Akhir minggu di bulan puasa.
Pradipta senang sekali. Ada empat orang sepupu menginap di rumahnya akhir minggu ini. Kakak Cintya, mas Pratama, abang Respati dan adik Kirana. Adik bayi, Radya, sayang sekali belum bisa menginap tanpa mama papanya, sehingga tak turut bergabung bersama mereka.
Begitu mereka tiba, Pradipta dengan segera mengajak mereka mengeluarkan tenda. Dengan bantuan Kuti, tenda tersebut dipasang di halaman rumah.
Dee tertawa- tawa melihat anak- anak itu. Walau berpuasa, mereka tak nampak lelah dan masih juga terus berlarian di sekeliling halaman. Pratama bahkan meminta Kirana naik ke atas gerobak besi kecil yang biasa mereka pakai untuk mengangkut dedaunan kering dan mendorong Kirana kesana kemari di seputar halaman sambil tertawa- tawa.
Menjelang senja, Pratama yang memang memiliki energi yang sangat banyak mulai mencari- cari kesibukan lain. Dia bertanya pada Dee, “ Tante… tante punya oregano? “
Oregano? Dee mengajaknya ke dapur dan membuka lemari bumbunya. Seingatnya dia memiliki sebotol kecil bubuk oregano. Dengan segera ditemukannya botol itu dan diberikannya pada Pratama. “ Ini mas, ada… untuk apa ? “
Pratama tertawa senang. “ Aku masak ya tante, boleh kan ? “
Oh, tentu saja. Dengan senang hati.
Dee sudah lama tahu, Pratama mewarisi kesenangan ayahnya untuk turun ke dapur. Terbiasa melihat sang ayah masuk ke dapur untuk bersenang- senang di akhir minggu sejak dia kecil, Pratama yang kini duduk di bangku SMP juga mulai memiliki kegemaran yang sama.
“ Aku lihat kulkas ya Tante, mau lihat ada tidak bahan- bahannya, “ kata Pratama pada Dee.
Dee mengangguk sambil tertawa. “ Ya, lihat saja, “ katanya.
“ Bikin apa dik? “ Cintya, si kakak, menghampiri adiknya yang sedang melongok- longok isi kulkas dan lemari dan mulai tersenyum- senyum senang sebab tampaknya dia menemukan apa yang dia butuhkan.
“ Tante, daging cincang ini aku pakai ya? “ kata Pratama pada Dee yang dengan segera mengangguk mengijinkan.
“ Ya, pakai saja, “ jawab Dee, “ Perlu apalagi mas ? “
“ Bawang bombay, susu cair, roti, keju, tomat… ada semua tante, “ jawab Pratama pada tantenya.
Dan… begitulah. Senja hari itu dilewatkan bersama oleh lima orang anak beserta Dee di dapur.
Cintya rupanya dengan segera tahu apa yang akan dibuat Pratama, adiknya, sebab sudah beberapa kali masakan itu dibuat di rumah mereka. Dia memisahkan 10 lembar roti tawar dan menakar satu setengah gelas susu cair lalu merendam roti tersebut di dalam susu sampai rotinya lunak.
Dee membantu anak- anak itu untuk mencincang bawang bombai dan bawang putih lalu menumisnya. Ada dua siung bawang putih yang digunakan sementara bawang bombay yang dicincang dan kemudian ditumis Dee kira- kira tiga perempat ons beratnya.
Pradipta dan Kirana bersama- sama memarut keju. Pratama tadi menemukan keju yang masih utuh di dalam kotak seberat 200 gram di dalam kulkas. Dipotongnya separuh keju itu untuk digunakan dalam masakannya. Hanya sejumlah itu yang dia butuhkan. Separuh sisanya, dikembalikannya ke dalam kulkas.
Respati dan Pratama memarut beberapa butir tomat dengan total kira- kira seberat setengah kilogram. Parutan tomat ini disisihkan sebentar sambil menunggu bawang yang sedang ditumis Dee berbau harum.
“ Mas, “ kata Dee pada Pratama setelah keharuman tumis bawang memenuhi dapur, “ Apa lagi setelah ini ? Tomat parutnya dimasukkan ? “
“ Daging cincang dulu, tante, “ jawab Pratama sambil menyodorkan tiga setengah ons daging cincang yang telah disiapkan pada Dee. Dee memasukkan daging tersebut ke dalam tumisan bawang di atas kompor. Diaduknya sampai tampak daging tersebut matang dan disambutnya wadah berisi parutan tomat yang disodorkan Pratama, lalu dimasukkannya pula parutan tomat tersebut ke dalam wajan. Dicampurkannya pula sesendok pasta tomat ke dalam campuran tersebut, juga ditambahkannya seujung sendok teh oregano serta garam, gula serta merica bubuk secukupnya.
Setelah tumisan daging beserta bumbu itu siap, anak- anak tersebut dengan gembira menyiapkan pinggan tahan panas dan mengolesi tepinya dengan mentega. Mereka pula yang menyusun 5 lembar roti yang tadi sudah direndam susu di lapisan terbawah, menaruh sebagian adonan daging serta keju di atasnya, lalu menaruh kembali 5 lembar roti di atas lapisan danging dan keju tersebut. Terakhir, mereka lalu menuangkan separuh sisa adonan daging ke atas lapisan roti yang baru saja mereka letakkan di dalam pinggan dan kemudian menaburkan keju parut di atas adonan daging tersebut.
Dee memperhatikan hasil kerja anak- anak tersebut. Lapisan roti-daging-keju-roti-daging-keju tampak tersusun rapi di dalam pinggan tahan panas tersebut. Dee lalu memasukkan pinggan tersebut ke dalam panggangan.
