p.s. i love you

9 November 2009

Naik- naik ke Puncak Gunung…

by rumahkayu

We must embrace pain and burn it as fuel for our journey ( Miyazawa Kenji )

AKU mengandaikan perjalanan menerbitkan buku Senandung Cinta dari Rumah Kayu sebagai suatu perjalanan. Lebih tepatnya adalah perjalanan mendaki gunung.

Yang kami inginkan adalah mengibarkan bendera di puncak gunung tersebut. Bahwa Daunilalang Publishing telah berdiri. Bahwa buku perdananya telah terbit.

Mungkin bukan gunung tinggi. Bahkan barangkali pula yang kami daki kemarin lebih tepat disebut bukit daripada gunung yang sebenarnya.

Karena itu adalah langkah pertama.

Kami tak mungkin mendaki gunung tertinggi di dunia tanpa melatih diri untuk mendaki bukit- bukit serta gunung kecil terlebih dahulu untuk melatih fisik dan mental kami. Untuk mendapatkan pengalaman dari latihan tersebut.

Untuk merasakan kesenangan dan berlatih menghadapi tantangan. Untuk mengalami luka- luka kecil dan besar, yang dapat diatasi baik sekedar dengan obat dan plester atau bahkan harus dijahit karena lukanya dalam.

Tak hanya tawa, ada banyak kerikil dan onak duri yang kami temui dalam perjalanan menggapai mimpi di atas awan kami.

Ada saat ketika kami sedang menapak langkah mendaki, badai tiba- tiba menghadang.

Angin bergulung. Menampar. Menutup pandang.

Membuat kami menggigil dan harus berhenti.

Ah… bahkan menuliskannyapun sulit sekali…

***

Diversity.

Perbedaan. Keberagaman.

Kata ini adalah kata ajaib yang menjadi solusi. Diversity itu membawa dampak positif.

Ketika badai menghadang, ketika masalah menghampiri, kekuatan persahabatan kami diuji. Dan kami diuntungkan karena kami berbeda.

Disamping persamaan, aku dan Kuti memiliki banyak perbedaan.

Dan perbedaan itulah salah satu kunci kekuatan persahabatan dan kemudahan kami bekerja sama. Karena kami saling mengisi. Karena ketika salah satu terkapar tak berdaya, yang lain dapat menarik atau mendorong untuk tetap maju, atau dengan segera mengambil alih kendali agar roda tetap berputar.

***

Ada saat ketika proses pembuatan buku ini terhenti hampir dua bulan lamanya.

Karena aku lelah. Kami lelah, tepatnya.

Tapi Kuti menghadapi hal tersebut dengan gaya yang lebih ringan. Aku tidak. Karena apa yang kami hadapi saat itu merupakan hal yang menurut aku terlalu prinsipil untuk diabaikan.

Dan…

Kami terpaksa mengalihkan energi untuk menembus badai tersebut. Perjalanan membuat buku terabaikan.

Ada saat ketika begitu banyak berita dan gosip serta cerita tak berdasar beredar. Ada saat ketika ada banyak hal yang menurut kami sudah terlalu jauh melanggar batas pribadi dan kepatutan terjadi di sekitar kami.

Ada saat dimana aku mengambil keputusan: aku hanya akan bersedia lanjutkan perjalanan ini jika Kuti setuju untuk memindahkan blog kami ke tempat lain.

Adakalanya konflik dan masalah terjadi bukan dari dalam diri, tapi karena apa yang terjadi di sekitar. Ada hal- hal yang terasa sangat mengganggu. Ketika kami dibenturkan bahkan pada saat kami sebetulnya sependapat. Terlebih ketika berulang kali beredar gosip miring, termasuk cerita tentang keretakan penghuni blog rumahkayu.

Isapan jempol. Yang lama kelamaan menimbulkan persepsi sebagai harapan suatu pihak tertentu agar itu terjadi. Keinginan agar kami berpisah.

Aku sungguh berharap bahwa persepsi ini tidak benar. Bahwa dugaan itu salah. Tapi apa yang terjadi tak membantu untuk merevisi persepsi ini.

Menyakitkan.

Tapi…

Pada suatu titik, hal itu kembali menjadi ujian yang ketika telah kami lampaui, menunjukkan lagi bahwa rajutan persahabatan dan tekad kerjasama untuk menggapai mimpi kami ternyata begitu kuat dan tak berhasil digoyahkan.

Pada akhirnya… dengan senyum kami dapat membuktikan bahwa hal tersebut tidak benar. Bahwa apapun pernyataan memojokkan baik pada salah satu dari kami maupun kami berdua sekaligus dapat kami abaikan agar tak mengganggu perjalanan kami.

Bahwa… tak perduli ada halangan menghadang, halangan itu dapat kami lampaui bersama.

