aku ceritakan tentang ini kata Dee lagi, sambil menatap sang kawan.
Kawannya tertawa. Kau menceritakan banyak hal padaku, Dee, jadi mungkin kau pernah ceritakan itu padaku walau kawannya tertawa lagi, kali ini aku tak tahu cerita yang mana yang sedang kau tanyakan…
Dee turut tertawa.
Ini jawab Dee kemudian. Kau bilang, kau menuliskan cerpen ini untukku
Itu betul, jawab sang kawan, Kenapa kau tampak begitu heran? Ini bukan kali pertama aku menuliskan puisi atau cerpen untukmu kan ?
Memang bukan, pikir Dee. Memang bukan. Tapi
Dee melihat lagi naskah yang dipegangnya. Dia sungguh tak mengerti. Tokoh- tokoh dalam tulisan itu menggunakan nama- nama yang
Tahukah kau, katanya pelan pada sang kawan, Nama tokoh- tokoh dalam tulisanmu kali ini adalah nama- nama yang kusimpan sejak lama nama- nama yang aku cita- citakan akan kugunakan sebagai nama anak- anakku kelak
Tanpa menunggu jawab, Dee meneruskan kalimatnya, Seingatku, aku belum pernah mengatakan itu padamu
Kawannya tercengang sejenak. Setelah itu dia menggeleng. Tidak Dee, yang itu, belum pernah kau katakan padaku
*****
Dee menghela nafas panjang ketika dia teringat kejadian tersebut.
Dia teringat saat itu dia bertanya- tanya, apakah benar telepati itu ada? Bagaimana menjelaskan hal itu secara ilmiah? Dan mengapa hal itu terjadi dalam hubungannya dengan orang- orang tertentu, tapi tidak dengan yang lain?
Sudah beberapa kali Dee berniat mencari referensi tentang hal tersebut, tapi entah mengapa selalu saja terlupa.
Kali ini akan kucari penjelasan tentang itu, coba nanti aku lihat di buku- buku psikologi yang aku miliki, pikir Dee. Sepanjang ingatannya, selain menuliskan tentang mimpi, Freud juga pernah menuliskan sesuatu tentang telepati ini.
Dee melirik sejenak ke arah dimana Kuti duduk memilah- milah buku. Seingatnya di rak sebelah sanalah beberapa buku psikologi miliknya disimpan. Mudah- mudahan dapat diketemukan penjelasan tentang hal itu.
Selama beberapa saat Dee menatap suaminya yang tampak asyik mengelompokkan buku- buku menjadi beberapa kelompok.
Kuti bekerja tanpa tergesa. Dia melihat judul buku, kadang- kadang membuka buku- buku tersebut dan membaca beberapa halaman di dalamnya, baru menaruhnya dalam kelompok- kelompok tertentu.
Setelah beberapa waktu memperhatikan suaminya memilah buku, Dee berpaling dan meraih beberapa lembar kertas yang hendak dipilahnya lagi, namun gerakannya terhenti ketika didengarnya suara Kuti memanggilnya.
Dee kata Kuti.
Dee menoleh.
Lihatlah ini, aku temukan buku psikologi yang membahas tentang telepati. Barangkali bisa menjawab keingintahuanmu. Kamu kan beberapa kali mengatakan padaku ingin mencari referensi tentang hal ini tapi belum sempat terdengar suara Kuti.
Dee tercengang menatap Kuti yang sedang menyodorkan buku psikologi yang tadi bermaksud dicarinya.
Ya ampun telepati lagi ???
p.s. i love you







Seingatku, aku belum pernah mengatakan itu padamu
(hehehe… salam kenal…yg aku sampaikan pada mu)
salam kenal juga ( lewat telepati, apa telepon?
) d.~
berarti soulmate deh Dee dengan Kuti kalo punya telepati
PS:aku dan lunamaya nggak soulmate deh karena aku pake simpati!
si kecil: kalo punya telepatinya sama banyak orang apa namanya, oom?
‘dee: ( aduh gawat… ) ciiilllll… dipta… sini bunda aja yang nerangin… oom itu lagi sibuk, jangan digangguin ( padahal dalam hati dee berpikir… duh, si oom ini emang ngakunya sih sudah resign, tapi kalo dia yang jawab, jangan2 ilmunya diturunkan pada si kecil… ba-ha-ya nanti… ha ha ha ha ha
) d.~
Angan yang saling mengait…
Saya suka judul itu. Sebuah judul yang saya pikirkan, tapi tidak bisa saya tuliskan…hehehe, telepati juga kali ya?
bisa jadi…
d.~
jiwa2 yang kembar memang tidak memerlukan kata2 untuk saling mengerti…
karena hatinya sudah saling mengerti
d.~
Boleh terusin komentar lagi kan
…
Selama ini saya juga sering takjub dengan berbagai ‘kebetulan’ dalam banyak peristiwa. Dalam hati baru berniat, eh, orang dekat sudah melaksanakan. Kadang-kadang punya keinginan merubah sesuatu, ternyata suami juga punya ide yang sama, bahkan dia dulu yang mencetuskan ide tersebut.
Saya nggak pernah baca buku khusus mengenai banyak peristiwa ‘kebetulan’ ini. Mungkin benar yang ditulis rumahkayu, bahwa telepati itu ada. Orang yang memiliki kedekatan hati dan emosi serta mempunyai kesamaan nilai-nilai hidup, akan lebih mudah untuk berinteraksi dengan telepati.
Atau mungkin dalam istilah Hercule Poirot, ’sel-sel kelabu’ yang saling berhubungan sehingga memiliki kesamaan pemikiran
Hahaha, teori yang ngawur ini, jelas tidak bisa dipercaya…tapi untuk telepati, saya yakin memang ada dan bisa dilakukan
tampaknya telepati bisa terjadi pada orang- orang yang satu frekwensi ya? d.~
.. saya setuju dan sering mengalami hal yang sama dengan apa yang dikatakan mba bintangtimur
kedekatan emosi terkadang mendekatkan alam pikiran secara tak sadar antara dua orang (walau teorinya sama sekali tak tahu :p ). kalau bisa dikembangkan menarik juga nih jadi saya ngga perlu sms kalo mau titip beliin susu untuk anak2. tinggal telepati saja hehe ..
kalo lagi ikutan undian berhadiah juga bisa telepati sama yang ngambil nomornya biar kita menang, ha ha ha
d.~
telepati? gak ngerti…gak ngerti….
eh… bingung ngga? kalo bingung… pegangan…
d.~
se7… kedekatan hati / emosi sering menciptakan ‘kebetulan2′ yg mungkin bkn kebetulan. Aq bbrp kali mengalami, dg sahabat / kelg , jd aq percaya itu meski aq smskli tak pernah bljr tlepati, hehe…
kalo belajar nanti bisa jadi asistennya roti caramel dong deera…
d.~