Megawati, Jokowi, Xerxes dan Racun Dendam

18 Mar 2014

SEBERAPA besar dampak sebuah dendam? Film 300: Rise of an Empire mungkin bisa memberi penegasan. Bahwa dendam bisa mengakhiri, juga mengawali sebuah bangsa. Gara-gara ayahnya tewas dibunuh oleh orang Yunani, Xerxes yang awalnya pengecut berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sosok yang bengis dan tak mengenal ampun.

Yang ada di benak Xerxes adalah membalas dendam. Dengan membunuh semua penduduk Yunani dan membungihanguskan negeri para dewa itu. “For glorys sake, for vengeances sake, WAR!” Begitu ucapan Xerxes.

ede0cf9d25c51957f995efc861f35eb5_xerxes

Dendam pula yang membuat Artemisia mengkhianati darah dan tanah kelahirannya. Ketika masih kecil, dia melihat bagaimana ayahnya dibunuh dan ibunya diperkosa oleh sesama orang Yunani. Dia kemudian dijadikan budak dan selama betahun-tahun diperkosa di sebuah kapal. Dalam kondisi sekarat, Artemisia dibuang. Nyawanya diselamatkan oleh seorang penduduk Persia yang kemudian mendidiknya beladiri.

Setelah dewasa, tekad Artemisia hanya satu: membalas dendam. Menghabisi semua orang Yunani hingga tak tersisa. Dia kemudian menjadi pemimpin armada laut Persia yang perkasa. Dengan kekuatan yang besar, Artemisia pun menjalankan aksi balas dendamnya. Today we will dance across the backs of dead Greeks,” begitu teriak Artemisia kepada anak buahnya.

Dendam itu manis

Dendam, memang menjadi topik paling menarik untuk diceritakan. Tak heran jika hampir semua film silat produksi Hongkong selalu berbicara tentang balas dendam. Plotnya sederhana. Seorang anak kecil menyaksikan ayahnya, atau gurunya tewas. Si anak lalu mengembara, mempelajari berbagai ilmu, dan akhirnya membalas dendam. Film berakhir dengan pertarungan antara si anak dengan sang musuh bebuyutan.

Kisah silat Darah di Wilwatikta yang digarap penghuni Rumah Kayu pada dasarnya juga berkisah tentang dendam. Dhanapati, anggota Bhayangkara Biru, kelompok elit Majapahit bentukan Mahapatih Gajah Mada melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana istri dan anaknya dibunuh oleh… rekan-rekannya sesama anggota Bhayangkara Biru. Dhanapati pun menghabiskan waktunya untuk berusaha membalas dendam. Suatu hal yang tidak mudah karena kepandaian beladiri rekan-rekannya pada dasarnya berada dalam tingkat yang sama dengannya. Dia kemudian terlibat dalam kisah yang rumit dengan berbagai pihak, terutama pendekar perempuan (cersil bersambung Darah di Wilwatikta kini memasuki masa ‘hiatus’ karena kedua penghuni Rumah Kayu masih (sok) sibuk, hehehe)

Dendam dan politik Indonesia

Dendam tak hanya konsumsi fiksi. Dalam politik Indonesia, dendam juga menjadi bagian yang menarik. Megawati Soekarnoputri, konon, pernah (atau masih?) merasa dendam pada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Penyebabnya, SBY dianggap sebagai pengkhianat. Sebagai menteri koordinator, SBY tiba-tiba mencalonkan diri sebagai presiden dan kemudian… mengalahkan Megawati!!

Itulah sebabnya, dalam sejumlah pertemuan, adegan jabat tangan antara Megawati dengan SBY tetap menjadi berita besar.

Dengan asumsi bahwa ‘dendam’ Megawati masih membara, bisa dipastikan bahwa tak akan ada kader Partai Demokrat (PD) yang dilirik menjadi calon wakil presiden mendampingi Jokowi, terutama jika perolehan suara PD merosot tajam sehingga mereka tak bisa mengusung calon presiden.

Resminya nama Jokowi menjadi capres juga memunculkan cerita terkait Prabowo, yang merasa dikhianati. Lepas dari berbagai versi atau penafsiran, bisa diasumsikan bahwa Prabowo kini merasa ’sakit hati’ dengan majunya Jokowi. Namun apakah sakit hati Prabowo akan berubah menjadi dendam membara? Entahlah…

Sejumlah masyarakat DKI Jakarta kini mungkin merasa kesal dan sakit hati dengan Jokowi yang dianggap ‘mengingkari janji’ karena bakal meninggalkan kursi gubernur untuk menuju RI 1. Sebagian masyarakat DKI itu mungkin akan dendam dan ‘memboikot’ Jokowi dalam pilpres nanti. Apakah dendam sebagian warga DKI itu akan cukup signifikan untuk menghalangi langkah Jokowi menduduki kursi empuk presiden RI? Mungkin tidak.

Dendam itu racun

Dalam kehidupan sehari-hari, dendam menjadi bagian dari kehidupan. Seseorang yang disakiti, baik sengaja atau tidak, bisa mendendam seumur hidup. Saya mengenal seseorang–sebut saja namanya Ujang, yang semasa SMP tergolong anak nakal, dan selalu dihajar oleh guru olahraga yang sabuk hitam karate Dan III.

Bertahun kemudian, ketika Ujang sudah menjadi pemuda tinggi kekar, tanpa sengaja dia bertemu dengan guru olahraga yang sudah pensiun, dan uzur. “Kebetulan kita bertemu, pak guru. Sekarang aku sudah besar. Mari kita bertarung satu lawan satu…” Begitu ujar Ujang.

Terjadi perkelahian berat sebelah. Sang guru yang sudah tua tak mampu melawan anak muda yang dimabuk dendam. Sang guru nyaris tewas kalau saja tidak dilerai sejumlah masyarakat.

Sang guru itu sama sekali tidak menyangka, kalau upaya ‘pendidikan’ melalui tangan besi yang dilakukannya bertahun lalu ternyata membekas dan menimbulkan dendam berkepanjangan!!

Ujang tentu tidak sendiri. Ada banyak warga Indonesia yang kini dirasuk dendam. Mungkin karena cinta ditolak, dibully teman sekelas, dianggap remeh teman sekantor, diperlakukan semena-mena atasan, dicuekin tetangga yang arogan, dihina mertua yang tak punya perasaan, dan banyak lagi.

Sakit hati dan dendam itu wajar. Namun jika dendam dibiarkan berkepanjangan, itu akan menjadi racun. yang secara perlahan menggerogoti jiwa. Dendam yang mengakar akan membuat seseorang bertindak tidak rasional.

Mungkin itu sebabnya sehingga dulu ada ujar-ujar orang bijak yang mengatakan: jangan simpan amarahmu hingga matahari terbenam. Marah, sakit hati dan dendam itu wajar. Namun ada baiknya jika dendam itu hanya membara selama matahari bersinar. Begitu hari beranjak malam, lupakanlah. Maafkanlah.

Tidak mudah memang, tapi jika membiarkan dendam menyala, kita akan menjadi sama seperti Xerxes. Atau Artemisia. Yang hidupnya dipenuhi racun dendam…


TAGS xerxes megawati jokowi capres prabowo sby pemilu rise of an empire dendam racun


-

Author

Follow Me