Dan…

Disinilah kami sekarang. Blog kami masih tetap ada di tempat yang sama. Penerbitan kami telah berdiri. Dan buku kami telah beredar.

Tentu tak ada yang sempurna. Apalagi bagi sebuah langkah awal. Ada banyak hal terlupakan, ada banyak yang masih perlu kami pelajari dan perbaiki.

Tapi paling sedikit, bukit pertama telah kami daki. Dan kami siap untuk mendaki bukit dan gunung yang lebih tinggi…

p.s.

5 (lima) buah buku Senandung Cinta dari Rumah Kayu disediakan untuk para komentator terbaik (terutama yang dapat mengatakan alasannya mengapa dia menginginkan buku tersebut )

Komentar yang akan diikut sertakan adalah komentar yang masuk ke blog rumahkayu ( untuk posting manapun yang ada di blog rumahkayu ) sejak hari ini jam 00.00 sampai hari Sabtu 14 November 2009 jam 10.00 WIB

Filed under love secret at 20:30 and tagged , , , , , , ,


24 Responses to “Naik- naik ke Puncak Gunung…”

  1.   mrpsycho Says:

    sebuah langkah maju dengan berkibarnya daunilalang publishing di puncak bukit .. selamat ya

  2.   bintangtimur Says:

    Hehehe, seperti deja vu, terlontar ke masa beberapa waktu yang lalu…
    Kala kemarahan dan kesedihan berpadu dalam satu rasa, tidak mustahil yang muncul adalah semangat luar biasa untuk membuktikan bahwa semua prasangka itu tidak benar. Bahwa persahabatan, seringkali diuji melalui cerita tidak berdasar, bahkan isapan jempol…
    Tidak apa-apa, semua itu justru akan membuat kita lebih bersyukur…bahwa hal yang indah, akan terjadi pada saatnya :)

  3.   quinie Says:

    huaaaa.. kata2 yang indah. pantes lah kalo bisa menerbitkan buku :). good luck yaaa *masih iri ama pradna & mr. psycho*

  4.   Dedi Says:

    Bagian ini yg nulis sepertinya bukan Dee… tapi kok alur ceritanya seolah2x yang menulis Dee…

    Saya mungkin salah menerka… gaya tulisannya berbeda saja dari gaya tulisannya Dee…

  5.   bongjun Says:

    aku tambah penasaraaaaan,…..hehehehe

  6.   sunflo Says:

    sukses selalu dee……….lanjutkan perjuangan, semangat!! (he..he… mewarisi semangat perjuangan para pahlawan bangsa neeh…^^)

  7.   fandhie Says:

    semakin terjal bukit yg di daki.. akan semakin lega dan puas ketika mencapai puncak bukan??
    buktinya baru berhasil melewati lerengw bawah ajah dah bisa tersenyum tuh..
    pasti mampu untuk ke puncak dehhh

  8.   nA Says:

    Takjub ama rangkaian kata2 yg teramat dahsyat.. Sukses utk bukunya y..
    Keep writing beautifully..

  9.   kw Says:

    selalu ada hal pertama yang harus dilewati. semoga semuanya lancar dan terus berkembang.. amin

  10.   aribicara Says:

    Setiap orang mempunyai naluri untuk berfikir dan berbagi kisah hidupnya, karena setiap kisah mempunyai hikmah dan pelajaran didalamnya tapi ini berlaku teruntuk mereka yg ingin dan bisa selalu mengambil hikmah dan mengambil pelajaran itu dari setiap kisah dan perjalanan hidup seseorang. Dan kisah itu salah satunya adalah dari kisah rumah kayu ini…. :)

    Bukankah banyak orang bisa berubah dan bertambah ilmu, wawasan dan pengetahuan mereka karena mereka mau belajar dan belajar dari setiap apa yg mereka lihat termasuk kisah perjalanan dan pemikiran seseorang atas masalah atau inspirasi dalam nalar keseharian mereka ?

    Salam :)

  11.   Srexmount Says:

    Setelah ‘gunung itu’ terdaki…..apa yg kamu lihat….?

    keindahan. baik di bagian yang lebih rendah maupun lebih tinggi dari gunung yang telah terdaki itu…

    ( malaikat dan bidadari tahu, mimpiku melayang menembus awan… biarlah hanya langit yang menjadi batasnya :-) ) d.~

  12.   codet Says:

    Indahnya jika mampu menyiasat perbedaan jadi perekat hubungan, bahkan setangguh itu.
    Sukses Mba’ Dee :-)

  13.   matanaga Says:

    siap mendaki gunung yg lebih tinggi?
    siap pula di terpa anging kencang?
    saya yakin kamu siap… hehehhee..
    bagus itu karya ;)

  14.   Oprek Senandung Cinta dari Rumah Kayu | Pradna Jogloabang Says:

    [...] Judul : Senandung Cinta dari Rumah Kayu [...]

