Kuaci, Kiat Jitu Membunuh Rasa Bosan

29 Aug 2013

Ini kisah tentang perjalanan…

MENJELANG lebaran lalu, pertanyaan yang sama berulang kali kuterima, ” Lebaran mudik kemana? Naik apa? “

Kujawab pertanyaan itu.

” Wah, jauh juga ya. Naik apa? “

” Naik mobil “

Dan berulang kali kulihat wajah- wajah terperanjat.

” Walah. Kuat ya? Pasti banyak macetnya kan? “

Iya. Aku mengangguk. Banyak macetnya. Jalanan penuh.

Perjalanan lebaran, memang dalam banyak hal ‘tantangannya’ lebih banyak daripada perjalanan di hari- hari biasa. Macetnya, terutama. Jadi jangan harap bisa tiba di tempat tujuan segera. Sebab waktu tempuh akan menjadi berlipat- lipat.

Tapi bagiku, yang bisa dikatakan sepanjang usia menjalani ritual mudik lebaran, semua itu asyik- asyik saja. Dulu perjalanan bersama orang tuaku asyik, kini bersama suami dan anak- anak, juga sama menyenangkannya.

Mudik lebaran, bagaimanapun macetnya, bagiku gambarannya lebih ceria dan berwarna daripada… perjalanan panjang yang jauh berjam- jam naik pesawat terbang.

***

64ce444fa8fd3c18ea60447129d6aaf5_kuaci

Aku memang bukan penikmat perjalanan dengan pesawat. Bosannya di dalam pesawat itu nggak nahanin.

Entah berapa kali sudah aku pernah harus ada di dalam pesawat dalam waktu yang panjang, yang terpanjang tanpa putus diantara satu transit dengan transit yang lain jumlahnya belasan jam.

Duh, mati gaya deh.

Entah kenapa bahkan kegiatan- kegiatan yang biasanya bisa kunikmati jika sedang leyeh- leyeh punya waktu luang di rumah, tak terasa nikmatnya jika dilakukan di pesawat. Aku bisa begitu saja kehilangan minat untuk membaca, menulis, nonton film, mendengarkan musik atau melakukan apapun kegiatan ( yang biasanya ) menyenangkan lain.

Tapi, eh… tanpa sengaja, suatu hari kutemukan suatu cara mengatasi kebosanan.

Yakni, makan kuaci.

Iya, betul, kuaci.

***

Aku pada dasarnya memang penyuka kuaci.

Kuaci, atau Gua Zi dalam ejaan Tionghoa, artinya biji labu. Walau sejatinya yang disebut kuaci bukan lagi semata biji labu. Terdapat berbagai jenis kuaci, yakni yang dibuat dari biji semangka, warnanya hitam, biji labu yang berwarna putih, atau biji bunga matahari, bergaris- garis hitam dan putih kekuningan.

Kutemukan tak sengaja cara mengatasi bosan dengan makan kuaci itu di perjalanan menuju ke Tanah Suci untuk umroh dua tahun yang lalu.

Sebelum berangkat, aku pergi ke sebuah kios kecil di bandara untuk membeli tissue dan permen ketika kulihat kuaci itu dijual di kios tersebut. Iseng, kubeli sebungkus. Lalu di pesawat, kumakan kuaci tersebut.

Dan…

Wah. Hahaha. Sebetulnya dulu sekali memang pernah juga sekilas- sekilas kudengar bahwa salah satu manfaat kuaci memang untuk membunuh kebosanan, tapi tak pernah terpikir olehku bahwa apa yang kudengar sekilas itu ternyata benar dan sangat manjur !

Sembilan jam perjalanan pesawat antara Jakarta - Madinah saat itu, dan tak seperti biasa, aku tidak gelisah serta bosan tak karuan.

Memang benar, bahwa saat itu aku bepergian bersama keluarga sangat membantu situasi (dalam banyak saat lain, aku sering harus bepergian sendiri untuk urusan pekerjaan). Tapi kuaci itu tetap berperan banyak.

Keasyikan menggigiti kuaci satu per satu dan rasa ‘penasaran’ sebab satu kantung yang tampaknya tak begitu banyak itu ternyata tak habis- habis dimakan membuat jam- jam terus berlalu tanpa terasa.

Sampai akhirnya… pemandangan gurun mulai tampak. Pesawat merendah.

Aha! Inilah waktu yang paling kusukai setiap kali bepergian dengan pesawat terbang: saatnya mendarat.

Keping kuaci terakhir kugigit. Sekantung kecil, tamat dalam sembilan jam.

Anakku menggeleng- gelengkan kepala melihat apa yang kulakukan. Menurutnya itu tingkah yang ‘ajaib’ sekali.

Maklum, anakku bukan penyuka kuaci. Jadi, dia pasti tak bisa memahami bahwa saat itu aku sendiri sungguh merasa gembira menemukan ‘cara baru’ membunuh kebosanan dalam pesawat udara serupa itu…


TAGS kuaci gua zi bunga matahari labu perjalanan udara


-

Author

Follow Me