Catatan Menjelang Umrah: Selembar Baju untuk Asisten Rumah Tangga Kami

13 Dec 2013

Dan kebaikan serta rejeki itu datang mengalir…

AKU terpana.

Bagaimana bisa?

Kutatap sebuah baju panjang berwarna putih yang disodorkan padaku itu. Kuamati sebentar dan kukatakan, ” Iya cukup. “

Lalu…

” Terimakasih banyak. Nanti kusampaikan ini pada mbak S “

Seorang ibu, kenalanku yang berusia hampir sama dengan ibuku, pemberi baju itu, mengangguk.

***

7e43b1800e1ae11a1c5473d4acccee2e_kabah1

Sang Maha Cinta selalu tahu, apa yang dibutuhkan manusia dan dengan caraNya membuka jalan rejeki bagi apa yang dikehendakiNya.

Seperti selembar baju untuk mbak S itu.

Jadi begini, Insya Allah, mbak S asisten rumah tangga kami akan turut bersama kami beribadah umrah ke Tanah Suci akhir Desember ini.

Selama beberapa bulan belakangan, semenjak kamiberniat umrah, ada banyak hal di luar dugaan yang terjadi.

Pengurusan passport mbak S bukan urusan mudah ternyata. Jalannya agak berliku. Namun setelah terjadi beberapa ‘kehebohan’ dalam pengurusan dokumen- dokumen yang dibutuhkan, dan kelucuan saat mencari tahu siapa nama kakeknya untuk dicantumkan dalam passport, toh pada akhirnya mbak S bisa juga memperoleh passport.

Urusan dokumen selesai, ternyata kami belum juga boleh bernafas lega. Sebab lalu ada gejolak dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar yang berdampak sangat besar dengan membengkaknya budget yang dibutuhkan untuk keberangkatan umrah ini. Sempat beberapa kali kami kebat- kebit melihat bagaimana nilai tukar itu bergerak diluar dugaan kami.

Berulangkali revisi terhadap budget kami lakukan. Jumlahnya tak pernah berkurang tapi terus menerus bertambah. Dan kami harus merelakan beberapa tabungan yang tadinya kami cadangkan untuk keperluan lain dibongkar.

Ah, tapi sudahlah. Tak apa. Kami toh sudah berniat. Alhamdulillah, masih ada cadangan- cadangan itu. Jika tidak, kami pasti lebih pusing lagi bagaimana cara mewujudkan niat umrah ini.

Lalu begitulah. Urusan dokumen dan dana sudah beres. Tinggal persiapan keberangkatan. Dan begitu waktu makin mendekat, mbak S mulai bertanya pada kami, pakaian apa yang harus dia siapkan untuk keberangkatan…

***

Mbak S ini menyimpan uang gajinya pada kami. Tiap bulan dia hanya mengambil sekedarnya dan sisanya kusimpan dalam sebuah buku tabungan yang dibuka khusus untuknya. Lalu suatu hari dia mengatakan ingin meminta uang sejumlah tertentu.

Untuk beli baju buat umrah, katanya.

Kutahan dulu niatnya berbelanja. Kubongkar isi lemariku. Memberikan beberapa buah baju yang nanti bisa digunakannya. Baru setelah itu kami inventarisir lagi, dari apa yang sudah ada, apa yang masih perlu untuk dibeli.

Kami — aku dan suamiku — mewanti- wanti padanya untuk tak berlebihan membeli ini dan itu untuk perjalanan umrah ini. Kami sarankan padanya untuk membeli hanya yang dibutuhkan dan dengan cara yang hemat.

Namun toh kami pahami, mbak S ingin juga memiliki baju baru untuk perjalanan ini. Maka suatu hari, kutemani dia pergi berbelanja.

Dia menanyakan padaku tentang baju putih. Kukatakan padanya bahwa sebetulnya untuk perempuan tak ada ketentuan tentang baju saat berumrah. Bisa menggunakan baju apa saja yang digunakan sehari- hari. Tak ada ketentuan warna. Tapi memang banyak juga yang memilih menggunakan baju berwarna putih, walau tidak harus.

Dia mengatakan ingin membeli satu baju putih baru.

Baiklah. Kubantu dia memilih yang modelnya pantas dan harganya juga terjangkau.

Katanya, dia masih memiliki satu lagi yang dulu pernah kuberikan padanya. Kukatakan, kalau begitu cukuplah. Ada satu baju putih lama, satu lagi yang baru. Sudah, tak perlu membeli lebih dari itu.

Biarpun kukatakan begitu padanya, sebetulnya dalam hati, aku berniat, jika masih ada waktu nanti, barangkali akan kubelikan lagi saja dia satu baju putih lagi. Bagaimana nanti saja. Tidak harus, sebab, aku memang berpendapat dua yang dimilikinya itu toh sudah cukup. Namun niat itu itu ada, walau tak terucap.

Dan begitulah.

Niatku tak terucap, dan belum kuwujudkan. Namun Yang Kuasa rupanya telah memutuskan untuk memilih cara lain bagi mbak S untuk mendapatkan baju putih ketiganya. Bukan melalui aku tapi melalui seorang ibu yang kukenal yang nggak hujan nggak angin tiba- tiba suatu hari bertanya padaku, ” D… Aku punya baju ini. Ini baru, sudah pernah dicuci tapi belum pernah dipakai. Kira- kira cukup tidak ya, untuk mbak S ?”

Dan aku tercengang.

Ibu- ibu kenalanku itu memang tahu rencanaku untuk mengajak mbak S menunaikan ibadah umroh. Tapi dia tak tahu niatanku yang muncul belakangan ini bahwa jika sempat pergi ke toko lagi, aku akan membelikan mbak S sepotong baju putih lagi. Jadi sungguh kebetulan bahwa dia tahu- tahu menawarkan bajunya untuk diberikan pada mbak S.

Baju yang ditunjukkannya padaku itu bagus. Bahannya cukup tebal, dan besarnya akan cukup untuk digunakan oleh mbak S.

” Ini betulan ? ” tanyaku masih tergeragap sebab tak menduga akan menerima tawaran semacam itu, ” Mau dikasihkan untuk mbak S ? “

Ibu itu mengangguk. ” Iya, ambillah, ” katanya.

Ah.

Ibu ini orang baik. Aku sudah mengenalnya selama bertahun- tahun. Aku tahu dia tulus hati. Maka, kuputuskan untuk membatalkan niatku membeli baju lagi untuk mbak S dan menerima saja pemberiannya itu.

” Terimakasih banyak. Nanti kusampaikan ini pada mbak S “

Dia mengangguk.

Kumasukkan baju pemberian itu ke dalam tas untuk kuberikan pada mbak S setiba di rumah. Aku mengucap syukur dalam hati pada Sang Pencipta atas semua kebaikan serta rejeki yang mengalir bagi mbak S, dan bagi kami semua…

p.s. luv u


TAGS mekah madinah umrah haji umroh tanah suci


-

Author

Follow Me