Tentang jajanan kaki lima, dan sahabat yang kurindukan.
AH, aku sungguh merindukan seorang sahabatku. Seorang perempuan manis berkebangsaan India yang tinggal di Bangalore.
Gadis ini, dan beberapa kawanku yang lain merupakan sumber inspirasiku ketika aku membuat tulisan Nun Jauh di Sana, Mereka Berjuang Demi Cinta , salah satu posting yang merupakan satu dari lima posting pembuka di hari pertama blog rumahkayu diumumkan keberadaannya
Aku tak akan lagi menuliskan tentang arranged marriage di sini. Aku hanya ingin menuliskan tentang sesuatu yang ringan.
Makanan ringan.
Sangat ringan, karena bentuknya menggembung berisi udara, he he he…
***
Jadi, suatu petang seusai jam kantor aku berjalan- jalan dengan kawanku ini. Secara harfiah kami memang betul di petang hari tersebut berjalan kaki, menyusuri trotoar di kota Bangalore.
Ada dua alasan yang membuat kami memilih untuk berjalan kaki. Pertama, sore itu jalan agak macet. Jadi, jalan kaki merupakan solusi paling praktis yang dapat dipilih. Yang kedua, ha ha ha karena kami ingin ngerumpi, ingin mengobrol sambil tertawa- tawa. Dan tak ada cara lain yang lebih menyenangkan selain berjalan di sore hari bersama seorang sahabat sambil tertawa- tawa bercerita ngalor ngidul.
Sahabatku, seorang Master Psikologi berkebangsaan India, adalah seorang perempuan manis, santun, sangat cerdas dan menyenangkan. Dia adalah satu dari sedikit orang yang aku bagi rahasiaku bahwa salah satu mimpi terbesarku dalam hidup adalah menulis sebuah buku. Mimpi yang sampai beberapa tahun yang lalu aku pikir akan tetap menjadi mimpi yang tak kan pernah tercapai sepanjang hidupku. Sebab, walau itu mimpi besar, tapi sungguh aku tak dapat menjabarkan lebih detail tentang mimpiku itu. Entah buku apa yang akan kutulis. Entah judulnya apa. Tak terbayangkan olehku apa topiknya dan bagaimana atau kemana aku harus membuka jalan agar cita- cita besar itu dapat tercapai, he he…
Kawanku yang baik hati ini tak pernah menganggap keinginanku itu sebagai ‘mimpi di siang bolong’. Sebaliknya, dia selalu mengatakan bahwa jika aku memang begitu menginginkan hal tersebut terjadi, dia percaya suatu saat pintu akan terbuka bagiku untuk mewujudkan mimpi itu ( ah, menuliskan kalimat ini membuatku makin merindukan dia )
Kembali ke cerita jalan- jalan di sore hari itu.
Kawanku mengajakku ke sebuah mall terbesar di kota Bangalore. Bangalore saat itu merupakan kota yang sedang berkembangdengan kepesatan luar biasakarena banyak perusahaan besar dari seluruh dunia memusatkan operasinya di kota ini. Tapi sungguh, toko- tokonya sendiri sangat sederhana. Mall terbesar itu hanya merupakan toko dua lantai yang tak begitu besar, yang menjual barang- barang produksi dalam negeri, terutama kain- kain sari dan perhiasan khas India.
Aku tak membeli apapun di sana. Sahabatku mengatakan bahwa jika aku ingin membeli kain sari, dia akan mengajakku ke tempat lain dimana dengan kualitas setara aku dapat memperoleh kain itu dengan harga lebih murah.
Jadi begitulah, kami window shopping saja.
Lalu, sepulang window shopping, kami berjalan kaki lagi menuju rumah kawanku tersebut. Sejak awal kedatanganku, dia memang bersikeras bahwa aku harus-harus-harus mampir ke rumahnya ketika aku berada di Bangalore. Sebenarnya, dia bahkan meminta aku untuk memperpanjang kunjungan kerjaku dan menginap di rumahnya beberapa hari. Sayang jadwalku tak memungkinkan aku untuk melakukan hal tersebut ketika itu.
Dan dalam perjalanan pulang dari mall ke rumahnya itulah kami menikmati sejenis makanan kecil yang dijual di trotoar di tepi jalan di Bangalore.
Namanya Pani Puri.
Pani Puri merupakan jajanan kaki lima populer di India. Terdiri dari puri, yang bentuknya merupakan bola tepung renyah dengan bagian yang kosong di tengah- tengah. Besarnya kira- kira sebesar bola pingpong.
Ketika akan dihidangkan, bola tepung ini diisi dengan kentang rebus dan kacang- kacangan serta bumbu yang berupa campuran air, asam, cabai, daun ketumbar, daun mint dan beberapa bumbu khas India. Air dengan rasa asam pedas inilah yang disebut “pani”.
Pani, di lidahku terasa seperti bumbu rujak. Agak manis, kecut dengan sedikit rasa pedas di lidah.
Kawanku mengajarkan padaku bagaimana cara yang benar untuk memakan pani puri ini. Yaitu dengan memasukkannya sekaligus ke dalam mulut. Tak boleh digigit sebagian- sebagian.

