Tentang Ibu, Aku, Anakku dan Buku

10 Sep 2013

Tentang kecintaan membaca…

ADA satu ‘kebiasaan baru’ yang aku perhatikan dari ibu setelah Bapak berpulang.

Tidak langsung. Bulan- bulan pertama, ibu tentu masih sangat berduka.

Ah, sebenarnya, bahkan hingga saat inipun, suara ibu masih tersendat dan airmata menggenang saat membicarakan Bapak.

Rasa kehilangan itu akan selalu ada.

Tapi bagaimanapun hidup harus terus berjalan. Dan ibu berusaha mengisi waktu, dengan kegiatan- kegiatan yang berguna.

Salah satunya, yang tadi kusebut dengan ‘kebiasaan baru’ adalah, selalu ada novel tergeletak di dekat tempat tidur.

Mulanya kupikir, itu novel anakku. Anak sulungku kini memang tinggal di rumah ibu, sebab dia kuliah di kota yang sama dengan kota dimana ibuku tinggal.

Tapi suatu saat kulihat sebuah novel, jelas dari posisinya, baru saja dibaca, yang aku tahu, dulu sudah dibaca anakku. Dan aku tahu persis, membaca kembali novel yang sudah dibaca bukanlah kebiasaannya.

Anakku tergila- gila pada buku. Dan dia pembaca cepat. Dia bisa menghabiskan sebuah buku dalam waktu singkat, lalu dia akan segera memegang buku lain lagi.

Jadi kutanyakan itu padanya, mengapa dia membaca ulang novel tersebut.

” Bukan aku, yangti yang lagi baca, ” kata anakku menjelaskan.

Yangti, nenek. Ibuku.

Oh, ibu.

Lalu adikku yang saat itu juga sedang berkunjung ke rumah ibu berkata dan tertawa, ” Iya. Itu novel aku. Ibu pinjam satu- satu. Kalau sudah habis, tukar yang lain… “

Kata adikku lagi, kalau ibu sekali- sekali sedang menginap di rumahnya, kebiasaan ibu adalah pagi- pagi duduk di kursi malas di balkon rumah adikku yang menghadap halaman belakangnya yang luas dan menyuguhkan pemandangan indah ke arah kota (dia tinggal di tempat yang agak tinggi di kota kami, maka ada area pandang yang luas dari rumahnya), dan asyik membaca novel.

Jadi akhir- akhir ini beragam novel dituntaskan ibu. Mulai dari Gadjah Mada-nya Langit Kresna Hariadi, sampai novel Negeri Lima Menara, juga 5 cm yang sudah difilmkan itu, serta macam- macam yang lain.

8adb495bb3fe6bcda01fc81a2d089ab2_book

Melihat itu, aku jadi teringat masa kecilku.

Ibulah yang membuatku suka membaca.

Dulu, saat aku kecil, ibu selalu rajin mengantarkan aku ke perpustakaan.

Ada perpustakaan yang terletak tak jauh dari rumah kami. Saat aku kelas 2 SD, ibu mulai mengajakku kesana.

Setiap hendak berangkat, ibu berpesan padaku untuk memilih sebuah buku dengan judul yang disebutkannya.

Judul- judul yang disebutnya itu judul buku seperti Siti Nurbaya, Layar Terkembang, Dian yang Tak Kunjung Padam, dan semacamnya.

Ibu hanya menyebutkan satu judul. Aku biasanya meminjam 5-6 buku lain selain yang disebutkan judulnya oleh ibu. Biasanya, kupinjam buku kanak- kanak seperti buku serial cerita beruang Teddy yang ada banyak gambarnya.

Aku tak bisa mengingat lagi apa yang kupikirkan atau kurasakan saat membaca buku Siti Nurbaya dan semacamnya ketika aku duduk di kelas 2 SD itu. Yang pasti, kubaca buku- buku itu sampai habis. Sebab begitu habis, aku boleh ke perpustakaan lagi.

Begitu terus, aku menjadi pengunjung tetap perpustakaan tersebut sampai aku agak besar dan bisa berangkat kesana sendiri, tak lagi perlu diantar ibu.

Lepas dari bahwa ibu memintaku membaca banyak buku itu, dulu jarang kulihat ibu sendiri membaca buku- buku tebal. Yang sekali- sekali dibacanya adalah majalah.

Kupahami kini kenapa. Sebab ibu tak punya waktu. Bukan tak mau.

Mengurus rumah tangga, anak- anak, suami dan menangani usaha yang saat itu berkembang baik, ibu tak punya waktu untuk leyeh- leyeh.

Lalu kami menikah. Ibu dan Bapak punya cucu. Dan ibu memilih bermain atau seringkali memang dititipi cucu jika kebetulan kami ada keperluan. Sedikit waktunya untuk membaca.

Lalu Bapak sakit cukup lama sampai akhirnya kemudian berpulang. Selama Bapak sakit, ibu mengurusnya sendiri. Itu keinginan mereka berdua. Ibu memang ingin mengurus Bapak dengan tangannya sendiri tanpa dibantu perawat, Bapak juga memang lebih senang begitu.

Dan kini…

Cucu- cucu makin membesar. Bapak telah tiada. Ibu memiliki waktu luang. Maka, selain beberapa kegiatan rutin yang memang dari dulu biasa dilakukannya, ibu membaca novel…

***

Kebiasaan ibu dulu menyebutkan satu judul buku yang diwajibkan dibaca kutiru.

Saat kecil, anakku biasa kuminta membaca sebuah buku yang kusebutkan lalu kuijinkan membaca dua yang dia inginkan. Ketika sudah makin besar, dia bebas memilih, tak lagi aku mengatur bacaannya, sebab kutahu, seleranya telah terbentuk baik.

Begitulah mulanya bagaimana kegemaran membaca diwariskan turun temurun dalam keluarga kami…

p.s. i love you, bu…


TAGS buku perpustakaan novel


-

Author

Follow Me