Anakmu bukanlah milikmu. Mereka putra-putri kehidupan yang rindu pada dirinya sendiri…~ Kahlil Gibran
MALAM sudah beranjak larut. Anak- anak sudah terlelap sejak tadi. Tinggal Dee dan Kuti yang terjaga. Kuti bersiap- siap di depan televisi, menanti siaran langsung final Piala Eropa. Team favorit Kuti, team Inggris, telah tersingkir di perempat final saat dikalahkan team Italia melalui melalui adu penalti. Tapi hal itu tak menyurutkan semangat Kuti untuk menyaksikan final Piala Eropa ini.
Dee sendiri sedang membaca beberapa puisi indah dari sebuah buku puisi tua miliknya. Dia berhenti sejenak pada sebuah puisi ditulis oleh Asrul Sani.
Dee membaca perlahan- lahan puisi tersebut, dan apa yang dibacanya membuat dia teringat pada Prameswari, saudaranya, ibunda Cintya dan Pratama.
Pagi tadi Prameswari dan suaminya, Wirya, mampir ke rumahkayu untuk mengantarkan Pratama Sekolah memang sudah mulai libur, Pratama hendak menginap beberapa hari di rumah kayu.
Mereka mengobrol sejenak. Prameswari dengan Dee, Wirya dengan Kuti. Mudah diduga, topik percakapan Wirya dan Kuti adalah mengenai Final Piala Eropa yang sebentar lagi akan digelar, sementara Dee dan Prameswari mengobrol tentang topik favorit lain, yaitu anak- anak.
Dee bercerita tentang Pradipta yang baru saja memenangkan lomba menulis untuk anak- anak karyawan yang diselenggarakan oleh kantor Kuti. Dia juga menceritakan kelucuan- kelucuan si kembar pada Prameswari.
Dari sana, pembicaraan kemudian beralih pada Pratama. Lalu akhirnya setelah itu, Bagaimana kabarnya si kakak? tanya Dee pada Prameswari, Senang dia di sana?
Cintya, sepupu Pradipta yang biasa dipanggil dengan sebutan Kakak, baru saja beberapa minggu yang lalu berangkat ke kota lain untuk kuliah disana.
Dia baik- baik saja dan tampak ringan hati sekali, Dee, kata Prameswari.
Oh syukurlah, komentar Dee, Tidak heran sih, Kakak sudah ajeg, dan dia sudah tampak sangat siap untuk tinggal jauh dari orang tua. Tampaknya tak ada yang perlu dikuatirkan
Prameswari mengangguk. Ya Dee. Aku senang dia tampak bahagia seperti itu. Walau aku sering kangen sekali. Rumah rasanya sepi tanpa Cintya.
Dee tersenyum maklum. Tentu saja Prameswari akan sangat merindukan Cintya. Mudah diduga bahwa hal tersebut akan terjadi. Tapi Dee yakin, Prameswari pelan- pelan akan terbiasa dengan situasi semacam itu.
***
Dee masih membaca buku puisinya. Halaman bukunya terbuka pada sebuah halaman dimana sebuah puisi indah berjudul Surat dari Ibu yang ditulis oleh Asrul Sani ada di sana. Puisi itu menggambarkan bagaimana seorang ibu mendorong anaknya untuk pergi mengarungi lautan, menantang dunia, menggapai cita.
Dee menyukai puisi tersebut. Walau, dia tahu persis, situasi yang sebenarnya dihadapi seorang ibu ketika anaknya pergi jauh dari rumah, untuk alasan yang baik sekalipun, sebenarnya tak semudah itu.
Dee kembali teringat pada Prameswari yang tadi menunjukkan sebuah SMS di telepon genggamnya.
Baru aku terima pagi tadi, Dee, kata Prameswari.
Dee membaca SMS itu. Dari Cintya.
Ibu, begitu yang ditulis Cintya, Aku baru baca info beasiswa untuk belajar di luar negeri. Ada program studi bio molekuler. Tampaknya menarik. Aku mau daftar ya, boleh ?
Oh. Dee terperanjat.
Cintya baru saja memulai program matrikulasinya sebagai mahasiswa baru yang diterima melalui jalur undangan tanpa testing di sebuah perguruan tinggi negeri yang terkenal. Masa kuliah resmi bahkan belum lagi dimulai. Dan kini, gadis remaja itu bahkan sudah bergerak lagi mencari peluang lain.
Elang kecil itu memang telah tumbuh menjadi seekor elang dengan sayap yang kuat untuk terbang tinggi menantang dunia, ternyata.
Lalu, bagaimana jawabmu? tanya Dee pada Prameswari.
Prameswari tersenyum.
Aku jawab, ya boleh, daftar saja untuk mendapatkan beasiswa itu. .
Rela dia pergi makin jauh? Bukan hanya ke luar kota, tapi ke luar negeri lho, kata Dee, Jika dia dapatkan beasiswa ini, tahun depan dia sudah akan berangkat, bukan ?
Dee melihat Prameswari menghela nafas panjang, dan tetap berusaha tersenyum, walau sekilas Dee melihat matanya mulai berkaca- kaca.
Ya. Biarlah dia gapai cita- citanya setinggi yang dia inginkan, Dee. Aku rela. Harus rela, jawab Prameswari.
Dan sekali lagi, seperti beberapa minggu yang lalu di hari ketika si kakak hendak berangkat untuk mendaftar ulang ke kota dimana kampusnya berada, Dee memahami perasaan Pramewari.
Dee paham, sungguh paham. Tak mudah menjadi orang tua, memang. Betapa ingin rasanya terus mendekap anak- anak itu. Betapa inginnya agar mereka tetap berada dekat dengan kita orang tuanya. Tapi tentu tak bijak untuk menahan langkah mereka menggapai cita.
Dee menoleh ke arah televisi. Tampaknya final Piala Eropa sudah akan segera dimulai. Dia menutup bukunya lalu beranjak berdiri. Kuti tentu tak akan menolak jika ditawari segelas coklat hangat untuk menemaninya menonton pertandingan bola malam ini.
Dee mengaduk coklat hangat dalam gelas. Satu untuknya. Satu lagi untuk Kuti. Dan puisitentang bagaimana seorang ibu mendorong anaknya untuk menjelajahi duniayang tadi dibacanya terbayang- bayang kembali dalam angan dan pikirannya.
Pergi ke dunia luas, anakku sayang
pergi ke dunia bebas !
Selama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinari daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau
Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas!
Selama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau
Jika bayang telah pudar
Dan elang laut telah pulang ke sarang
angin bertiup ke benua
Tiang- tiang akan kering sendiri
dan nakhoda sudah tau pedoman
boleh engkau datang padaku !
( Asrul Sani, Surat dari Ibu )
Ah, Dee sungguh ingin tahu, adakah sang ibu yang dituliskan dalam puisi Asrul Sani ini walau mendorong anaknya untuk pergi ke dunia luas seringkali juga diam- diam menyusut air mata, seperti yang terjadi pada Prameswari ketika dia merindukan Cintya, sang gadis remaja yang sedang berupaya terbang semakin tinggi untuk meraih bintang itu?
p.s. i love you
** gambar diambil dari: www.scenicreflections.com **








tulisan yang indah sekali…