Karena merupakan jajanan pinggir jalan, harga pani puri ini murah. Aku ingat bahwa kami hanya membayar dengan uang receh yang tak seberapa dan abang penjualnya memberikan piring kertas berisi sepuluh buah pani puri. ( Oh ya, abang penjual pani puri ini tentu saja di Bangalore sana panggilannya bukan bang, he he he )
Pani Puri sebenarnya bukan makanan asli daerah India Selatan seperti Bangalore, tapi berasal dari India Utara. Seorang sahabat lain yang berasal dari Delhi sungguh kesal ketika mendengar ceritaku kemudian saat aku telah kembali ke tanah air bahwa aku menikmati Pani Puri di Bangalore, padahal ketika aku berada di India itu aku sempat menghabiskan week end bersamanya di Delhi.
Dia mengatakan padaku bahwa kualitas Pani Puri di Delhi yang berada di India Utara jauh lebih baik dan bervariasi daripada yang bisa kudapat di Bangalore. Menurutnya, ada banyak pani puri yang berisi beragam sayuran, dan macam- macam lagi, bukan hanya yang ’standar’ seperti yang aku nikmati di petang hari di Bangalore itu.

Ketika dia menyampaikan hal itu padaku, dengan bergurau kukatakan padanya jika seperti itu halnya, maka kesalahan terbesar ada pada dia, mengapa tak dia tawarkan jajanan kaki lima itu padaku ketika aku berada di Delhi bersamanya? Ha ha ha…
Ah, sungguh… hari- hari ketika aku berada di India selalu aku kenang sebagai hari yang indah. Berada di suatu tempat yang jauh dari tanah air, bersama sahabat yang menyenangkan serta mencicipi berbagai makanan lokal sungguh pengalaman yang sangat eksotis dan menyenangkan
p.s. i love you
Note:
Picture taken from wikipedia & oorjas.files.wordpress.com







namastey…mera naam dyah, apka kya haal hai..? haha..sok sokan india.wah jadi pengen ke India neh.pengen ikut juga makan pani purinya…
ayolah…
d.~
sukurlah kalau makannya cuma dengan cara menelan bulat-bulat 1 pani puri itu…
*sudah kawatir kalau caranya harus pakai joged-joged*
joged-joged di pinggir jalan? ha ha ha ha ha… aduh pradna, ada2 aja!
d.~
keliatannya enak tuh,, jadi pengen.. !!
he he… enak sih, dengan catatan kalo lidahnya bisa nerima rasa bumbu makanan india yang tajam…
( aku ingat waktu mau ke india itu, ada seribu orang yang ngingetin untuk bawa bekal makanan karena di sana nanti “susah cari makan”. ha ha, padahal aku ini segala makanan di kantin dekat kantor ya bisa makan, jajanan pinggir jalannya juga bisa menikmati… untunglah, lidahku ngga rewel — omnivora sejati, ha ha ha…
)
makasih sudah berkunjung ke sini ya umar… salam,d.~
kue keranjangnya sudah digoreng belum nih hahhaha, nggak out of topic kan, masih soal makanan
ha ha, ngga… ngga aku goreng. aku lebih suka kue keranjang dalam bentuk aslinya, tanpa digoreng. kayaknya manis-lengketnya lebih terasa kalo ngga digoreng
d.~
Aduuuh Dee, kalo semua gambar makanan yang ‘ditempel’ di posting sekeren ini, past semua orang jadi penasaran dengan rasanya…

