Catatan Perjalanan: Drama Berjudul ‘Ngepak Koper’

2 Jan 2014

Tentang perjalanan. Dan urusan koper.

ADA satu hal yang berhubungan dengan urusan perjalanan yang tak pernah bisa kulakukan dengan baik, yaitu ngepak koper.

Kekacauan selalu terjadi jika aku harus menyelesaikan urusan ngepak itu.

Dulu saat lajang, jika bepergian dengan teman- teman, mudah menandai yang mana koperku. Cari saja koper yang paling besar, itu pasti koper milikku. Saking tidak efisiennya cara aku mengepak, jumlah barang yang sama jika aku yang melakukannya bisa memakan ruang lebih besar dari kebanyakan orang lain saat mengepak koper.

Atau, jika tidak lebih besar, jumlahnya ya lebih banyak. Teman- teman baikku sudah hafal kebiasaan ajaib ini.

Saat menikah, aku terselamatkan oleh suami yang ternyata justru piawai melakukan hal tersebut. Maka, setiap kali bepergian, urusan koper menjadi bagian suamiku. Saat anak- anak masih kecil, setiap kali keluarga kami akan bepergian, aku akan membantu mengumpulkan barang- barang yang harus dibawa dan suamikulah yang akan memasukkan ke koper.

Begitu pula jika aku akan bepergian sendiri untuk urusan pekerjaan. Suamiku akan membantu aku mengepak koperku menjelang keberangkatan — walau saat pulang aku akan harus mengepaknya sendiri.

Lalu, anak- anak berangkat besar. Dan..mereka ternyata mewarisi keterampilan mengepak koper itu dari ayahnya.

Wow!

Dengan anak- anak bisa membereskan koper sendiri, maka kini dalam perjalanan keluarga, semua orang di rumah membereskan koper dan tas-nya masing- masing.

Kecuali…

Ha ha ha.

Kecuali aku *smile*

***

Gambar: www.babble.com

Gambar: www.babble.com

Kejadian ini selalu terulang saat kami hendak bepergian. Beberapa koper milik suami dan anak- anak sudah rapi, dan… koperku sendiri masih berantakan.

Selain tidak bisa membereskan koper dan baik dan benar, aku juga selalu tidak efisien dalam memutuskan barang apa saja yang harus dibawa. Hahaha. Lalu, anak- anakku yang jahil menjadikan itu sebagai ‘bahan tontonan’.

Melihat tumpukan barang di atas koperku, anak- anak biasanya cekikikan..menanti drama rutin terulang.

Ayahnya yang akan harus menyortir barang- barang yang menurutnya perlu dan tidak perlu (dan tentu saja tidak perlu menurut suamiku biasanya klasifikasinya sangat dibutuhkan menurut definisiku), lalu perdebatan tidak perlu tentang hal tersebut yang menurut anak- anak ‘lucu’ — sebetulnya tidak lucu, tapi anak- anak memang senang sekali menggodaku, dan ’senang’ melihat bagaimana aku nanti diceramahi suami saat dia membereskan koperku, hahaha.

Nah, lalu..hal yang sama terjadi lagi saat kami hendak melakukan perjalanan hampir lebih dari dua minggu di hari- hari ini.

Anak- anak sudah mulai cekikikan lagi urusan koper, tapi kali ini aku tidak menyambut dengan tawa lebar seperti biasa. Aku mulai panik, sebetulnya.

Bukan apa- apa. Di hari- hari menjelang keberangkatan kami, suamiku justru sedang sangat sibuk. Dia harus menyelesaikan proposal untuk thesis Doktor-nya, dan waktu yang tersisa sudah sangat sempit. Maka siang malam dia berupaya menyelesaikan proposalnya itu agar dapat diserahkan pada promotornya sebelum keberangkatan.

Jadi, aku tak tega untuk memberatinya lagi dengan urusan koper.

Jadi sebisa- bisanya kubereskan sendiri koperku. Tak berhasil.

Sekali.

Dua kali.

Tiga.

Malah makin berantakan.

Akhirnya aku menyerah. Pada suatu hari menjelang berangkat ke kantor, kupanggil anak tengahku, kukatakan padanya, “Mas, tolong bantuin pak koper ibu ya? “

Anakku sudah libur sekolah saat itu. Di hari- hari libur semacam itu, mereka biasa tidur lagi sampai siang seusai shalat subuh.

Setengah mengantuk dia menjawab, “Ya udah. “

Sudah, begitu saja. Lalu dia tidur lagi.

Duh, meragukan sekali. Jangan- jangan dia malah setengah tak sadar sebab mengantuk saat menjawab itu.

Maka aku tak terlalu banyak berharap. Pikirku, ya sudahlah nanti sore saja sepulang kantor kuminta lagi bantuannya.

Tapi…

Wah.

Usai kantor, saat pulang ke rumah, koperku ternyata sudah tertata rapi. Semua barang yang tadinya kupikir tak akan muat masuk ke dalam koper, sudah masuk dengan rapi jali.

Dan…

Melihat aku takjub begitu, anak tengahku serta kakak dan adiknya mulai tertawa cekikikan, mentertawakan sang ibu yang tak bisa melakukan hal yang sederhana bagi mereka.

Bagaimanapun, aku lega sekali. Satu urusan selesai.

Tapi, ha ha..ternyata belum. Sekian lama menikah, suamiku ternyata sudah terbiasa mengurusi koperku. Maka menjelang berangkat, dia memperhatikan juga koper yang sudah tertata rapi itu, diperhatikannya sekilas, lalu…

” D.. ” katanya dengan gemas, ” Ngapain kamu bawa begitu banyak barang? “

Lalu dia mengeluarkan satu dua barang yang menurutnya tidak dibutuhkan tapi menurutku harus dibawa.

Dan anak- anak, seperti biasa tertawa geli, melihat drama serupa berulang: perdebatan mengenai isi koper menjelang perjalanan. Ha ha.

Perdebatan yang pada akhirnya toh tak pernah menemukan kesepakatan dan selalu berulang kali terjadi.

( Well, ini membuktikan bahwa orang memang tak akan bisa berubah terlalu banyak..ha ha ha.. Jadi suamiku akan harus menerima saja fakta bahwa istrinya memang tulalit urusan ngepak dan memutuskan isi koper. Ha ha. )

p.s: catatan ringan ini dibuat di Mekah, sebagai pembuka serangkaian tulisan catatan perjalanan yang sedang kulakukan saat ini

**Gambar: www.babble.com


TAGS catatan perjalanan mekah frequent traveller umrah


-

Author

Follow Me