Senja yang tenang
SEPERTI kebiasaan mereka, si kembar Nareswara dan Nareswari terlelap di jam- jam seperti ini. Sementara Pradipta dengan asyik menumpuk dan menyusun keping- keping kayu membentuk rel kereta yang melingkar- lingkar.
Kuti duduk membaca koran. Dee, berada di sampingnya, memotong- motong pepaya ke dalam piring kecil. Salah satu diantaranya diberi kucuran jeruk nipis. Itu piringnya. Dua piring yang lain, untuk Kuti dan Pradipta, tidak diberinya tambahan apapun. Kuti dan Pradipta tak terlalu menyukai tambahan rasa asam pada papaya mereka seperti Dee.
Pepaya, yang Dee menyodorkan sepiring kecil pepaya itu pada suaminya.
Kuti mengangguk sambil mengucapkan terimakasih.
Dipta, panggil Dee kemudian, Ini ada pepaya
Ya Bunda, terdengar suara Pradipta menyahut sambil menghampiri Dee. Dia menerima piring kecil yang disodorkan Dee dan membawanya ke tempat dimana dia sedang menyusun rel kereta mainan tadi.
Eh yang terdengar Dee berkata pada Kuti, Seminar parenting yang beberapa hari lalu aku ikuti itu bagus sekali, lho
Kuti tahu, Dee hadir dalam sebuah seminar beberapa hari yang lalu. Oh itu. Apa saja yang dibahas, Dee?
Banyak, jawab Dee, Topik utamanya adalah tentang pengasuhan anak, kondisi yang dihadapi saat ini, dan bagaimana mempersiapkan anak untuk dapat memenuhi tuntutan dan tantangan hidup kini dan di masa depan. Hal- hal semacam itulah. Tapi kalau buat aku, yang paling menarik saat seminar itu adalah sesi tentang aplikasi hypnosis dalam parenting
Kuti diam mendengarkan.
Dalam sesi tentang hypnosis itu, pembicaranya mengingatkan para orang tua yang hadir untuk selalu berhati- hati saat bicara dengan anak- anaknya. Terutama ketika anak- anak tersebut masih belia, kira- kira usia 11 tahun ke bawah, dimana kemampuan untuk berpikir kritis belum berkembang dengan baik, apapun yang dikatakan orang tua akan menjadi sabda dan semacam mantera yang akan terekam dalam memorinya dan menuntunnya tumbuh menjadi seperti apa yang dikatakan orang tua tersebut
Hmmm. Kuti mengerti.
Karena itulah orang tua sebaiknya selalu berkomunikasi dengan cara yang positif dengan anak- anaknya, ya? komentar Kuti.
Dee mengangguk.
Benar, itu yang dikatakan kemarin. Jika orang tua sering mengatakan pada anak bahwa dia nakal, dia bodoh, maka hal tersebut akan tertekam lalu menjadi semacam program yang akan membentuk dia menjadi anak yang nakal dan bodoh. Begitu juga sebaliknya, jika hal- hal positif yang selama itu dimasukkan oleh orang tua kedalam memori anak- anaknya, maka hal- hal positif itu yang akan terekam dan membantu anak- anak membentuk jati diri dan kepribadian yang positif pula
Kuti mengangguk memahami.
Yang menarik, yang kata Dee, Ada sesi tentang hypnosis yang diajarkan kemarin. Dasar teorinya adalah bahwa saat anak tidak berpikir kritis dan tidak membantah maka sugesti akan mudah dimasukkan. Ada teknik hypnosis yang bisa dilakukan orang tua pada anak, terutama jika apa yang ingin disugestikan orang tua ini sulit dilakukan saat anak dalam keadaan sadar, sebab mungkin anak akan membantah. Atau bisa juga ini dilakukan jika sudah terlanjur melakukan kesalahan program dengan bicara hal- hal yang negatif pada anak tersebut sebelumnya.
Oh, gitu? Gimana caranya? tanya Kuti ingin tahu.
Sebelum masuk kesitu, ada satu hal dulu yang perlu diketahui, kata Dee, Yaitu hypnosis akan bisa dilakukan pada orang- orang yang masuk dalam keadaan antara sadar dan tidur, kata Dee. Makanya tanpa teknik khususpun, sebetulnya secara alamiah, ada saat- saat semacam itu. Yaitu pagi hari saat baru bangun atau malam hari menjelang tidur. Ketika mereka setengah mengantuk itulah beragam petuah yang dimasukkan oleh orang tua akan diserap dengan sangat baik oleh mereka
Jadi, kata Dee lagi, Kebiasaan mendongeng dan mengobrol dengan anak menjelang mereka tidur itu memang kebiasaan yang bagus sekali. Juga, dipesankan saat seminar kemarin itu untuk membangunkan anak- anak dengan cara yang manis dan baik. Sebab apa yang terjadi di pagi hari itu akan mempengaruhi kondisi anak sepanjang hari…
Kuti mengangguk lagi. Tentu saja dia pahami dengan baik hal semacam itu.
