Suatu senja di bulan puasa
DEE menaruh dengan hati- hati martabak mini buatannya dalam sebuah kotak. Sejak tadi dia sibuk membuat martabak- martabak yang sore ini akan dikirimkannya ke masjid di dekat rumah sebagai penganan berbuka puasa.
Setiap bulan ramadhan, para warga di lingkungan tersebut memang bergantian mengirimkan berbagai makanan untuk berbuka puasa ke masjid tersebut sehingga saat adzan maghrib berkumandang, akan ada penganan cukup untuk membatalkan puasa bagi orang- orang yang saat itu ada di masjid.
Bukan hanya yang beragama Islam, beberapa warga yang memeluk keyakinan yang berbeda juga bahkan turut berpartisipasi dalam hal itu. Jeanette, orang tua Martin, tetangga di sebelah rumah kayu, adalah salah seorang yang setiap tahun selalu berpartisipasi dengan turut mengirimkan penganan kecil buatannya untuk dipergunakan berbuka puasa.
Si kembar Nareswara dan Nareswari, seperti biasa, berkeliaran sekeliling rumah kayu sambil mengoceh. Dee menawarkan martabak buatannya kepada mereka berdua. Pradipta, tak turut ditawari martabak itu oleh Dee. Pradipta yang saat itu sedang duduk bercakap- cakap dengan Kuti sudah mulai belajar berpuasa penuh sekarang.
Pradipta, baru saja kembali ke rumah setelah menginap di sekolah selama dua hari untuk mengikuti kegiatan pesantren kilat. Dan kini Kuti sedang mengajaknya mengobrol tentang kegiatan itu.
***
Jadi, gimana Dipta, senang pesantrennya? tanya Kuti pada Pradipta, Tahun depan mau ikut lagi?
Dee melirik Pradipta. Dilihatnya sang anak mengangguk spontan.
Ya, jawab Dipta, Mau ikut lagi. Pesantrennya seru.
Ah, pikir Dee. Sekolah Pradipta tampaknya berhasil membuat kegiatan pesantren itu menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi murid- murid yang mengikutinya.
Ada banyak hal yang disukai Dee di sekolah Pradipta.
Sekolah itu adalah sekolah umum. Bukan sekolah berbasis agama tertentu. Dee menyukai konsepnya sebab di sekolah itu, pelajaran agama diajarkan secara mendalam untuk masing- masing pemeluknya, tetapi secara natural dalam interaksi sehari- hari toleransi juga terjadi antar murid dan guru yang berbeda agama.
Setiap siang, misalnya, murid- murid yang beragama Islam melaksanakan shalat berjamaah di sekolah. Pada saat yang sama, para murid yang beragama lain masuk ke ruangan yang berbeda- beda untuk mempelajari agamanya masing- masing.
Bukan hal yang aneh di sekolah itu jika pada siang hari seorang guru agama lain yang hendak menuju ke kelas yang hendak dia bimbing sesuai keyakinan agamanya berpapasan dengan para siswa muslim di lorong sekolah sementara waktu shalat berjamaah sudah tiba, guru tersebut mendorong mereka untuk segera bergabung di tempat dimana shalat berjamaah dilaksanakan.
Pesantren kilat yang diselenggarakan bagi para murid di sekolah itupun, tampak sangat demokratis dan egaliter. Tak ada paksaan untuk mengikuti pesantren. Kegiatan ini dibuat sebagai sebuah kegiatan ekstra dimana murid yang ingin mengikuti dipersilahkan mengikutinya, sementara yang tak hendak mengikuti tak dipaksa untuk melakukannya.
Tapi, mayoritas murid di sekolah itu memilih untuk mengikuti pesantren semacam itu di sekolah setiap tahun dengan senang hati.
Sekolah tersebut, menurut Dee, sudah berhasil menanamkan pelajaran agama tanpa membuat murid- murid merasa tertekan atau takut. Kecintaan pada kegiatan keagamaan dan pelajaran moral disampaikan sesuai dengan usia anak- anak tersebut.
Hari pertama, setelah shalat Isya dan tarawih ada fragmen, Pa, Pradipta bercerita pada Kuti.
Dee terus memasukkan martabak- martabak ke dalam kotak, berusaha menyusunnya dengan rapi sementara dia terus mendengarkan cerita si kecil pada sang ayah.
