Petang hari yang cerah
SAMBIL menunggu saat berbuka, Dee dan Kuti menyempatkan diri menata kembang dan sejumlah tanaman hias yang ditanam di pekarangan. Salah satu kegemaran Dee adalah menanam bunga (selain berburu tanaman hias terutama yang murah meriah), dan setidaknya seminggu dua kali dia dan Kuti menyediakan waktu untuk melakukan ‘pembenahan’.
Dee mencabut rumput liar yang ‘nyasar’ di pot atau tumbuh di dekat tanaman. Sejumlah tanaman hias memang ditanam di wadah beragam. Sebagian di pot keramik, sebagian di tanah, sebagian lagi ditanam pada wadah yang dimodifikasi seperti sepatu boot rusak. Sementara Kuti memilih memangkas tanaman bonsai dengan gunting pangkas.
“Eh ‘yang,” kata Dee tiba-tiba. “Aku baru saja terpikir. Kayaknya ngeblog itu seperti menanam bunga ya?”
Kuti menoleh dan tersenyum. Dia tidak merasa heran jika tiba-tiba istrinya yang cantik ini mengeluarkan ide unik. Seperti kali ini, menghubungkan ngeblog dengan menanam bunga.
“Maksudku gini,” terang Dee. “Bunga atau tanaman hias itu supaya bisa tumbuh, dia perlu wadah, perlu tanah dan sinar matahari. Nah ngeblog juga begitu kan? Ngeblog perlu beberapa hal yang sifatnya mendasar…”
Kuti mengangguk. Perlahan dia mulai bisa mengikuti alur berpikir istrinya. “Hmmm… Maksudnya, kalu ngeblog itu, hal mendasar yang diperlukan adalah bisa membaca dan menulis? Dan juga punya blog?”
Kali ini Dee yang tersenyum. “Yup. Itu hal mendasar yang penting. Gak mungkin kita bisa ngeblog kalu gak bisa baca tulis, atau gak punya blog. Di samping itu kita juga harus mencari tahu, apa ‘wadah’ yang tepat bagi kita. Misalnya ada yang hanya bisa ngeblog di kesunyian. Ada yang punya mood jika ngeblog jam lima pagi. Atau ada yang tak terpengaruh apapun, seperti kamu. Walau ribut, walau ada keriuhan, kamu tetap bisa ngeblog….”
“Hehehe…” sahut Kuti. “Asalkan gak di jam siaran langsung Liga Inggris aja…” tambah Kuti seraya mengumpulkan dedaunan dan ranting yang baru dipangkas. “Jika hal mendasar sudah terpenuhi, selanjutnya bagaimana?”
“Tentu saja kita mencari benih. Atau bisa saja tanaman muda atau bibit. Atau potongan batang atau akar untuk distek,” sahut Dee. “Untuk ngeblog, benih atau bibit diibaratkan sebagai ide. Benih adalah ide yang muncul atas prakarsa sendiri. Sedangkan bibit atau batang stek mungkin kita meminjam ide dblogger lain. Atau membuat posting yang disesuaikan dengan momen, misalnya puasa…”
“Hmmm…Betul juga. Dan benih atau bibit itu ditanam pada wadah. Supaya bertumbuh, perlu diberi air, mungkin juga pupuk. Bukan begitu?” sahut Kuti. Karena selalu membantu istrinya menanam, Kuti sudah lumayan hafal tahapan yang biasa dilakukan.
“Ya. Dan untuk menumbuhkan sebuah posting, mungkin kita perlu melakukan riset,” sahut Dee. “Atau melakukan pengamatan. Mungkin juga perlu dilengkapi anekdot. Atau ilustrasi. Atau kata bijak. Pokoknya semua hal yang diperlukan agar posting yang dibuat menjadi menarik…”
“Tapi tidak selamanya yang kita buat akan menarik bukan? Sama halnya dengan tanaman hias yang bisa saja mati karena hal tertentu…” kata Kuti.
“Tentu saja ‘yang. Bisa saja terjadi tanaman hias yang kita tanam tidak bertumbuh, atau bahkan mati,” kata Dee. “Mungkin akarnya busuk karena kita terlalu banyak menyiram. Atau dia terkena hama. Posting yang ‘mati’ bisa disebabkan banyak hal. Mungkin kita terlalu banyak ‘menyiram air’, memberi data yang keliru, atau kita tidak bisa menguraikan apa yang dimaksud sehingga pembaca keliru menafsir…”
Kuti kini mendekati Dee dan mengangkat rumput dan dedaunan yang dicabut. Selain mencabut rumput, Dee juga mematahkan daun atau ranting yang tumbuhnya tidak bagus atau yang sudah bolong digigit hama.
“Sama halnya dengan tanaman yang perlu dipangkas, posting juga perlu dipangkas kan ‘yang?” kata Kuti.
“Iya,”kata Dee. “Kamu pernah menulis soal mengedit dengan otak bukan? Itu yang dimaksud dengan pemangkasan. Kita mengeluarkan kalimat atau istilah yang rancu. Atau mungkin saja paragraf yang tidak nyambung dan berpotensi membingungkan pembaca…”
Kuti mengangguk, tersenyum melihat bagaimana jemari Dee dengan lincah mencabut rerumputan yang tersisa. “Dan tak ada yang lebih menggembirakan melihat tanaman kita bertumbuh besar, menjadi indah. Bahkan jika terlalu indah, ada saja tetangga yang meminta atau bahkan membeli. Postingan juga begitu ya?”
“Betul ‘yang,” ujar Dee sambil menyeka peluh. “Tak ada yang lebih menyenangkan jika melihat postingan kita dibaca, dan isinya dipahami. Bahkan jika postingnya bermanfaat, teman-teman tak akan segan untuk melink…”
“Dan tentu aja kita tak harus berhenti di satu tanaman bukan? Jika ada yang tumbuh, kita menanam lagi dan lagi. Artinya, selesai satu posting kita bikin posting lain lagi. Begitu bukan ‘yang?” kata Kuti lagi.
