Memangnya Kalau Jenderal Tak Perlu Antri ?

6 Aug 2013

Beberapa hari yang lalu, kubaca peristiwa yang riuh dibicarakan di media…

ADA remaja (yang mengaku- ngaku) anak jenderal memaksa polisi membuka portal jalur bus Trans Jakarta.

Waduh.

Keterlaluan ya?

Iya, sih.

Tapi.. anak remaja itu aku rasa hanya meniru. Apa yang dilakukannya jelas tidak benar, namun jika dipikir- pikir, darimana dia mendapat akal serupa itu? Dan (buktinya) petugas toh membuka juga portal bus Trans Jakarta itu, kan?

Jika dia tidak membawa kartu nama seorang jenderal dan mengaku sebagai anaknya, rasanya walau remaja itu bersikeras serupa apapun, tak akan portal tersebut dibuka.

Artinya: ada alasan dibalik itu.

Jelas sudah menjadi rahasia umum bahwa jika sudah dikait- kaitkan dengan seorang jenderal, maka jalan pintas akan bisa dibuka.

***

13752950381747474043

Gambar: www.thesun.co.uk

Aku mempunyai pengalaman dalam hal ini.

Duluuu. Long…long time ago…

Sejak mulai bekerja dan kost, aku menjadi penumpang tetap kereta api untuk mudik di akhir minggu ke kota kelahiran.

Saat itu, kereta api masih menjadi primadona sebagai alat transportasi antar kota. Terutama di hari Jumat malam, atau Sabtu pagi, ke arah kota kelahiranku itu, dan Minggu malam atau Senin subuh kembali ke kota tempatku bekerja jalurnya ramai sekali.

Begitu banyaknya penumpang, sehingga tiket tak mudah diperoleh. Antrian selalu panjang.

Aku jarang mengantri mendadak di Hari-H, biasanya kupesan tiket seminggu sebelumnya. Antian untuk memesan tiket inipun, juga biasanya panjang. Apalagi jika kebetulan waktu liburan atau ada long week end.

Dan saat menjelang liburan semacam itulah suatu hari aku mengantri untuk memesan tiket.

Antrian mengular panjang.

Lalu ketika antrian bergerak maju dan aku berada di baris ketiga antrian, tiba- tiba seorang lelaki tinggi tegap dan berseragam militer yang baru datang maju begitu saja ke depan loket penjualan karcis.

Dia memegang selembar kertas.

Laki- laki di baris pertama sedang dilayani pembelian tiketnya oleh petugas loket ketika anggota militer itu datang. Orang yang menganti di depanku, di baris kedua, juga lelaki. Lalu aku. Di belakangku, juga lelaki lagi.

Petugas selesai melayani pengantri di baris terdepan dan orang di baris kedua maju, namun tiba- tiba

Lelaki berseragam militer itu mendesak masuk ke antrian dan menyodorkan kertas putih kepada petugas penjual tiket kereta. Dia mengatakan ingin membeli beberapa buah tiket untuk seorang jenderal yang namanya tertulis di kertas putih itu.

Rupanya kertas itu berisi memo permintaan pembelian tiket kereta.

Lelaki yang mengantri di depanku diam saja.

Aku jadi kesal. Enak saja, pikirku, kami semua mengantri panjang dan lamaaaaaa koq tiba- tiba ada yang nyelonong begitu saja ke baris depan tanpa rasa malu di depan puluhan orang yang berbaris mengular di antrian.

Kutunggu laki- laki di depanku yang diserobot gilirannya membuka suara.

Tapi dia tetap tak bereaksi.

Haduh!

Apa boleh buat, terpaksa aku yang bicara. Kukatakan pada laki- laki berseragam militer itu, Maaf pak, Bapak silahkan mengantri disana.

Kutunjuk ujung antrian yang jauh sekali jaraknya dari loket penjualan tiket.

Lelaki berseragam militer itu memandangiku dengan tatapan yang seperti agak heran.

Saat itu, militer memang seakan menguasai negeri ini.

