Senja dan matahari bergandeng tangan menuju arah Barat.
Dee tertawa- tawa di teras rumah kayu, bermain gelitik- gelitikan dengan si kecil Pradipta. Suara gelak dan tawa geli mereka mau tak mau membuat Kuti yang sedang membaca koran di ruang tengah tersenyum sendiri.
Kuti meletakkan korannya dan berjalan ke arah teras. Ditemukannya di sana istri dan anaknya masih tertawa- tawa kecil. Dia lalu duduk bergabung bersama mereka.
Pradipta dengan serta merta naik ke pangkuan Kuti. Sang ayah dengan hangat memeluk si kecil dan mengajaknya mengobrol. Pradipta bercerita tentang sekolahnya, juga tentang gambar jembatan yang sedang coba disusunnya dari keping- keping puzzle.
Kemudian setelah beberapa saat, si kecil bangkit dan berkata, Aku mau main sepeda sebentar, lalu berjalan ke pojok halaman dimana sepeda merahnya berada, dan segera setelah itu dengan riang bersepeda di sekeliling halaman rumah.
Dee dan Kuti saling pandang lalu tersenyum melihat tingkah polah si kecil.
Eh Dee, Kuti tiba- tiba teringat sesuatu, Kamu ngga nulis?
Nulis apa? jawab Dee berlagak tak mengerti, walau dia tahu persis apa yang sedang dibicarakan oleh suaminya.
Nulis untuk blog, jawab sang suami. Aku kan nulis tentang Kartini dan aku bilang di situ bahwa kamu akan meneruskan tulisan aku…
Dee tertawa
Kamu ini, komentar Dee, Memang senangnya ngerjain aku. Masa tiap kali kamu bikin posting terus aku dapat PR untuk meneruskan posting yang kamu tulis?
Kuti terbahak.
Kuti memang selalu senang berbuat iseng seperti itu, meminta sang istri menulis ini dan itu. Dia sungguh menikmati saat-saat dimana Dee menggerutu karena mendapat PR dari sang suami untuk meneruskan tulisannya, tapi toh pada akhirnya menuruti juga permintaan itu, dan lalu biasanya bahkan akan menulis panjang lebar tentang topik yang telah dibuka sang suami, seringkali bahkan lebih banyak dan panjang dari apa yang dituliskan Kuti.
Aku nggak mau nulis, ah… terdengar suara Dee.
Eh? Nggak mau nulis, katanya? pikir Kuti.
Dan seakan dapat membaca pikiran suaminya, Dee berkata, Iya betul, aku nggak mau nulis. Aku kan sedang berhenti berpikir, yang…
Kuti terbahak lagi.
yang… terdengar lagi suara sang istri.
Hmmm… jawab Kuti.
Aku betulan lagi nggak ingin nulis, kata Dee, Lagipula, tahun lalu aku kan sudah nulis banyaaakkkkkk sekali di sekitar hari Kartini itu. Aku ingat kamu nulis satu, lalu aku membuat…mmm… Dee tampak seperti berpikir, lalu katanya, Aku membuat… berapa ya? Mmm… satu… Jeda sejenak, Dua…
Dee diam seperti berpikir dan mengingat- ingat lagi, Tiga… Empat… Lima… lalu, Sembilan. Aku menulis sembilan buah posting untuk meneruskan sebuah posting kamu. Sudah banyak sekali yang aku tulis dulu. Kalaupun aku menulis lagi sekarang, isinya nggak akan terlalu jauh berbeda karena pendapatku masih sama…
Kuti tersenyum mendengar jawaban sang istri.
Nggak papa kan? tanya Dee pada suaminya, Ngga papa kalo aku nggak nulis hari ini, kan?
Kuti mengangguk, Iya, nggak apa- apa… Nyantai saja, Dee
Dee tertawa senang.
Kemudian, tak lama setelah itu, Dee menggeser duduknya, lebih merapat pada suaminya. Lalu…
yang… Dee menyentuh tangan sang suami.
Ya? jawab Kuti.
Peluk dong, pinta istrinya.
Kuti tersenyum.
Dan sungguh, bukan karena Kuti adalah anggota ISTI Ikatan Suami Takut Istri kalau dia dengan serta merta meraih tubuh Dee lalu memenuhi permintaan sang istri untuk memeluknya… ha ha ha…
p.s. i love you







selamat hari kartini, semoga isu kesetaraan gender dan penurunan peringkat derajat laki-laki akan semakin berkurang, kedua mahkluk yang berbeda ini, diciptakan untuk saling melengkapi..
Setuju…
d.~
huehehe…PR yg sinergis yaa….untung suami-istri ini mempunyai kegemaran menulis…coba kalo yg satu suka nulis tapi yg lain seorang kritikus,,,mungkin…hahaha….nggak tau lah jadinya….
eh, omong2 mas Kuti memang Suami yg paling baik dan paling lembut se-dunia….hehe
ha ha ha
d.~
Dee dan Kuti,
Saya pamit mau pindah ke Garut, mohon maaf kalo ada kesalahan. Semoga silaturahmi selalu terjaga…
Wish you all the best…
d&k.~