Setelah itu, kelima anak tersebut membantu Dee membereskan peralatan yang tadi mereka gunakan di dapur.
Waktu berbuka hampir tiba. Kelima anak tadi bergiliran mandi membersihkan diri sambil dengan gembira menanti waktu maghrib, saat ketika mereka akan dapat menikmati makanan yang telah mereka masak bersama- sama…
p.s. i love you







Cara membuat masakan yang ditulis di posting ini menarik banget…!

Saya kagum, kok bisa ya, memasak dikemas dalam sebuah cerita. Lengkap dengan takaran dan cara membuatnya
Eh, beberapa hari yang lalu, saya juga mencoba membuat bubur sum-sum dengan Risa. Bubur itu ditambah dengan kelengkapan lain yang gampang-gampang, kayak kolang-kaling yg sudah diberi gula pasir, pisang kepok rebus, sagu mutiara dan nangka. Semua dipotong-potong, lalu disiram sirup merah plus es batu yang dihancurkan…hehehe, persis kayak es pisang ijo!
Memasak di dapur dengan anak-anak pada bulan puasa memang beda. Lebih menyenangkan karena saat masakan matang, kita harus menunggu adzan maghrib dulu baru bisa mencicipinya. Proses menunggu ini yang biasanya membuat makanan jadi lebih enak…
Saya jadi berpikir, resep di posting ini kapan-kapan harus dicoba deh, kayaknya enak banget, gampang pula, Pratama aja bisa…
ha ha ha… dasar tukang dongeng ya… resep aja dijadiin dongeng
d.~
[Reply]
.. hihi pintar dan ehm perlu di contek nih resepnya
btw, anak saya juga suka masak terutama mengaduk-aduk saat membuat agar (sebelum di rebus) dan bikin pizza kreasi sendiri
nanti mampir ah ke masukdapur, lihat resep pizza itu…
d.~
[Reply]
lapar…
salam,
kalasenja
kalau sudah senja, sebentar lagi buka…
salam kembali, d.~
[Reply]
memang enak kalau masak bersama-sama, rasa enak ngga enak kan tetap ditanggung bersama hehehe.
he he… kalo anak2 yang masak, enak ngga enak tetap dianggap enak…
d.~
[Reply]
wow, cara menulis resep yang tidak biasa.. hihihi.. jadi apa sih nama masakannya??
he he… apa ya?
d.~
[Reply]
nice….
http://pasoepati.blogdetik.com/2009/08/07/kita-yang-selalu-melupakan-sejarah/
makasih
d.~
[Reply]
ihhh… jadi kepengen ni…
dicoba aja… mudah koq bikinnya
d.~
[Reply]
Hmmmm lezaaaat ……
Selamat menikmati hidangan buka puasa .
he he… terimakasih ya sudah mampir lagi… d.~
[Reply]
mmmmmm……
ckckcckckckck…….
jd laperrr……….
nice story.
he he, terimakasih ya…
selamat berpuasa… salam, d.~
[Reply]
Resep masakan yang diramu menjadi sebuah cerita, mba Dee memang gak pernah mati gaya
yakin niiii mbak… bahwa yang nulis postingan ini aku? gimana kalau ternyata yang nulis adalah… … adalah … … …
d.~
ha ha ha ha ha
[Reply]
sama dengan Luv, jadi penasaran apa nama kuenya?
Sekedar usul, mungkin kapan2 posting yang beginian perlu dilengkapi foto… wkwkwkwk
foto kuenya… atau foto keluarga rumahkayu, yang dimaksud? he he he
d.~
[Reply]
hehehe..jadi pengen belajar masak nih..
hehehe..salam..
salam kembali
[Reply]
membayangkan suasananya terasa sangat menyenangkan sekali
kekompakan dan persaudaraan adalah hal yang utama dibandingkan dengan hasil masakannya sendiri…
he he… rame2-nya itu akan terkenang lebih lama daripada rasa masakannya, ya
makasih ya sudah mampir… salam, d.~
[Reply]
Masak bersama, buka puasa bersama, taraweh bersama, . . . berbuat baik bersama, . . . dst . . . . masuk surga bersama.
salam sukses
http://suksesterusdong.blogspot.com/
amiiiinnnn… terimakasih sudah mampir… d.~
[Reply]
kayaknya enak tuh
coba bikin deh mel… gampang koq
d.~
[Reply]
seru….indahnya kebersamaan
iya… rame… selamat puasa ya! d.~
[Reply]
salam kenal.. oregano tuh apa ya?
salam kenal kembali.
oregano adalah dedaunan yang tumbuhnya merambat, masuk keluarga mint… aslinya dari eropa dan daerah mediterania. biasa digunakan sebagai bumbu masak, terutama masakan2 italia ( juga konon, turki, yunani, spanyol…)
kalau di sini, kita biasanya temukan dalam bentuk yang sudah dikeringkan. dan katanya daun ini memang rasanya lebih kuat jika sudah dikeringkan daripada dalam bentuk yang segar…
salam, d.~
[Reply]
bagus nih…. resep dalam bentuk cerita.
d.~
Cuman gue tidak terbiasa baca resep dalam bentuk cerita, jadi sudah deh ngebayanginnya
he he he… emang mesti disalin dan ‘diterjemahkan’ dulu siiihhhh… he he he he he
[Reply]
membaca prosesnya kok jadi ngiler :P, gak sabar mau ngajak anak2 masak juga tar sore hehe…inspiring dee, always. thanks!
[Reply]
baru ngeh ini tulisan lama.aku jadi terinspirasi merepost tulisan lama juga dee
[Reply]