Pradipta menceritakan tentang fragmen yang dipentaskan guru- guru yang menyisipkan banyak pelajaran tentang akhlak yang baik di dalamnya. Disusul dengan kegiatan- kegiatan lain yang mereka lalukan. Lalu mengenai jam berapa mereka sahur saat di pesantren di sekolah itu serta menu sahur dan buka puasanya. Juga cerita tentang bagaimana Pradipta mengalih fungsikan selimut empuk yang tadinya dimaksudkan untuk membuat lapisan di atas sleeping bag-nya menjadi lebih tebal dan lunak menjadi bantal.
Dee dan Kuti terlupa menyertakan sesuatu untuk dipergunakan sebagai bantal bagi Pradipta yang bersama kawan- kawannya menginap di dalam ruangan kelas saat pesantren dilaksanakan tapi rupanya Pradipta bisa mengatasi kondisi itu sendiri. Dee senang sekali. Dari hal- hal kecil semacam itulah Pradipta akan belajar bagaimana cara menghadapi masalah- masalah yang harus dipecahkannya dalam hidup.
Suara Pradipta terus terdengar bercerita. Lalu pada suatu saat, terdengar suara Kuti bertanya, Jadi, apa kegiatannya anak- anak yang tidak ikut itu?
Ada tugas, Pa. Ada topik yang harus ditulis.
Jadi teman- temanmu itu tetap berada di kelas? kata Kuti.
Dee melirik Pradipta yang tampak mengangguk.
Dee menyimak cerita si kecil. Dan akhirnya dia menangkap apa yang sedang dikisahkan sang anak. Rupanya, ada kegiatan di malam hari untuk mengasah keberanian dan keyakinan para siswa untuk menghadapi malam dan meningkatkan keyakinan serta permohonan perlindungan kepadaNya dari beragam tantangan dan rasa khawatir yang timbul saat malam tiba.
Kegiatan itu dikemas dalam bentuk petualangan untuk menjelajahi area sekolah yang luas dalam gelap. Masing- masing kelompok diberi peta dan tugas ‘mencari harta karun’ dengan beberapa kegiatan yang mesti mereka selesaikan di masing- masing pos yang mereka lalui. Hanya satu senter kecil yang diberikan pada setiap kelompok.
Mula- mula diterangkan kegiatannya seperti apa, cerita Pradipta pada Kuti, Lalu ada pengumuman, untuk anak- anak yang setelah diterangkan merasa takut dan tidak berani ikut, boleh tetap tinggal di kelas dan diberi kegiatan lain.
Dee sungguh senang mendengarnya. Walau telah diberi penjelasan dan dorongan untuk berani, tetap ada murid- murid yang tidak siap untuk ikut serta dan sekolah tetap mendahulukan kesiapan masing- masing anak serta memberikan ruang bagi setiap anak untuk memilih.
Dipta ikut nggak, acara itu? dengan penasaran Dee pertanya.
Aku ikut, Bunda, kata Pradipta dengan tenang. Dan hanya itulah yang dikatakannya. Dia sama sekali tak menunjukkan sikap bahwa dia merasa dengan berani mengikuti kegiatan tersebut dia lebih hebat dari kawan- kawannya yang lain yang tak berani mengikuti. Pradipta menyikapi perpedaan kemampuan dan keberanian itu dengan sikap yang sangat wajar.
Dee sungguh gembira. Dia yakin, pendidikan mengenai toleransi dan pemahaman terhadap orang lain, penerimaan terhadap perbedaan yang diserap oleh Pradipta sejak dini akan membantunya menghadapi hidup dengan baik kelak di saat dewasanya.
Hidup dengan cara yang damai dan penuh kasih sayang dengan orang- orang lain di sekitarnya.
Sebab adalah fakta bahwa dunia ini diisi oleh beragam manusia, dengan bermacam latar belakang, bangsa, bahasa, agama serta budaya. Dan alangkah indahnya jika manusia yang beragam itu dapat hidup berdampingan dengan damai
p.s we love you…








Selamat Idul Fitri Rumah Kayu…
Mbak Dee & mas Kuti…. maaf lahir batin ya…