Saat Remaja Meraih Cita: Pertukaran Pemuda ke Jepang

3 Apr 2014

” Ibu, aku dapat program ke Jepang-nya. “

BEGITU sms yang masuk ke dalam telepon genggamku suatu siang.

SMS itu datang dari anak sulungku. Seorang gadis remaja, mahasiswi fakultas teknik, yang semenjak masuk peguruan tinggi tinggal di kota lain.

Duh, aku begitu senangnya menerima kabar itu, dan reaksi spontanku adalah: banjir air mata.

Ha ha. Ah, aku memang selalu begitu.

Aku ingat saat dia TK dulu, dia lomba lari dan memasukkan pensil ke dalam botol — pensilnya diikat dengan tali ke pinggangnya. Saat dia berhasil melakukan itu lebih cepat dari kawan- kawannya, aku diam- diam mengusap mataku yang basah di koridor di depan ruang kelas TK.

Ada banyak saat lain ketika aku bereaksi dengan cara yang sama. Daftarnya akan sangat panjang jika semua kuceritakan disini.

Tapi yang bisa kuingat salah satunya adalah saat mendapat berita dia diterima di perguruan tinggi impian, di jurusan yang dia idam- idamkan tanpa testing. Aku sedang berada di kendaraan umum ketika itu dan menjadi sibuk menyembunyikan air mata yang terus mengalir agar tak terlihat orang- orang di sekitarku.

Pengumuman penerimaan di perguruan tinggi melalui jalur undangan tanpa testing itu terjadi lebih awal sebelum ijazah SMA-nya dibagikan. Dan ternyata, air mata haru dan bahagiaku masih mengalir (lagi) saat aku hadir dalam upacara penyerahan ijazah bagi para murid kelas 3 SMA yang baru saja lulus.

Anak sulungku merupakan salah seorang diantara murid- murid yang akan menerima ijazah hari itu. Dia memberiku kejutan ketika dia ternyata duduk di deretan depan, terpisah dari teman- teman sekelasnya, dan lalu dengan gaya yang sangat ringan menjawab pertanyaanku tentang mengapa dia duduk disana.

Itu kursi untuk murid berprestasi, bu, anakku tersenyum lebar.

Aku masih tercengang, bertanya tak paham, Dan ?

Anakku, setengah tertawa menjawab, Ya pokoknya, aku berprestasi, ibuuuu

Begitulah.

Kusaksikan pembagian ijazah, juga piagam siswa berprestasi, dan slide di layar di belakang panggung bertuliskan namanya serta keterangan bahwa dia telah diterima di perguruan tinggi melalui jalur undangan.

Sekolahnya bangga akan itu. Aku lebih bangga lagi.

***

139646045634231439

Membesarkan anak, memang gampang- gampang susah. Sebab tidak ada sekolahnya. Maka seringkali, trial and error-lah yang terjadi.

Sebisanya dalam hal ini, aku mengikuti gaya anakku saja. Memahami bahwa tiap anak, memiliki gaya yang berbeda- beda.

Seperti misalnya saat dia kelas dua SD, anak sulungku ini mengatakan bahwa dia ingin belajar sendiri saja, tidak perlu lagi belajar ditemani ibu atau bapak. Aku dan ayahnya saling berpandangan, lalu tanpa kata saling memberi kode kesepakatan yang lalu disampaikan pada anakku itu.

” Oke, boleh. Tapi mesti tanggung jawab ya. Bapak dan ibu juga akan tetap lihat dulu hasil- hasil ulanganmu dan nilai raport. Kalau tetap bagus, boleh terus belajar sendiri, kalau kurang bagus, mesti ditemani lagi. “

Anakku mengangguk. Deal.

Sejak hari itu, dia menikmati ‘kebebasan’-nya. Kukatakan padanya dia boleh belajar jam berapa saja, sepanjang jumlah jam-nya (30 menit saja sehari yang kuminta ketika itu) dipenuhi. Juga dia boleh menghabiskan 30 menit tersebut sekaligus atau memecahnya menjadi beberapa bagian. Terserah.

Cara itu berhasil baik padanya. Nilai- nilainya bukan hanya tetap bagus, tapi semakin bagus. Dia menikmati cara belajar seperti itu dan… kami orang tuanya sebetulnya juga senang, ha ha, sebab dia mandiri seperti itu.

