Buruknya Layanan KRL dan Kecanggihan Teknologi yang Membantu

4 Apr 2014

Pagi ini gangguan perjalanan KRL terjadi lagi.

KUALITAS layanan KRL memang perlu dipertanyakan. Sejak PT. KAI memutuskan untuk hanya mengoperasikan satu jenis layanan KRL dari sebelumnya tiga jenis, telah kuduga hal ini akan terjadi.

Dulu, ada tiga jenis layanan KRL: Ekspres, Semi Ekspres dan Ekonomi. Harga karcisnya berbeda, waktu tempuhnya berbeda, kualitas layanannyapun tak sama.

Lalu, KRL Ekspres ditiadakan. Semua KRL diberhentikan di setiap stasiun, dan secara bertahap KRL Ekonomi ditiadakan.

Kini hanya ada satu jenis layanan, yang disebut “Commuter Line”.

Kualitas gerbongnya sama dengan yang dulu digunakan untuk KRL Ekspres atau Semi Ekspres, tapi kualitas layanannya..menurut aku sih, seperti kualitas layanan KRL Ekonomi.

Asli ala kadarnya.

Jadwal perjalanan sering tiba- tiba dibatalkan at the last minute. Waktu tempuh ‘ya kira- kira segitu deh’ — banyak ketidak pastiannya sehingga sulit untuk memprediksi dan membuat seseorang harus mengupayakan berangkat jauhhhhh lebih awal jika tak ingin terlambat. Membuang- buang waktu. Beda dengan layanan KRL Ekspres dulu yang relatif tepat waktu dan cukup bisa diandalkan.

Kondisi di dalam gerbong, bagaimana? Ah sudahlah. Bisa terangkut saja sudah untung — itu saja mottonya sekarang. Jangan lagi bicara soal kenyamanan. Jauuhhhhh.

KRL itu padahal, kalau pagi, penumpangnya mayoritas adalah para pekerja. Jadi jika keterlambatan KRL sering terjadi, dampak langsungnya adalah pada produktivitas. Atau, pada kantong.

Pada kantong?

Iya.

Sebab sebagian penumpang KRL rupanya menerima tunjangan harian berupa uang transport dan uang makan yang hanya berhak diterimanya jika dia datang tepat waktu.

Begitu terlambat, walau hanya beberapa menit saja, tunjangan itu hilang.

Aku sendiri, kantorku tidak menerapkan absen yang ketat. Prinsip yang dianut adalah tiap orang bertanggung jawab pada pekerjaannya sendiri. Hendak dikerjakan kapan, atau dimana, ada fleksibilitas dalam hal itu.

Juga, tidak ada tunjangan harian yang berhubungan dengan jam kedatangan. Tapi, tentu saja keterlambatan KRL tetap menyebalkan sebab membuat jadwal kerja yang telah kususun berantakan.

Nah dalam situasi seperti ini, aku bersyukur pada kemajuan teknologi.

Dengan bantuan teknologi, kualitas layanan KRL yang ‘ya ampun’ semacam itu masih bisa kuatasi.

***

0d99c86a5a9a973ca0f452a28624feb4_train3

Aku bekerja pada suatu organisasi dimana atasan langsungku secara fisik ada di negara lain. Begitu juga dengan orang- orang di level di atasnya.

Maka email dan telepon menjadi andalan utama kami sebagai alat komunikasi.

Dulu, beberapa tahun yang lalu, aku biasa membuka laptop di KRL Ekspres. Tingkat keamanan dan kondisinya masih memungkinkan untuk itu.

Situasi KRL saat ini dengan kualitas layanan ala kadarnya, gerbong yang sangat penuh dan tingkat keamanan serta kenyamanan yang merosot tajam tak membuatku merasa KRL adalah tempat yang cocok lagi untuk membuka laptop.

Dan untunglah memang tak perlu. Sebab kini, membaca dan membalas email melalui telepon genggam sudah dapat dilakukan dengan nyaman dan kualitas serta kecepatan prosesnyapun dapat diandalkan.

Maka selama telepon genggam yang tersambung dengan server email kantor ada di tas-ku, aman. Aku bisa mulai bekerja bahkan sebelum tiba di kantor, di dalam gerbong penuh sesak yang tak nyaman itu, dengan membaca dan mengirimkan email.

Tiba di kantor, aku sudah bisa melakukan hal lain lagi.

Yang agak repot, jika KRL terlambat sementara ada jadwal conference call pagi-pagi.

Secara teknis conference call-nya bisa dilakukan. Telepon genggamku akan bisa terhubung dengan conference line, tapi kualitasnya berbeda dengan jika aku ada di kantor dan melakukan conference call dari mejaku.

Suara di telepon genggam tak sejernih suara dari telepon yang ada di mejaku di kantor.

Sinyal juga kadang-kadang naik turun, membuat aku deg degan kalau- kalau tiba- tiba di tengah pembicaraan sambungan tiba- tiba terputus. Sungguh tidak nyaman.

Dan, di kereta repot untuk membuka file berisi data jika ternyata selama melakukan conference call itu aku membutuhkan dukungan data.

Last but not least..he he..di dalam gerbong KRL itu berisik sekaliiiii. Banyak orang yang suka bicara dengan suara keras, berteriak- teriak, atau tertawa cekakakan, bahkan ada yang menyetel lagu dangdut sepanjang perjalanan. Duh.. ini yang tak bisa kuatasi. Bisa pusing semua orang yang mengikuti conference call itu jika suara- suara tersebut terdengar di tengah diskusi. He he.

Gerbong KRL memang tak dirancang untuk melakukan conference call, itu kumaklumi.

Maka harapanku, kualitas layanan KRL bisa diandalkan agar tak membuat jadwal penumpang berantakan

Aku menantikan KRL yang waktu tempuhnya lebih cepat, tepat waktu serta frekwensi terjadinya keterlambatan serta gangguan sepanjang perjalanan sangat jarang. Tak seperti sekarang yang kesannya gangguan itu koq menjadi sesuatu yang rutin. Apalagi di hari Senin, Jumat, atau hari- hari menjelang dan setelah hari libur.

Mbok ya jangan cuma stasiun-nya saja yang dibagusin. Yang lebih penting dari itu adalah kecepatan dan ketepatan waktu serta kualitas layanan sepanjang perjalanan yang bisa diandalkan dan dipercaya. Orang yang datang ke setasiun KRL itu kan mau bepergian, bukan mau duduk- duduk di setasiun saja…


TAGS


-

Author

Follow Me