Dee tersenyum, senang melihat bagaimana suaminya bisa mengikuti jalan pikirannya dengan sempurna. “Kita tahu ngeblog itu menyenangkan. Sama halnya dengan menanam bunga. Jadi memang tak ada salahnya jika kita mengulangi dan lagi…”
Dee lalu menatap suaminya dan tersenyum menggoda. “Dan karena kita sudah tahu kalau menanam bunga itu menyenangkan, kapan kau mulai menanam tanaman hias?”
Kuti tergelak. Ini bukan yang pertama kali Dee memintanya ikut menanam. Suatu hal yang selama ini selalu ditolaknya. “Gak ‘yang… Kamu kan tahu aku tidak keberatan menanam, namun aku lebih suka menanam tanaman yang akhirnya bisa dimakan. Aku gak suka menanam sesuatu yang hanya bisa dipandang…”
Dan Kuti kembali tergelak melihat Dee tiba-tiba cemberut..
p.s
i love you…







bisa dihubungkan dengan bunga deposito nggak ya..
PS: sabar2 ya, nggak lama lagi beduk nih
.. mba dee dan mas kuti yang sedang asik menanam bunga, kalau aku sih lebih suka melihat blog sebagai sebuah hidangan yang tersaji apik (mentang-mentang punya blog dapur
). bukan hanya cara penyajian (ilustrasi dan desain blog) perlu menarik tapi juga rasanya (tulisan) yang enak (dibaca). mungkin ngga banyak orang suka pada hidangan (blog) yang kita buat karena setiap orang punya selera yang berbeda 
Apalagi isi blognya dibikin buku..wah itu namanya panen bunga deposito…hehehe…btw, kok ada blog yang bunganya pas sdg mau mekar2nya kok malah dicabutin..jgn2 mau buka lahan diladang lain yah (sambil ngelirik suami rumahkayu…hehehe)…
hmm..
slm knl ya..
@ mou : hehehe (juga sambil melirik suami rumahkayu …) bukan dicabutin tp juga di tebang abis hahaha …
Hehehe…merawat blog ternyata lebih susah dari membuatnya nih (ya iyalah, blog saya kan dibikinin Dee…)

Sama dengan bunga, merawat bunga untuk tumbuh subur lebih sulit daripada menanamnya. Perlu banyak kreativitas agar blog atau bunga tumbuh indah. Juga harus ada niat dan kemauan, yang diwujudkan dalam tindakan .
Buat Kuti dan Dee, selamat menanam bunga sambil nge-blog deh, semoga dua-duanya tumbuh subur dan indah…
p.s. satu menanam… satu nyabutin… he he he… eh, salah deng ya? … he he he he he … maksudnya sama2 menanam, cuma jenisnya beda2… ada yang berbunga, ada yang berbuah… dirawat sama2, gitu kalo kata postingan ini sih… he he he …
d.~
mampir lagi ah….
menulis itu membuang racun pikiran
iya, detoksifikasi… he he he…
d.~
makasih ya udah mampir lagi…
Setuju…. Yang pasti, entah itu tanaman berbunga atau tanaman buah, mereka amat bermanfaat…; begitu pun tulisan-tulisan dalam blog yang baik… menginspirasi, mengingatkan, membuka wawasan…, menajamkan nurani, dll…dll…dll…
I am proud of you… Keep on the good work, dear…
aduh senangnya lihat wita muncul di sini… makasih banyak wit… besok2 mampir lagi ya… makasih untuk komentarnya yang positif dan memotivasi
d.~
ditunggu kembalinya ya.
siiippp… makasih ya
d.~
“aku lebih suka menanam tanaman yang akhirnya bisa dimakan. Aku gak suka menanam sesuatu yang hanya bisa dipandang
Nice one
lama gak blogwalking…
ada apa dengan blog s3lingkuh? knp postingannya hilang smua?..huhuh
.. thx mas k untuk sarannya. saya jadi punya ide untuk menulis. minta izin untuk mengutip komen saya ya
thx
he he… kuti sore ini kayaknya belum sempat balas komen hes… aku aja yg jawab ya… aku yakin kuti setuju dengan jawaban ini: silahkan, dengan senang hati… komen itu kan milik hes. seneng banget kalo posting atau jawaban komen di rumahkayu bisa jadi sumber ide untuk hes nulis ( di masukdapur kan? nanti aku baca… aku senang baca masukdapur, seruuuu !
) d.~
Wah filosofinya bener juga tuh mba
ha ha ha… yang nulis postingan ini kuti, mbak anny…
d.~
jadi mas, bukan mbak… he he he…
anyway, terimakasih apresiasinya ya…
hehehe.. kalo blogku diibaratkan kebun bunga, maka kebunku itu jarang ditengok, jarang disiram, jarang dipupuk. pemiliknya lebih suka jalan2 drpd merawat kebon hihihi.
ngeblog itu…….?? **bentar aku mikir dulu..
yup, etika positif ngeblog tersirat dalam cerita ini
he he… makasih… paling sedikit cita2 kita begitu… dicoba dicapai setahap demi setahap. makasih ya sudah mampir… d.~
baca tulisan di atas, jadi ngingetin aku, kapankah aku akan mulai bikin blog ya?….. orang lain udah disiram, dipupuk dan dirawat, kalo aku…. nanam aja belum ya!
he he… ayolah, dimulai… nanti bilang2 ya kalo udah punya blog
d.~
menarik juga analisisnya, tapi menurut saya sih ngeblog itu seperti menanam dan merawat tumbuhan