Kebakaran di Musim Banjir

21 Jan 2014

Telepon di rumah kami berdering dini hari tadi.

SUAMIKU meraihnya. Aku terduduk di tempat tidur dan melirik jam. Jam 3 pagi !

Telepon itu memberitakan bahwa rumah di belakang rumah kami kebakaran.

Mulanya kami pikir, kebakaran terjadi di belakang rumah yang kami tinggali. Tapi bukan. Rumah yang terbakar itu, ternyata rumah yang berpunggungan dengan rumah lama kami. Di kompleks yang sama dengan rumah yang kami tempati kini, di blok lain.

Rumah itu rumah pertama kami. Rumah mungil yang kami beli saat kami belum lama menikah . Bertahun kami tinggal disana sampai kemudian kami memiliki rejeki untuk pindah ke rumah baru yang lebih luas, rumah kami yang sekarang. Tetap di kompleks yang sama.

***

Wah, pikirku. Kalau sampai api merambat…

Kutepis pikiran buruk itu.

Jika aku mencerna dengan benar, saat telepon kami terima, api belum merembet ke sebelah menyebelah.Semoga tidak, pikirku. Walau tahu, kemungkinan itu besar. Rumah disana itu mepet- mepet satu sama lain. Tembok bertemu tembok. Punggung rumahnya, berdempetan.

Aku ingat dulu ketika masih tinggal di rumah itu, suatu senja ketika tiba- tiba suara seperti air bah terdengar di belakang rumah. Ternyata tandon air di rumah yang berpunggungan dengan kami itu pecah dan airnya tumpah meluber ke rumah kami.

Sontak area jemur yang kami buat di atas dapur kebanjiran. Selain itu, makanan yang kami masak untuk makan siang itu yang ada di dalam lemari dapur, juga basah tersiram air.

Rumah jaman sekarang, sebab terbatasnya lahan, memang lalu menjadi berdempetan begitu ya ? Maka apapun yang terjadi di rumah yang satu, akan langsung berdampak pada rumah yang lain.

Aku teringat rumah orang tuaku. Tak ada rumah yang berpunggungan dengan berdempetan tembok disana, sebab diantara punggung- punggung rumah itu selalu ada gang selebar hampir satu meter. Brand gang yang memang disiapkan jika situasi darurat kebakaran terjadi.

Selama ini, belum pernah ada kebakaran yang terjadi disana, dan semoga tak akan pernah. Tapi at least, brand gang itu ada.

Kini, jangankan brand gang, kita sering melihat, bahkan selokan di depan rumahpun sering ditutup dengan semen oleh pemilik rumah untuk meluaskan area halamannya. Memang bukan kebakaran, tapi resikonya, banjir terjadi, sebab selokan tertutup.

***

d4db877aca34a7cfb70e99daa8306e86_fire

Saat aku dan suamiku berjalan menuju ke rumah lama kami itu, terdengar suara sirine mobil pemadam kebakaran di kejauhan.

Aku melihat seorang Bapak berlari dari arah rumah yang terbakar, hendak memberi petunjuk arah pada mobil pemadam kebakaran. Dia terbatuk- batuk hebat. Kuduga, dia baru saja membantu memadamkan api di rumah itu.

Para tetangga kami ada di sekitar sana, berkumpul di jalan.

Kebanyakan dari mereka, masih tetangga lama, orang- orang yang sama dengan saat kami tinggal disana. Hubungan kami dengan para tetangga itu masih baik hingga kini.

Uniknya, kebanyakan dari para tetangga itu bahkan pernah tinggal di rumah lama kami itu.

Kebanyakan tetangga kami tidak memilih pindah rumah seperti kami, tapi merenovasi rumah di lokasi yang sama. Konon, beberapa sebenarnya sudah melihat- lihat rumah yang lebih besar di lokasi lain tapi berat untuk meninggalkan tempat itu, atau anak- anaknya menolak pindah sebab sudah betah tinggal disitu.