Pani puri, saya bener-bener pengen nyoba…kayak cilok goreng yang dikasih bumbu cuka kali ya…hehehe…perumpamaannya nggak keren amat…!
Jajan makanan lokal di kaki lima itu favorit saya juga, Dee, saya seneng nyobain makanan-makanan sederhana yang nggak bisa ditemui di semua tempat.
Kayak waktu di Chinatown beberapa waktu lalu, saya histeris banget beli kacang walnut/cheznut/hazelnut (lupa deh, gimana nulisnya…) yang digoreng-goreng pake pasir dan rasanya kayak biji nangka rebus itu enak sekali
Manis, gurih dan unik.
Ah, jadi penasaran nih dengan namanya!
Cheznut panggang atau chesnut panggang?
Pokoknya gitu deh…
ha ha ha… emang… kalo jalan2 itu, paling asyik memang cari jajanan pinggir jalan…
puri, ngga bener2 kayak cilok ir… karena kalo cilok itu ada isinya, padat.. kalo ini kayak keripik tapi bentuknya bulat, jadi dalamnya kosong. nah ruang kosong itu yg kemudian biasa diisi kentang, kacang2an, sayur dan bumbu…
btw… chinatown di singapore itu, he he… memang asyik ya? segala manisan, kacang- kacangan, permen segala rupa ada di sana. apalagi kalo pas imlek begini ya, kebayang meriahnya di situ… d.~
Pani puri nya mirip banget sama dorokdok ya, he..he…sejenis krupuk kulit gitu lho

tp mungkin rasanya lebih enak pani puri kali ya, he..he…adanya cuma di India ya mba? sama kyk mba Irma, aku pingin nyoba juga
oh ya, mba jeruk laksa itu udah tau namanya Limau kesturi dan daun kecil2 yg bikin laksa sedap itu daun kesum hi.hi…senengnya bisa tau namanya.
he he, puri yang mengembang dan kosong itu memang mirip seperti kerupuk kulit/ dorokdok/ rambak itu mbak anny, hanya saja ini terbuat dari tepung. tampaknya campuran antara tepung terigu dan semacam pasta tepung gandum…
oh, akhirnya tau juga nama jeruk itu ya?
tau darimana? d.~
pani puri nya makyos kayanya tuh…….hmmmmmmm
he he… iya sih. walau, makanan kecil versi indonesia juga sebetulnya juga ada berjuta macam yang mak nyos ya?
d.~
kayaknya enak mba..
ayoo kita suruh mba Hes bikin panipuri
good idea, mel…
d.~
@melly:
.. tantangan diterima! deng deng
horeeee… wah, seru… aku suka ini
d.~
Hm…jadi pengen nyobain juga… Eh, tapi pedes ya?? Duh..ga jadi deh…lidah n perutku ga tahan yg pedes2 sich…
iya ada rasa pedasnya, deera… d.~
Cuma bisa ngebayangin aja rasanya…seperti makan risoles dg kuah empek2….ahh…nggak pas lah…mungkin siapa tahu aku bisa menikmatinya di sana…nggak tahu kapan…
(sambil melet2 n menelan ludah :* pengin)
seneng bca cerita anda, karena saat ini juga lagi dket dg seorng teman yg juga dri india..wah jdi g sbar pngen kesana..krna dia jga brcerita bnyak hal tntang kuline india…pngen nyoba jg jajnan kaki limanya india…seseru apa sih india jalan jaln dg someone special dsna…hehehehe…