  15.   sepatubooth Says:

    Semangat terus mbak…!!!Sukses selalu… :)

  16.   haris Says:

    saya juga baru saja merampungkan buku. benar. rasanya kadang sprti mendaki gunung. berat. saya dilanda banyak masalah, sementara deadline kadang terus molor. tapi saya percaya, tiap proses menulis akan memperkaya kita, membuat kita sadar bahwa setelah menyelesaikan sebuah buku, kita menjadi pribadi yang, walau tidak sempurna, tapi jauh lebih kaya warna. buku anda pasti membuat anda jadi lebih baik.

    selamat utk bukunya. mari kembali menulis.

  17.   MT Says:

    perjalanan menuju puncak telah didaki dengan peluh dan harapan. ketika sudah sampai pada puncak yang dituju, apakah sudah sampai kepada tujuan?

    tidak! justru ketika sampai pada puncak tersebut, berarti kita baru sampai untuk memulai sesuatu yang baru yang lebih baik. Puncak bukanlah tujuan, tapi sebuah permulaan…

    Buku “Senandung Cinta dari Rumah Kayu” adalah permulaan bagi Dee dan Kuti untuk menjalani kehidupan yang terinspirasi dari apa yang telah ditulisnya. Sebab, sesimpel apapun, tulisan adalah inspirasi yang menggerakkan.

    sukses! Jabat erat!

  18.   cakcholik Says:

    I agree with your statement. We remember ” thousand miles start from zero “, don’t we?
    Ever on ward never retreat, Dee.
    May God bless you.
    Warm regards

  19.   aribicara Says:

    Untuk menaiki gunung tertinggi, selalu di awali dari langkah pertama, semoga daroi langkah awal ini Dee bisa mencapai puncak gunung tertinggi itu ,, amiin :)

    Salam :)

  20.   wong Says:

    hmmm, tulisan kilas baliknya indah.. tetapi tetap dahsyat…

  21.   » Mimpi yang belum selesai…. p.s. i love you Says:

    [...] menuliskan dengan sangat indah bagaimana pengalaman kami mendaki gunung. Saking indahnya sehingga Dedi (sahabat Dee di dunia nyata selama bertahun-tahun) bahkan tidak [...]

  22.   deera Says:

    Takjub….teknologi benar-benar bisa menjembatani ruang & waktu… Juga takjub pada semangat utk terus maju & mengambil hikmah dari setiap langkah yg dijalani. Sekali lagi selamat buat Dee & Kuti…mg2 sukses selalu ya…

  23.   » Luna Maya, Gossip dan Hati Nurani p.s. i love you Says:

    [...] melakukan kilas balik tentang perjalanan membuat buku rumahkayu, aku sempat menuliskan sekilas tentang bagaimana pada [...]

  24.   vonny Says:

    hai,namaku vonny..horas.. bah..
    ayo,pemuda, jangan pernah berhenti karena situasi.. itu yang aku yakini sekarang.dan aku sadar bahwa hidup ini indah..jadi bila aku tak mampu lagi melangkah maka aku akan mentertawakan diriku sendiri yang tidak suka mendaki puncak gunung.
    mencoba tidak akan pernah salah,bila kita tau bahwa mendaki ke puncak gunung yang mungkin satu bulan kemudian dinyatakan sebagai gunung yang aktif..menyesalah aku bila gunung itu telah meletus.karena kita tidak pernah tau bahwa terdapat sekumpulan bunga cantik itu yang terpelihara dengan liar di puncak gunung kesuksesan.hiduplah lebih rileks karena seorang seniman akan melukis karya terbaiknya saat batin- nya benar - benar memahami keindahan obyek aslinya.
    sebenarnya bagian yang memuakkan ada di dalam diri kita sendiri,yang kadang berpatokan pada penilaian individual yang kurang realistis.. contohnya saat mendapatkan kesempatan berkarier, seorang wanita akan memilih mengejar karier dan tidak mempedulikan seorang pria telah demikian mencintai wanitanya dan memintanya menerima hati pria itu diruang kosong dalam kehidupan seorang wanita.ironis memang tapi kadang kita tidak menyadari ada pribadi yang demikian mencintai kita saat kita yakin bahwa tidak ada seorang pun yang mempedulikan. dan sang bijak berkata bahwa hidup itu indah, karena yang tidak bisa kembali adalah waktu, kesempatan, kata - kata yang telah diucapkan..cintailah lingkungan sekitar kita maka kita akan belajar mencintai diri sendiri

Leave a Reply

jika anda melihat tulisan ini, aktifkan css anda