Langit senja memerah di sekitar rumah kayu.
DEE, ibunda mas serta mamanya abang sedang mengobrol tentang anak- anak.
Ibunda mas menceritakan tentang apa yang dia katakan pada mas ketika mendapati mas dan kawan sekelasnya yang bernama Galih saling bersaing mendekali Anggia, kawan sekelas mereka juga.
Sebenarnya, kata ibunda mas, Malam itu ketika aku mengobrol dengan mas, melihat pandangan matanya, aku tahu bahwa mas masih belum mengerti apa yang dia lakukan. Tapi, aku tetap ingin membereskan hal itu. Aku ingin menghindari kejadian dimana aku pikir dia tak mengerti, padahal dia mengerti
Aku peluk- peluk mas lalu aku katakan padanya, cerita ibunda mas, bahwa Anggia itu perempuan. Dia memang masih kecil, tapi bagaimanapun dia perempuan, dan dia punya perasaan
Aku katakan padanya, kata ibunda mas lagi, Bayangkan mas, mas kan mendekati Anggia hanya karena mau menyaingi Galih, sebab mas didorong- dorong untuk melakukan itu oleh kawan- kawan lain. Tapi, Anggia sendiri kan tidak tahu bahwa mas mendekati dia dengan niatan jahil pada Galih. Lalu, bagaimana jika karena mas mendekatinya, lalu Anggia senangnya pada mas, bukan pada Galih? Padahal, mas mendekati dia bukan karena mas benar- benar naksir Anggia, tapi semata- mata iseng untuk menyaingi Galih itu
Hmmm
Dee dan mamanya abang terdiam. Benar juga apa yang dikatakan ibunda mas ini. Itu dapat terjadi. Dan sebagai perempuan, mereka mengerti apa artinya itu
Bagaimana reaksi mas ketika itu? tanya Dee.
Dia diam saja, tak menjawab, jawab ibundanya, Tapi aku tahu dia mendengarkan. Aku katakan padanya : mas, tolong stop main- main ya? Dan tolong ingat satu hal ini, ibu titip, sampai besar nanti, tolong jangan pernah jangan pernah ya, mas memberikan tanda yang salah pada perempuan. Kalau mas ingin berteman, bertemanlah dengan cara yang wajar. Jika mas pikir dia istimewa, mas boleh tunjukkan perasaan dan penghargaan padanya. Tapi, jangan sekali-kali melakukannya karena iseng. Jangan pernah berikan tanda yang salah. Karena, ada kemungkinan dia betul- betul menyukai mas dan dia bisa sakit hati karenanya. Kasian dia nanti
Dan bagaimana akhirnya kelanjutan cerita itu? tanya Dee ingin tahu.
Esoknya, dan esoknya, dan esoknya lagi sampai hari ini, tak aku dapati lagi mas melanjutkan pendekatannya pada Anggia. Dia juga tampak bersikap seperti sebelumnya. Sehari- hari main sepeda, kadang- kadang main bulutangkis. Dia kembali menjadi anak lelaki yang masih polos
Aku sungguh tak tahu, lanjut ibunda mas, Apakah dia betul- betul mengerti apa yang aku katakan saat itu atau tidak. Tapi aku pikir sebaiknya aku tidak mengabaikan hal itu. Bagaimanapun, walau saat ini tampak tak mengerti, aku yakin bahwa apa yang aku katakan padanya akan tertekam pada ingatannya, akan berpengaruh pada langkahnya
Ibunda mas terdiam sejenak.
Tak lama kemudian terdengar lagi suaranya, Aku ingin dia tumbuh menjadi laki- laki yang baik dan menghargai perempuan dengan sepatutnya
p.s. i love you







Bener banget, laki-laki yg menghargai perempuan dg sepantasnya, itu pendidikan budi pekerti yg berawal dari keluarga.
Laki-laki yg bisa menghargai perempuan, adalah laki-laki yang pantas dihargai oleh semua orang
Eh, nanti kalo ada cerita baru ttg mas atau Dipta dg temen perempuannya, dibagi lagi yaaa…lucu sih!
iyaaa tante… nanti kapan2 aku nulis cerita lagi… salaaammm… ~ si kecil.
betul sekali… penanaman ide-ide seperti ini sebaiknya dilakukan pada saat anak-anak. Walaupun mereka mungkin tidak begitu mengerti, ide-ide ini akan terbawa sampai mereka dewasa…
Untuk itulah kita sebagai orang tua harus sangat berhati-hati dalam tindakan dan kata-kata dihadapan anak-anak mereka. Bagaimanapun, orang tua adalah “role-model” buat anak-anak mereka dan itu akan membekas dalam ingatan anak-anak
sepakat… banyak langkah dalam hidup terbawa dari pelajaran dasar yang didapat di rumah… d.~
wiie………….kerennnnnnnnnnnn