Notes from Mecca, Catatan Indah Pengalaman Berhaji yang Ditulis oleh Bloggerdetik

5 Mar 2014

Ditulis dengan apik, buku ini menjangkau dua sisi: keindahan pengalaman spiritual dan catatan serta petunjuk praktis yang sederhana dan membumi, sejak persiapan perjalanan ibadah haji, selama berada di Tanah Suci, serta sekembalinya ke tanah air.

Membacanya membuat hati tersentuh sekaligus memperluas wawasan.

Begitu yang aku tulis sebagai endorsement untuk buku berjudul “Notes from Mecca: Untaian Kenangan Seorang Muslimah Kala Menjadi Tamu Allah ” karya Mechta Deera.

***

Seorang kawan, pemilik blog mechta.blogdetik.com yang menggunakan nama pena Mechta Deera, menghubungiku beberapa waktu yang lalu. Memintaku untuk menuliskan endorsement untuk buku yang kini telah terbit itu.

Ah, tentu saja aku bersedia.

Sebab aku gembira sekali mendengar bahwa buku yang berisi catatan Mechta ketika menunaikan ibadah haji tahun 2011 yang lalu itu akan diterbitkan.

Aku percaya, buku ini akan membawa banyak manfaat bagi para pembacanya (dan semoga terus mengalirkan amal bagi penulisnya - amin).

5d88fe4c5cdad13eba2cc6f93f806fe6_buku-mechta

Saat mendengar Mechta akan menunaikan ibadah haji tahun 2011 yang lalu, aku mendorongnya untuk menulis pengalaman berhajinya.

Pasti berguna bagi banyak orang, kataku.

Mechta seperti ragu mulanya.

Dia khawatir, jika dituliskan, kesannya akan seperti pamer, riya.

Kuyakinkan dia, bahwa bukan begitu adanya. Kukatakan bahwa jika dia menuliskan pengalamannya, apa yang tertulis itu akan dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi orang lain yang berniat naik haji, yang tentu pada akhirnya diharapkan untuk memudahkan dan melancarkan perjalanan haji orang yang membacanya.

Selalu berguna untuk belajar dari pengalaman orang lain, bukan?

9848044a8e84beea522b6d64373770d2_buku-mechta1

Maka aku sungguh senang ketika akhirnya Mechta, pemilik nama asli yang cantik Darsari Resti Artanti, pada akhirnya menuliskan sedikit demi sedikit pengalaman berhaji dalam blognya.

Aku membaca semua artikel yang dituliskannya di blog. Jadi, ketika Mechta mengirimkan padaku naskah buku untuk kubuatkan endorsement, sebetulnya sebagian besar naskah di dalamnya bukan sesuatu yang baru kubaca.

Tapi…

Duh, apa yang dituliskan Mecha dalam bukunya itu sungguh menyentuh hati. Membuatku butuh waktu lama untuk menulis endorsement yang hanya beberapa baris itu.

Mengapa?

Sebab air mataku terus mengalir saat aku membaca setiap baris, paragraf, bab dalam naskah yang dikirimkan Mechta itu sehingga perlu waktu lama bagiku untuk menyelesaikan membaca.

Mechta menulis dengan cara yang sederhana, tapi sangat indah, pengalamannya sejak persiapan menunaikan ibadah haji, pengalamannya di Tanah Suci dan beragam hal sepulangnya dari sana.

Dia menggabungkan antara apa yang dirasakan dan dipikirkannya, pengalamannya dan pesan- pesannya kepada para pembaca dengan rinci tanpa menjadi berat atau terasa menggurui.

Tepat seperti yang kubayangkan dulu ketika mendorongnya menulis tentang pengalaman berhajinya, buku ini bisa dibaca setiap orang, yang paling awam sekalipun.

Bukan hanya banjir air mata saat membaca naskah untuk membuat endorsement, rasa haru dan air mataku menggenang kembali ketika naskah itu kubaca dalam bentuk buku.

Upaya Mechta mengatasi keterbatasan diri yang sering merasa mual dan pusing jika berada di tengah kerumunan yang dituliskannya pada kata pengantar, pengalamannya menabung, menggugurkan anggapan bahwa untuk membuka tabungan haji itu setoran awalnya harus berjumlah besar sebab ternyata yang diminta jumlahnya bisa dijangkau yakni Rp. 100.000,- di bab awal, bisa menumbuhkan semangat dan mendorong orang lain untuk membulatkan tekad memulai langkah pertama berhaji.

Pengalaman selama perjalanan ke Tanah Suci, dan apa yang terjadi di sana: tas yang hilang lalu kembali, pengalaman saat makan dan tiba- tiba ada orang asing entah siapa nyelonong ikut makan dari piringnya, kemudahan untuk melakukan shalat dan berdoa di Hijir Ismail serta catatannya dari Masjid Nabawi di Madinah dan banyak tempat lain yang dikunjunginya selama berada di Arab menarik untuk diikuti, mengajarkan kesabaran, membuka wawasan sekaligus menyentuh hati.

Satu hal yang perlu dicatat adalah, Mechta begitu membumi. Dia menuliskan tentang hal- hal yang secara budaya biasa dilakukan di tanah air sebelum dan setelah melakukan ibadah haji, seperti selamatan dan kebiasaan untuk menyediakan oleh- oleh bagi para kenalan dan kerabat, dengan satu pesan: jangan berlebihan, sesuaikan dengan kemampuan.

Mechta menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang berlaku, tanpa harus memaksakan hal itu dilakukan lebih dari kemampuan.

Indah..indah..indah.

Hanya itu yang bisa kukatakan tentang buku ini.

p.s

Selamat, Mechta !


TAGS Notes from Mecca pengalaman berhaji tanah suci haji umrah mekah madinah selamatan haji air zam zam masjidil haram masjid nabawi


-

Author

Follow Me