Bingung Memutuskan Nama Kakek untuk Mengurus Visa Arab Saudi

14 Dec 2013

Kami sekarang sedang ‘menghitung hari’…

MENANTI waktu keberangkatan untuk beribadah umrah yang makin mendekat.

Melantunkan doa- doa dalam hati, semoga kami diberi kesehatan, keselamatan, rejeki dan perlindungan hingga dapat berangkat sesuai rencana dan dilancarkan serta dimudahkan semua urusan sejak keberangkatan hingga kepulangan nanti.

Rindu itu, makin mendesak- desak di dada. Gemuruh rindu dan kegembiraan membayangkan tak lama lagi kami akan berangkat ke Tanah Suci terasa dalam setiap hembusan nafas.

Ah, akhirnya… akhirnya. Setelah begitu banyak hal yang perlu diurus, yang ternyata memakan banyak waktu dan menimbulkan rasa kebat- kebit di hati karena hal- hal diluar dugaan terutama tentang kerumitan pengurusan dokumen- dokumen yang dibutuhkan untuk pengurusan passport para asisten rumah tangga yang akan kami ajak bersama pergi ke Tanah Suci serta melonjaknya nilai tukar dollar terhadap rupiah yang mempengaruhi budget kami, hari itu sebentar lagi akan tiba…

Dan semua yang tadinya tampak rumit, kini tinggal menjadi cerita yang bahkan adakalanya tampak lucu. Seperti misalnya, cerita tentang nama kakek mbak S, asisten rumah tangga kami, yang akan kuceritakan di bawah ini…

***

Gambar: www.trekearth.com

Gambar: www.trekearth.com

Sungguh, tadinya kupikir semua orang tahu nama kakek dan neneknya. Sebab itu kan orang tua dari ayah dan ibunya.

Kupahami kini, bahwa ternyata asumsi itu tidak benar. Mbak S, misalnya. Asisten rumah tangga kami itu agak bingung ketika kami menanyakan nama kakeknya.

Mbak S sudah tinggal bersama kami lamaaaaa sekali. Karenanya tentu saja kami tahu bahwa mbak S itu dulu tidak tinggal dengan orang tuanya. Dia mulanya dibesarkan nenek kemudian dibesarkan oleh keluarga lain yang masih ada hubungan darah.

Keluarga ini kami kenal, sebab saat lebaran kami biasanya mengantarkan mbak S pulang ke rumahnya. Mbak S ini atas kehendaknya sendiri hanya pulang dua tahun sekali, dan sekali dalam dua tahun itu dia selalu mengharapkan kami mampir ke desanya, dan sebab desanya bukan ada di daerah yang kami singgahi atau lalui dalam perjalanan lebaran kami ke rumah orang tua dan mertua, mbak S untuk itu bahkan rela berlebaran di rumah orang tua atau mertuaku dan baru beberapa hari setelah itu pulang ke rumahnya sendiri.

Sebab letaknya memang jauh, dan untuk menyenangkan hatinya, kami biasa menginap semalam di rumahnya.

Maka kami kenal keluarga yang membesarkannya, dari ayah ibu angkatnya sampai saudara- saudara, keponakan dan sebab mereka umumnya menikah pada usia muda sekali, bahkan juga cucu.

Tapi selama ini, walau boleh dibilang kami mengenal keluarganya dengan baik, kami tak pernah menanyakan nama kakeknya memang. Nama orang tuanya — ayah dan ibu mbak S — kami tahu sebab nama mbak S terdaftar di dalam Kartu Keluarga kami. Tapi kakek? Kami tak tahu. Selama ini memang juga tak ada kebutuhan untuk menanyakan hal tersebut.

Lalu pada suatu hari, travel biro yang mengurus administrasi untuk urusan ibadah umrah meminta daftar nama rombongan keluarga kami yang akan berangkat sebab mereka perlu memesan tiket pesawat.

” Nama yang mana? ” tanya kami, paham bahwa bisa ada dua macam nama jika hendak masuk ke Arab Saudi. Sebab mereka mengharuskan seseorang memiliki nama dengan tiga kata saat mengurus visa. Maka lazimnya jika nama asli kurang dari tiga kata, ditambahkan nama ayah dan jika masih diperlukan, nama kakek.

