Dan gadis remaja itu menunjukkan pada kita seperti apa sebenarnya sportivitas.
SEPERTI apa seharusnya kompetisi yang sehat.
Aku sedang berada di depan komputer, membaca email dan dokumen- dokumenyang dikirimkan Kuti padaku. Belakangan ini ada beberapa hal tertentu yang sedang kubicarakan bersama Kuti dansehubungan dengan ituaku perlu membaca emailsertadokumendarinya.
Saluran internet di rumahku ada di ruangan yang sama dengan ruang dimana televisi berada.Karenanya sambil membaca email serta dokumen yang dikirimkan Kuti dan berusaha mencerna isinya, pada saat yang sama aku juga menyaksikan Grand Final Indonesia Mencari Bakat di layar televisi.
Dan harus kukatakan, kita harus mengacungkan jempol pada kedua finalis acara tersebut, baik Klantink maupun Putri Ayu. Bukan hanya kepada mereka, tapi patutlah pula kita mengangkat topi pada pembuat konsep acara tersebut.
Lihatlah acara ini, acara dimana banyak orang membuatnya sebagai tangga untuk menggapai bintang. Sebagai jembatan untuk meraih cita.
Tapi seketat apapun kompetisi yang terjadi, aura persahabatan itu kental terasa.
Bukan hanya pada kedua finalis yang berada di urutan teratas, tapi pada beberapa finalis lainpun kehangatan persahabatan itu terasa.
Tidak sama memang. Harus diakui, tidak semua finalis memiliki kedalaman rasa persahabatan serta sportivitas dengan level yang sama terhadap teman yang sekaligus juga pesaingnya dalam kompetisi tersebut.
Tapi ada beberapa orang yang sangat jelas mengalirkan rasa persahabatan dan memiliki tingkat sportivitas yang tinggi itu.
Klantink sang pemenang sendiri, memang berpembawaan santai. Jadi tampaknya bagi mereka semua itu dijalani dengan gaya enjoy aja lagiiii Tapi diluar Klantik, aku menemukan dua orang yang tampak jelas selalu mempersiapkan penampilannya dengan serius, bekerja keras, siap berkompetisi, tapi tetap tampak rendah hati dan ketika mereka kalah, mereka menerima hal tersebut dengan lapang dan sikap yang sangat wajar.
Hudson si manusia dua wajah dan Putri Ayu yang berusia 13 tahun dengan nyata menunjukkan kematangan mental dan kelapangan hati mereka.
Hudson memang sudah dewasa. Tapi lihatlah Putri Ayu. Gadis itu berusia 13 tahun, dan di usiayang konon rawan gejolak inidia dengan tenang menerima kekalahannya.Putri tersenyum lebar ketika nama Klantink disebut sebagai pemenang dengan selisih voting yang amat-sangat-tipis dibandingkan perolehan angkanya sendiri. 50,03 % berbanding 49.97%.
Wow!
Gadis remaja cantik itu tegak berdiri, tersenyum dengan tenang dan menggumamkan: hebat, selamat..
***
Selalu ada yang menang dan yang kalah dalam sebuah kompetisi.
Dan tak selalu yang menang itu sebetulnya lebih baik ( secara teknis ). Seringkali sang juara memang lebih baik tapi kadangkala sebetulnya setara, atau bahkan tak lebih baik.
Tapi itulah hidup. Begitulah fakta yang harus diterima dalam kehidupan ini. Bahwa belum tentu yang sebenarnya memiliki potensi yang lebih besarlah yang berada di puncak.
Itu biasa. Karena akan ada banyak faktor terlibat saat menentukan siapa yang jadi juara dalam sebuah kompetisi.
Hanya saja, yang ingin kugaris bawahi di sini adalah apakah ketika upaya untuk mencapai puncak itu dijalankan, sportivitas dan rasa persahabatan juga tetap dijaga?
Berapa sering kita melihat bahwa kompetisi, alih- alih menghasilkan persahabatan, malah menjadi sumber pertikaian.
Pertandingan olah raga yang seharusnya mendorong tumbuhnya manusia dengan jiwa dan raga yang sehat bahkan bisa menjadi sumber silang sengketa yang berbuntut kerusuhan dan perkelahian.
Di dalam organisasi, di sekolah, kampus, di tempat kerja, di banyak tempat, sportivitas dan persaingan sehat seakan tak lagi dikenal. Banyak orang yang hanya mengenal satu cara: bahwa untuk menjadi pemenang, maka para pesaing harus disingkirkan dengan menghalalkan segala cara. Sikut dan tendang menjadi senjata rutin.
Jangankan berkolaborasi, yang terjadi adalah fitnah, kampanye hitam dan pembunuhan karakter.
Jangankan persabahatan, yang ada adalah saling tuduh, mencaci dan memaki satu sama lain.
Mengapa itu terjadi?