Kembali ke teknik hypno tadi, yang, kata Dee pada suaminya, Yang diajarkan adalah teknik hypno saat anak- anak sudah tidur. Pada situasi seperti ini anak tidak akan mengkritisi dan tidak membantah apa yang dikatakan orang tuanya, jadi sugesti akan mudah dimasukkan.
Caranya, kata Dee lagi, Tunggu sampai anak benar- benar sudah tidur, lalu dibangunkan sedikit, misalnya dengan cara disentuh, agar dia ada dalam keadaan antara tidur dan terjaga.
Lalu? tanya Kuti, tertarik pada apa yang diceritakan istrinya.
Ya lalu katakan pada anak tersebut, jika dia mendengar suara orang tuanya, berikan tanda dengan mengacungkan jempolnya, misalnya. Nah perhatikan saja, jika dia memberikan kode seperti yang diminta, artinya dia siap untuk mendengarkan sugesti dari orang tuanya
Setelah itu, kata Dee melanjutkan ceritanya, Orang tua bisa memasukkan faham atau pemikiran yang ingin dia masukkan pada anaknya. Misalnya, untuk anak yang selama ini menganggap matematika itu sulit dan tak menyenangkan : Nak, matematika itu mudah. Mulai hari ini dan seterusnya, kamu akan menikmati pelajaran matematika, dan bisa mendapatkan nilai yang baik dalam pelajaran matematika.
Oh, begitu ya? kata Kuti. Menarik sekali, Dee, katanya lagi.
Dee mengangguk. Memang, menarik sekali. Dan ini sebenarnya kan teknik sederhana yang bisa dilakukan setiap orang
Dee mengambil sekerat pepaya dari piringnya dengan garpu. Dikunyahnya perlahan pepaya itu.
Tiba- tiba dia teringat sesuatu, Eh, ada satu hal yang penting, yaitu saat memberikan hypnosis, gunakan selalu kalimat positif. Contohnya: kamu sehat, bukan kamu tidak sakit, kamu suka matematika, bukan kamu tidak membenci matematika
Kuti mengangguk memahami. Digigitnya sepotong pepaya. Sambil menikmati buah itu, dia berpikir, memang, sebagai orang tua kita harus terus berkembang dan terus menerus mendidik diri sendiri untuk bisa menjadi lebih baik dan untuk membesarkan anak- anak dengan cara yang positif. Saat anak dilahirkan, dia serupa kertas putih. Orang tualah yang memberi gambar dan warna di atas kertas putih tersebut. Positif negatifnya yang terjadi saat tumbuh kembang anak akan banyak tergantung pada para orang tua.
Memang tak mudah menjadi orang tua yang baik, tapi orang tua bisa belajar untuk terus berusaha mencapai hal tersebut. Demi cinta pada anak- anak, para malaikat kecil itu…
p.s: we love you all…








Aku sering merasa tidak optimal mendidik anak-anak, untuk membentuk karakter positif pada anak-anak itu memang perlu kesabaran luar biasa. Kadang jika sudah tak sabar, aku marah. Misalnya jika anak-anak tidak mengikuti permintaanku, seperti tidak mau tidur padahal hari sudah sangat malam dan siangnya pun mereka tidak cukup istirahat, atau hal-hal khas anak-anak lain yang kadang bikin kesel tapi kalau dipikir: iya namanya juga anak-anak.
Jadi biasanya kalau aku sudah marah seperti itu, saat mereka hampir lelap, aku memeluk mereka dan bilang “Mama minta maaf karena salah marah seperti itu”, biasanya sih mereka memeluk balik dan bilang, “Iya, mama harusnya calm down”
hahaha
Hei anak zaman sekarang itu sebenarnya lebih kritis daripada anak-anak dizaman dulu meski usianya masih dibawah 11 tahun
Mereka sanggup “meluruskan” hal-hal yang kurang patut yang dilakukan oleh orangtuanya. Btw, memaang anak-anak perlu diberikan pola asuh yang positif didalam rumahtangga serta do’a yang selalu menyertai pertumbuhannya
tulisan yang keren…
praktekin ah…
sungguh besar sekali yahhh jasa kedua orang tua itu….
tulisan yang menarik dan bermanfaat… sukses selalu
keren..
Tulisan ini benar2 bisa menjadi “obat mumet” Bagi orang tua yang lumayan mumet dalam membesarkan anak… Wah Apalagi kedua putra saya… Kritisnya luar biasa… Hedeeehhhh
Keren pencerahannya…
Salam _