Sebuah Catatan Perjalanan: Macet itu Berkah Rupanya

3 Jan 2014

fde2aa37e6e7db209a1f83540eb9ed36_macet

Keterlambatan pesawat itu…

DI dunia ini memang banyak hal yang tak kita pahami, tapi diketahui oleh Yang Kuasa.

Ada banyak kejadian yang awalnya kita pikir sebuah kesulitan yang ternyata sebenarnya menyelamatkan…

***

Telah beberapa hari terakhir ini aku dan keluarga berada di Mekah, untuk melaksanakan ibadah umrah, setelah sebelumnya berkunjung ke Madinah.

Dari tanah air, kami terlebih dahulu terbang menuju bandara King Abdul Aziz di Jeddah.

Proses boarding di bandara Soekarno Hatta berlangsung tepat waktu. Semua mulus hingga kami telah duduk rapi di kursi pesawat saat terdengar pengumuman yang terdengar ‘lucu’ di telingaku sebab pilotnya mengatakan bahwa akan terjadi keterlambatan penerbangan sebab ‘macet’.

Macet?

Kemacetan di Jakarta akhir- akhir ini memang sudah sangat melelahkan jiwa. Tapi kemacetan itu biasanya kan terjadi untuk kendaraan darat, motor, mobil dan sebagainya, tapi… macet yang melibatkan penerbangan? Ah, apa pula yang terjadi ini, pikirku.

Kupasang telinga baik- baik, ingin mendengar keterangan lebih lanjut. Dan ternyata, yang terjadi memang benar… macet.

Secara harfiah, memang benar terdapat kemacetan di bandara saat itu.

Ada antrian di runway. Dan pesawat kami berada di antrian nomor 15.

Li-ma-be-las?

Waduh.

Delay-nya pasti lama, pikirku. Menanti empat belas pesawat di depan kami mendapat giliran take off pastilah bukan hanya lima sepuluh menit saja.

Dan memang benar begitu.

Pada akhirnya, setelah terlambat hampir dua jam, pesawat kami berangkat juga.

Penerbangan lancar hingga kami mendarat di Jeddah yang kemudian dilanjutkan dengan bus ke Madinah.

Lalu…

Di Madinah keesokan harinyalah kami mendengar kabar itu. Kabar yang membuat kami menyadari bahwa keterlambatan keberangkatan pesawat dari bandara Soekarno Hatta yang kami alami sebenarnya merupakan berkah.

Sebab ternyata kemudian kami mendengar cerita dari beberapa orang yang kami temui di Madinah, yang mendarat beberapa saat menjelang kami mendarat, bahwa mereka terlunta- lunta hingga sekitar lima sampai enam jam di bandara Jeddah, karena saat itu ada pemogokan disana. Maka proses imigrasi tak bisa dilakukan sebab para petugasnya mogok.

Oh.

Bisa kubayangkan betapa tak enak situasinya. Dengan rasa lelah setelah terbang sekian lama ( penerbangan Jakarta - Jeddah memakan waktu sekitar 10 jam ), tertahan lima-enam jam di bandara tujuan tentu bukan sesuatu yang diharapkan.

Orang berdesakan, antrian mengular. Padahal, antri imigrasi tentu harus sambil berdiri, bukan duduk.

Kami rupanya terselamatkan dari situasi serupa karena pesawat kami terlambat berangkat dari Jakarta. Maka ketika kami tiba di Jeddah, situasi sudah normal kembali.

Jika saja kami terbang tepat waktu, kami masih akan mengalami bagian akhir imbas kemogokan tersebut. Proses imigrasi akan menjadi lebih lambat. Hal yang akan sangat tidak menyenangkan dan tak nyaman, apalagi kami berangkat bersama anak kecil dan orang tua yang sudah sepuh.

Daripada terlunta di bandara tujuan, tampaknya pilihan terlambat take off di bandara keberangkatan menjadi pilihan yang lebih baik.

At least saat itu kami masih dalam keadaan segar, dan kami bisa duduk di kursi masing- masing di dalam pesawat. Akan beda halnya jika kami turut tertahan di bandara Jeddah dalam kondisi lelah sambil berdiri tanpa tahu pula akan harus menanti berapa lama hingga pemogokan usai.

Ah, memang, pengetahuan dan pemahaman manusia terbatas. Apa yang tadinya dikira sebagai rintangan, pada akhirnya justru didapati bahwa itu sebenarnya perlindungan dan berkah yang diberikan Sang Maha Kuasa kepada kami.

Keterlambatan itu menghindarkan kami dari situasi yang lebih buruk yang mungkin kami alami jika kami berangkat tepat waktu.

Nyata bahwa Sang Maha Cinta melindungi kami semua, bahkan sejak saat keberangkatan kami. Aku bersyukur karenanya dan berdoa, semoga perlindungan itu akan terus diberikan sepanjang perjalanan kami ini…

p.s. Catatan ini ditulis di Mekah. Bagian ke-2 dari serangkaian tulisan.


TAGS macet umrah mekah madinah


-

Author

Follow Me