Saat merenovasi, hampir semua tetangga itu menyewa rumah kami untuk beberapa bulan. Kami berikan saja dengan ‘harga teman’. Kadang- kadang, renovasi tidak selesai tepat waktu, jika ada yang memberikan uang sewa tambahan, kami terima. Kalau tidak, juga tidak kami minta.

Bergantian para tetangga itu merenovasi rumah, sampai mereka sendiri membuat daftar antrian. Setelah keluarga A, maka keluarga B yang akan tinggal di rumah kami, setelah itu keluarga C, dan seterusnya. Maka kadang terdengar ‘lucu’ saat kami mendapat telepon bahwa rumah kami akan disewa dengan daftar beberapa penyewa berikutnya sudah disebutkan sekalian.

” Jangan dikasih ke orang lain dulu yaaaa… ” begitu biasanya pesan yang kami terima, dan kami iyakan saja.

Rumah itu, memang tak kami jual. Tetap kami pertahankan atas kenangannya. Itu rumah pertama kami. Diperoleh dengan perjuangan. Rumah yang setelah kami pindah kesana, sebab belum mampu membeli gorden, beberapa saat lamanya kami tempeli dengan koran bekas sebagai penghalang pandang dari luar.

Rumah itu kebetulan baru saja kosong beberapa waktu yang lalu. Penyewa terakhir, juga tetangga kami, telah selesai merenovasi rumahnya dan sudah pindah ke rumahnya sendiri. Saat ini dalam tahap perundingan dengan orang lain untuk menyewakan dalam jangka panjang. Belum lagi sewa menyewa terjadi, sekarang malah ada kebakaran.

Kulapangkan hati. Kucoba untuk ikhlas, menghadapi apapun yang tejadi.

***

Kami lihat para petugas pemadam kebakaran bersiap- siap menuju rumah yang terbakar. Kami sendiri berputar ke balik rumah itu, melihat rumah kami.

Beberapa orang ada di atap rumah kami, membawa selang, berusana menyemprot api ke rumah di belakang rumah kami.

Dan…

Ya ampun. Baru kami tersadar. Dalam keadaan tergesa, kami berangkat kesitu tanpa membawa kunci rumah tersebut ! Bagaimana kami bisa masuk?

Kutelepon mbak S, asisten rumah tangga kami, memintanya untuk menyusul kami sambil membawa kunci. Sementara itu kami dengar para tetangga berceloteh. Bercerita bagaimana gugup dan gemetarnya mereka tadi, saat pertama kali melihat kebakaran terjadi.

Ngeri, kata mereka, ada suara- suara ledakan dan bunyi keretek- keretek, sementara api dan asap juga tampak.

Mereka semua, tentu mengkhawatirkan api merambat kemana- mana.

Bisa kubayangkan kegugupan mereka…

***

Akhirnya, untunglah, setengah jam kemudian, api sudah benar- benar padam. Dan terlokalisir. Tak merambat ke rumah lain.

Tetangga belakang rumah kami itu, katanya, sementara akan tinggal di rumah orang tuanya, juga di kompleks yang sama dengan kami, di blok lain.

Rumah kami, Alhamdulillah, aman. Mungkin nanti kami harus periksa bagian atapnya, genting- genting dan asbes, apakah ada yang pecah sebab dipanjat dalam ketergesaan para tetangga saat berusaha memadamkan api.

Saat ini hal itu belum bisa dilakukan, sebab hujan lebat mengguyur kota tempat kami tinggal.

Ah, dalam situasi seperti ini, dimana hujan mengguyur, banjir melanda, ternyata resiko kebakaran juga bisa datang setiap saat, baik dari korsleting listrik seperti yang terjadi di rumah tetangga kami tadi malam, atau lilin yang terlupa dimatikan saat listrik padam, atau sebab lain.

Kehati- hatian harus senantiasa dijaga.

Semoga kita semua selalu dilindungi oleh Sang Maha Pengasih, diberi keselamatan dan dijauhkan dari musibah ya…

p.s. Take care, my friends. Stay safe.


TAGS banjir kebakaran musim hujan banjir jakarta 2014


-

Author

Follow Me