Kerinduan yang mendesak- desak itu
AKHIR- akhir ini, rasa rindu itu meluap lagi. Rindu yang sebenarnya memang tak pernah hilang dari dada, tetapi kucoba kendalikan dengan berusaha bersabar bersabar bersabar
Tahun lalu, seperti pernah kutuliskan dalam blog ini, kami berkesempatan untuk beribadah umrah. Orang tuaku, adikku beserta istrinya serta kami sekeluarga (aku, suami dan anak- anak), berangkat bersama- sama ketika itu.
Dan saat itulah akhirnya kumengerti apa yang selalu dikatakan orang yang pernah berkunjung ke Tanah Suci, bahwa akan ada rasa rindu yang memenuhi dada, untuk segera kembali ke sana.
Itu pula yang kualami saat itu
Rindu itu, bahkan telah membanjir memenuhi jiwa ketika aku masih berada di sana. Saat berada di Mekah, sehari menjelang kepulangan kami, aku memanjatkan doa yang tak biasa pada Yang Maha Kuasa. Memohon agar Dia menunda perjalanan pulang kami. Entah dengan cara apa. Barangkali pesawat yang ditunda terbangnya, atau apapun yang akan mengharuskan kami tinggal sehari atau dua hari lebih lama di Mekah.
Doa itu tak terkabul. Kami tetap pulang sesuai apa yang telah dijadwalkan. Perjalanan pulang kami lancar, pesawat berangkat dari Jeddah dan tiba di Jakarta tepat waktu. Sesuatu yang, toh juga kusyukuri.
Tak apa tidak dikabulkan untuk berada di Mekah lebih lama saat itu, batinku, tapi semoga pada suatu saat nanti kami diberi kesempatan untuk kembali ke sana.
Dan rasa itu terus memenuhi hatiku sejak saat itu hingga sekarang. Beberapa saat terakhir ini bahkan kadang- kadang aku seperti melihat gambar- gambar Masjid Nabawi, atau keping- keping gambar kenangan lain dari Tanah Suci membayang di pelupuk mata.
Dan rindu itu membuncah lagi. Rasa nyeri yang nikmat itu memenuhi hatiku lagi.
Dan aku sungguh bersyukur bahwa kuterima karunia berupa rasa rindu itu. Sebab rindu itu, rindu yang sungguh membahagiakan. Rindu yang menerbitkan harapan. Rindu yang membuat doa seringkali terucap, doa agar diberi kesempatan untuk kembali kesana lagi. Segera segera
***
Dan dalam pelukan rindu semacam itulah kutuliskan kisah ini.
Kisah indah, sangat indah yang menutup rangkaian kisah ibadah umrah kami kala itu. Kisah sangat indah yang bahkan selama ini tak sanggup kutuliskan sebab melibatkan emosi yang sangat dalam. Yang kutahu, akan bisa membuatku bercucuran air mata tanpa terkendali.
Tapi, hari ini kutuliskan juga kisah itu. Sebab rindu itu menggelegak lagi di dalam dada. Membanjir, meluap
Dan kisah indah itupun terkenang kembali
***
Menjelang subuh saat itu. Hari terakhir kami berada di Mekah.
Kami sedang berthawaf melaksanakan umrah kami yang kedua kali ( bagiku, ketiga kali, sebab diantara dua umrah yang terjadwal dalam rombongan, aku dan beberapa kawan serombongan menambahkan satu kali umrah lagi, sehingga jumlahnya menjadi tiga kali ).
Tak semua anggota rombongan turut melaksanakan umrah hari itu. Beberapa diantaranya mencukupkan umrah sekali saja selama di Mekah. Dan tak ada masalah mengenai semua itu. Bagiku sendiri, apa yang dipilih untuk dilakukan atau tak dilakukan oleh masing- masing anggota rombongan adalah baik, sebab semua tentu memiliki alasan.
Kami sekeluarga memutuskan untuk melaksanakan umrah tersebut lagi di hari itu.
Saat berthawaf mengelilingi Kabah itu, aku bejalan bersisian dengan putriku. Dan suatu saat di tengah- tengah thawaf itu, dia berkata padaku bahwa wudhu-nya batal.
Tak ada masalah untuk mengatasi wudhu yang batal itu, sebab kami memiliki air di dalam botol spray yang kami bawa. Putriku berwudhu kembali dengan air dalam botol itu, dan kami melanjutkan thawaf. Hanya saja, sebab ada satu putaran thawafnya yang batal, putriku akan harus menambahkan satu putaran lagi nanti untuk menggenapkan thawafnya.
Jadi, ketika seluruh rombongan selesai melaksanakan thawaf dan bergerak keluar lingkaran, putriku melanjutkan thawafnya.
Tentu saja, tak kubiarkan dia berthawaf sendiri. Kutemani dia mengelilingi Kabah walau aku sendiri telah menyelesaikan thawafku. Tentu tanpa niat berthawaf dan menjalankan ritual yang biasa dilakukan oleh orang yang berthawaf lagi sebab aku memang hanya menemani putriku saja.
Kuberikan isyarat pada suamiku, mengatakan padanya bahwa putriku perlu menambahkan satu keliling thawafnya dan aku akan menemani dia. Kukatakan bahwa seusai thawaf itu kami akan bergabung dengan rombongan.
Seperti pernah kutuliskan, saat melaksanakan ibadah umrah yang lalu itu, aku tak membuat terlalu banyak target. Sebab kami berangkat dengan ayahku yang kondisi fisiknya kurang fit sebab sedang sakit, dan juga dengan anak kecil, kami tak mematok keinginan untuk melaksanakan ini dan itu yang banyak dicita- citakan orang ketika berkesempatan melaksanakan ibadah umrah atau haji saat berada di Madinah atau di Mekah.
Bahwa dengan kondisi semacam itu kami semua ternyata bisa masuk ke Raudhah ketika berada di Madinah, telah sangat kusyukuri.
Saat berada di Mekah, tak kubebani diriku dengan keinginan- keingian untuk menyentuh Kabah, berdoa dalam jarak yang sangat dekat di Multazam (bagian yang terletak diantara Hajar Aswad dan pintu Kabah), apalagi mencium Hajar Aswad seperti yang banyak diimpikan orang, yang pastilah sangat sulit tercapai.
Bagiku, bisa melaksanakan umrah dengan lancar saja sudah akan sangat kusyukuri. Sebatas itu saja keinginanku.
Tapi, memang, apapun bisa terjadi, jika Yang Maha Memberi berkehendak. Dan seringkali Yang Maha Pemurah memberikan sesuatu yang bahkan tak pernah kita impikan akan bisa terjadi…
(bersambung )
p.s. i love you…
** gambar diambil dari: islamset.com **








indah sekali,,,tulidsannya,,,membuat saya semakin ingin pergi kesana,,,^_^
menanti giliran memenuhi panggilan Allah ke kota suci Mekkah dan Madinah.
Sudah dapat jadwal keberangkatannya, mbak? semoga rindu itu segera terpenuhi lagi..lagi..dan lagi…
He he, belum, Mechta.. masih nunggu antrian dan berdoa semoga entah gimana caranya waktunya bisa dipercepat
d.~
Terimakasih doanya… doa yang sama untuk Mechta, semoga bisa kembali ke sana lagi… lagi dan lagi…