Tentang cara belajar seperti itu, pada suatu hari aku merasa menjadi ibu yang paling bahagia dan bangga di dunia ketika kubaca sebuah essay yang ditulis anakku saat usianya sekitar 16 tahun.

Untuk sebuah lomba, dia menulis essay tentang anak- anak yang tertekan sebab orang tuanya mengharapkan mereka berprestasi sampai pada tingkat dan dengan cara yang jika saja mereka bisa berteriak, mungkin mereka akan mengatakan “bukan itu yang aku inginkaannnn”

Sementara anakku menulis begini:

I am lucky, and Im grateful for the fact that my parents have a belief that every child has his own particular time to shine. The time that they can reach out to their full potential when the feeling of being ready for it hits them. ” I just want you to know that whatever youre doing, or going to do, theyll all come back to you. The result, whether its good or bad will only affect you, not me, not anybody else. And you should take responsibility for it, ” my Mum said.

Dia juga menuliskan ini:

In fact, it really helped me enjoy studying. I can choose my perfect time. For someone that cant help to stay still and focusjust like almost all of children in the worldhave a control of when to do this or that aims to a comfortable situation which creates revolutionary ideas.

Ketika itu, membaca apa yang dia tuliskan, aku merasa mendapat hadiah bessaarrrrr sekali.

Dia katakan bahwa cara yang ‘membebaskan’ seperti itu membantunya menikmati proses belajar. Ah, itu sungguh sesuatu yang sangat berharga.

Karena, ada satu hal yang kupentingkan tentang anak- anak, yakni bahwa mereka bahagia.Termasuk ketika mereka belajar, berprestasi, yang kuinginkan adalah mereka menikmati prosesnya. Bukan semata hasilnya. Sehingga sepanjang perjalanan itu, tak ada beban pada diri mereka.

Juga, mereka bisa memilih jenis prestasi yang mereka ingin raih. Tak harus menjadi juara di semua bidang.

Anakku ini, misalnya, selalu mewanti- wanti agar kami orang tuanya tak meminta dia bergabung dengan team olimpiade.

Oh, dia pernah, bergabung dengan team olimpiade. Saat duduk di kelas 4 SD, dia diminta oleh gurunya untuk bergabung dengan kakak- kakak kelasnya di kelas 5 untuk dilatih bagi persiapan olimpiade. Dia bersedia, dan dia menjalani pelatihan itu dengan baik. Saat seleksi, dia bahkan bertahan di tahapan yang lebih jauh dari kebanyakan kakak kelasnya.

Tapi rupanya dia tidak menyukai proses pelatihan olimpiade itu. Maka setelah itu dia selalu mengatakan pada kami orang tuanya bahwa dia tidak mau lagi ikut olimpiade. Dan kami biarkan saja. Tidak kami bujuk- bujuk.

Di depan anakku, aku tak pernah menyembunyikan kekagumanku pada anak-anak cemerlang yang memenangkan olimpiade, tapi di pihak lain sebab tahu bahwa bukan itu yang dia inginkan, juga tak pernah memintanya untuk ikut olimpiade lagi setelah pengalamannya di SD. Tidak di SMP, tidak juga di SMA.

Aku ingat alih- alih menjadi juara olimpiade, semenjak di SMA dia selalu mengatakan bahwa yang diinginkannya adalah masuk perguruan tinggi tanpa testing, dan suatu saat memenangkan program pertukaran (pelajar/ mahasiswa ) serta kelak selepas S1, bisa memperoleh beasiswa ke luar negeri buat melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi .

Masuk perguruan tinggi tanpa testing, telah tercapai.

Lalu…

Ya itu.

Hatiku melonjak- lonjak senang saat kuperoleh berita bahwa setelah melalui tahapan seleksi, dia berhak bergabung dalam suatu program pertukaran pemuda: mengikuti kunjungan singkat ke Jepang untuk melihat budaya, teknologi dan produk negara itu. Biaya sepenuhnya ditanggung oleh sebuah lembaga di Jepang.

Ah, akhirnya…

Aku bahagia bahwa kini dia mulai menapaki jalan yang dia inginkan dan impikan sejak lama. Jalan yang dia rancang, perjuangkan dan pilih sendiri, bukan semata menjalani pilihan kami orang tuanya tanpa dia berhak bicara dan memutuskan apa yang baik bagi dirinya…

p.s. written for my daughter with love. congratulations, i am proud of you.


TAGS pertukaran pelajar pertukaran pemuda pertukaran mahasiswa jepang remaja berprestasi


-

Author

Follow Me