Nama yang tiga kata, pihak travel biro menjawab.

Jadi kami tanyakan pada mbak S siapa nama kakeknya. Agak nekad, kami tetap hendak daftarkan namanya dalam rombongan walau saat itu dia belum memiliki passport sebab terganjal urusan akte kelahiran yang juga tak dimilikinya.

Bayangkan, mbak S ini sudah lama yatim piatu, dia tidak sekolah dan karenanya tak memiliki selembarpun ijazah, juga tidak punya surat nikah. Maka akte kelahiran menjadi syarat wajib pembuatan passport. Yang rumit, untuk membuat akte kelahiran ada syarat lain yang diminta yakni melampirkan surat nikah orang tuanya.

Oalaahhhhhh.

Mbak S ini bukan gadis muda, ikut keluarga kami sejak dulu, mulanya ikut orang tuaku lalu ikut denganku sejak aku menikah. Maka bisa dikira- kira berapa umurnya, kan. Menurut KTPnya usianya sekitar setengah abad. Bisa jadi itu tak akurat sebab dia tak pernah tahu tanggal lahirnya. Duluuuuuu puluhan tahun yang lalu, sebab kolom tanggal lahir di KTP tidak boleh dikosongkan maka diisilah tanggal itu dengan sebuah tanggal yang entah didapat darimana. Tapi bagaimanapun, rasanya perkiraan usia itu tak akan meleset jauh.

Nah artinya pernikahan orang tuanya terjadi lebih dari setengah abad yang lalu, dan kedua orang tuanya sudah tiada pula — mustahil mendapatkan copy surat nikah yang kemungkinan besar memang tak pernah dimiliki itu.

***

Kembali pada urusan nama kakek, setelah ragu sejenak, mbak S menyebutkan sebuah nama, sebut saja Ngadiman (bukan nama sebenarnya), sebagai nama kakeknya.

Tapi setelah itu, hahahahaha, dia bingung sendiri, sebab pak Kastiman itu memiliki saudara yang bernama Ngadimin dan mbak S juga memanggil kakek pada pak Ngadimin.

Setengah geli setengah putus asa kami katakan bahwa kakek yang kami maksud adalah ayah dari ayahnya.

Mbak S berpikir lagi lalu menceritakan panjang lebar tentang hubungan antara pak Ngadiman dan pak Ngadimin yang dipanggilnya dengan nama pak Man dan pak Min. Ceritanya itu alih- alih menjawab malah membuat kami bingung. Dan dia sendiri juga… makin bingung.

Tapi lalu akhirnya dia menyimpulkan bahwa ayah dari ayahnya adalah pak Ngadiman.

” Sudah ya mbak, ” kataku di hari dimana tak bisa diundur lagi, nama itu harus kami daftarkan, ” Jangan diganti lagi, nama kakeknya Ngadiman. “

Mbak S mengangguk. Tidak mantap tapi toh mengangguk. Maka, didaftarkanlah namanya yang satu kata ditambah nama ayah dan kakek di belakangnya, menjadi tiga kata sesuai persyaratan.

Legalah kami, sebab kami pikir satu urusan sudah beres.

Ealaahhhh ternyata, ini yang terjadi…

Ha ha ha. Setelah hari pendaftaran itu masih ada beberapa surat untuk mbak S yang perlu diurus dan suatu hari setengah pusing setengah geli, suamiku bercerita padaku. Dia hari itu mengantarkan mbak S mengurus surat- surat yang dibutuhkan dan kata suamiku, ketika ditanya oleh petugas siapa nama kakeknya, mbak S kembali bingung dan malah menoleh pada suamiku lalu bertanya, ” Siapa ya, nama kakek saya? Pak Man atau pak Min? “

Hah?!

Hahahahaha. Lha, koq malah tanya?

Haduuuhhhhhh. Ya ampuuunnnn! Saat itu, suamiku setengah ingin tertawa setengah frustrasi ketika itu terjadi. Namun kini, setelah hal itu berlalu, yang terasa tinggal lucunya saja. Ha ha ha…

p.s. i love you

**sumbergambar: www.trekearth.com


TAGS akte kelahiran passport tanah suci ibadah umrah umroh mekah madinah masjidil haram masjid nabawi


-

Author

Follow Me