Mengapa kita sekarang tak lagi siap menghadapi kompetisi sehat?
Mengapa kita sekarang cenderung menyingkirkan pada kompetitor dengan cara- cara yang kotor?
Mengapa bahkan ketika seharusnya bekerja sama sebagai suatu team-pun, beberapa orang berusaha saling menjegal sesama anggota team tanpa menyadari bahwa ketika yang dijegal itu adalah orang yang seharusnya dianggap bagian dari team, maka orang yang menjegal sebetulnya juga sedang merusak jalannya sendiri. Karena jika orang yang diganggu itu nanti akhirnya jatuh terjerembab, maka yang lain, termasuk orang yang mengganggunya akan terkena dampaknya, sebab formasi menjadi pincang, bolong dan tak lengkap serta estafet pekerjaan tak berlangsung mulus dan terputus.
Ini memang masalah mentalitas.
Dan membangun sikap mentaljelas bukan perkara instan. Apa yang kelak muncul di masa dewasa sebetulnya semua telah terbangun sejak jauh sebelumnya. Sejak masa balita, bahkan batita. Termasuk perkembangan dimasa remaja.
Pendidikan mengenai menjaga hak orang lain, kejujuran, etika, kerja keras, sportivitas, memang tak bisa diberikan dalam sekejap. Itu adalah pendidikan jangka panjang yang melibatkan pikiran dan rasa.
Pikiran dan rasa yang ditempa dan dihaluskan sedikit demi sedikit dalam suatu perjalanan panjang yang pasti tak mudah.
Pembangunan mental merupakan pembangunan fondasi. Yang tak tampak dipermukaan, tak pula dapat dipoles atau dicat, tapi sebenarnya sangat penting karena fondasi inilah yang menentukan apakah jika ada goyangan kecil atau bahkan goyangan besar dan gempa bumi bangunan utama akan rubuh atau tidak
Sayangnya, justru karena tak terlihat di permukaan itulah pembangunan fondasi ini sering diabaikan.
: Karena banyak dari kita sekarang bahkan tak lagi memiliki hati yang cukup peka untuk dapat mengenali yang mana loyang yang mana emas.
: Karena banyak dari kita lebih suka memoles tampilan daripada mengurus isi
Sayang sekali.
p.s.i love
picture taken from: blogs.smh.com.au








hidup klantink… arek gresik mendukungmu
hahaha, klantik memang asyik ya? dan wawan itu ganteng banget ( lhooo??? hahaha… eh tapi bener kan dia ganteng?
) d.~
sikap sportif mereka patut ditiru…
ya kita semua memang mesti terus belajar.. kan katanyaaaa tiap situasi bisa dijadikan bahan pembelajaran
d.~
nice, mengungkap sisi lain dari ajang tersebut..
he he, terimakasih.. d.~
Seorang brandon anak kecil yang mampu berdiri dan dikomentari di ribuan mata, kalau saya tidak sanggup berdiri disana, sambil jwab koment, mereka memang contoh anak bangsa yang membanggakan
siip. sportif, menerima kekalahan. memang bukanlah sesuatu yg datang sendiri. tapi sesuatu yg memang harus dilatih, bukan ??
salam kenal, saya ayu dri surabaya, jalan2 ke blog saya yuk
sankyuu~
Kenapa bukan Hudson yang menang?
oh..kenapa?..hiks…
*kayak yang ikut sms aja..hihihi…*
hehehe, ini kesalahan ada pada juri, pas 4 besar, ngapain juga ada yang ‘diselamatkan’ segala?
dengan ada yang ‘diselamatkan’, maka salah 1 dari 3 sisanya pasti ada yg harus tersingkir… dan mungkin di kepala juri2, yang akan tersingkir bukan Hudson, ternyata malah Hudson. liat kan jurinya aja ada yg nangis pas Hudson tersingkir?
sebetulnya andai saja saat 4 besar itu dibiarkan saja mereka bersaing bebas, bisa jadi yg diselamatkan itu yang tersingkir, dan kompetisi 3 besarnya akan makin seru karena masih ada Hudson.
btw, aku juga jadi malas nonton kompetisi ini setelah Hudson tersingkir, he he he… yang masuk 2 besar itu yang satu bagus secara teknis, yang satu menghibur banget.. jadi mereka juga patutlah ada di rank atas. cuma saja, jika dibandingkan Hudson.. he he, Hudson itu bagus secara teknis DAN menghibur. jadi dia itu paket komplit… sayang sekali memang…
anyway, ya namanya juga kompetisi… selalu ada kuda hitam, itu biasa dan itulah yang membuat kompetisi jadi seru karena ada kejutannya. sepanjang kompetisinya kompetisi sehat sih ngga papa juga…
( eh kenapa jawabannya jadi panjang ya? ketauan banget aku juga ngefans sama Hudson ya, ha ha ha
) d.~