Dia mengatakan padaku bahwa dia hendak membeli tiket untuk Jenderal Anu ( aku sudah lupa namanya sekarang, tapi saat itu dia menyebutkan sebuah nama).

Kukatakan padanya, Pak, ini loket penjualan tiket untuk umum. Silahkan mengantri. Saya tidak tahu apakah di stasiun ini ada loket khusus untuk Jenderal, jika ada, silahkan Bapak meminta perlakuan khusus disana. Jika tidak ada, itu ujung antriannya

Kutunjuk kembali antrian yang sudah lebih panjang lagi.

Pada petugas di loket penjualan, kukatakan begini, Mbak, tolong layani Bapak yang di depan saya ini. Sekarang giliran dia kan? Setelah itu, saya.

Kuingat hingga hari ini bahwa lelaki berseragam militer itu jadi salah tingkah. Dia tak melawan aku secara langsung, tapi tidak juga pergi dari depan loket.

Lelaki di depanku selesai dilayani. Lalu giliranku. Begitu selesai aku dilayani, anggota militer itu mendekat kembali ke loket, untuk meminta dilayani, tapi tak kubiarkan dia melakukan itu. Aku bicara lagi pada petugas di loket, Yang antri di belakang saya tadi, yang itu, tolong layani dia dulu kutunjuk seorang lelaki yang antriannya persis di belakangku.

Kutinggalkan loket penjualan tiket dan menuju pintu luar stasiun.

Dan.. ini yang (sebenarnya tidak) lucu. Sesaat kemudian, saat aku masih berjalan menuju pintu keluar, seorang lelaki berlari menghampiriku. Kukenali dia sebagai lelaki yang mengantri dibelakangku tadi. Rupanya, dia sudah mendapatkan tiket keretanya.

Dia menghampiri aku untuk mengucapkan terima kasih.

Ini yang dikatakannya, Mbak.. terimakasih ya mbak, tadi bilang begitu sama petugas di loket. Saya juga sebal sebetulnya tentara itu motong antrian. Tapi memang lebih baik memang perempuan yang bicara. Kalau laki- laki, jadi berantem nanti.

Aku hanya tersenyum kecil, tak mengatakan apa- apa.

Sejujurnya, aku tidak merasa senang sama sekali diterimakasihi semacam itu. Aku sebal. Pantas saja, praktek semacam itu berjalan terus, sebab banyak orang tak berani melawan. Lelaki di depanku, lelaki di belakangku, nyatanya semua memilih untuk tutup mulut.

Lagipula, buat apa terimakasih itu? Kenapa harus bicara begitu padaku, kenapa mereka tidak membela dirinya sendiri, meminta hak-nya sendiri dan membela orang lain yang sudah antri berjam- jam di belakang mereka?

Hmmm… Mau bilang apa kalau sudah begitu?

Omong- omong.. memo yang disodorkan ke petugas penjualan tiket itu asli. Memo itu memang dari sang jenderal. Saking kesalnya aku waktu itu, kucari nomor telepon jenderal itu. Kuhubungi nomor itu, istrinya yang menerima. Kutanyakan padanya apakah ada ajudan yang sedang diminta membeli tiket kereta ke setasiun, dan istri sang jenderal membenarkan hal tersebut.

Kukatakan pada istri sang jenderal itu bahwa ajudannya memotong antrian panjang,

Ibu, maaf ya bu, kataku, Antrian itu untuk umum. Mohon lain kali jika ibu ingin ajudannya diistimewakan, jangan di loket untuk umum seperti itu. Kami semua juga antri lama sekali disitu

***

Oh ya, seorang kawan perempuan yang hari itu kubagi cerita tersebut bereaksi dengan, Hah? Gila banget kamu itu. Jenderal koq kamu lawan

Nah, lho! Yang gila itu yang mana, sebenarnya? Yang nyerobot antrian, atau yang mengingatkan? He he he…

p.s. i love you…


TAGS jenderal anak jenderal antri tiket kereta api mudik tentara militer


-

Author

Follow Me