Film Noah yang Dilarang Edar itu, Ada Apa Didalamnya?

13 Apr 2014

“I saw water, death by water. Then I saw new life”

UNSUR fiksi merupakan ‘pemanis’ dalam sinema yang ‘terinspirasi kisah nyata’. Unsur fiksi dibutuhkan untuk membuat film menjadi lebih hidup, lebih dramatis dan menegangkan. Namun seberapa jauh unsur fiksi bisa ditolerir pada film yang bernuansa religi?

Pertanyaan ini yang menggelayut ketika saya akhirnya berhasil menonton film Noah. Karena versi resmi dilarang, saya menonton versi 10 ribu yang bajakan, hehehe. Dan kesimpulan setelah menyaksikan filmnya adalah, Noah tak hanya berkisah tentang banjir besar di masa lalu. Noah adalah film yang juga banjir unsur fiksi.

005955e14aff984b55732e76eb1cd1cf_noah

Unsur fiksi itu diketahui setelah memeriksa dokumen resmi dalam Kitab Suci yang menjadi dasar pembuatan film ini. Dan ada beberapa catatan yang menarik seputar apa yang saya dapatkan. (Dalam perbandingan saya menggunakan kitab Kejadian (Genesis) dalam Alkitab Perjanjian Lama yang menjadi rujukan film ini)

Keluarga Noah

a. Istri, Naamah

Dalam film, istri Noah bernama Naamah (diperankan artis Jennifer Connelly). Pada versi kitab Kejadian, nama istri Noah (atau Nuh) tidak disebut-sebut. Nama Naamah (Naama) memang disebutkan dalam Kitab Kejadian sebagai adik dari Tubal-Kain. Namun tidak jelas apakah nama Naamah yang disebut dalam Alkitab itu sama dengan Naamah dalam film.

b. Anak, Sem, Ham dan Yafet

Dalam film, Noah digambarkan memiliki tiga orang putra, yakni Sem, Ham dan Japhet. Itu sesuai dengan keterangan dalam Alkitab. Bedanya, putra-putra Noah dalam film digambarkan masih berusia muda. Dalam Alkitab, Sem, Ham dan Yafet diceritakan sudah memiliki istri.

c. Anak angkat, Ila

Dalam film digambarkan keluarga Noah mengadopsi seorang perempuan, Ila, yang mereka temukan dalam kondisi sekarat. Ila jelas fiksi karena dalam Kejadian tidak digambarkan kehadiran anak perempuan adopsi. Kelihataannya sosok Ila yang diperankan Emma Watson sengaja dihadirkan untuk alasan komersil.

d. Ayah, Lamech (Lamekh)

Dalam film, Noah memiliki ayah bernama Lamech (Marton Csokas) yang tewas dibunuh ketika Noah masih remaja. Pada versi Alkitab, Lamech meninggal ketika Nuh berusia 595. Tentu 595 bukan usia remaja untuk seseorang.

e. Kakek, Methuselah

Dalam film, Noah memiliki kakek bernama Methuselah (Metusalah, diperankan aktor watak Anthony Hopkins), yang digambarkan hidup sendiri di puncak gunung dan memiliki kekuatan mistis. Methuselah digambarkan tewas ketika banjir.

Dalam Alkitab, Methuselah dipaparkan sebagai orang tertua yang pernah hidup karena meninggal di usia 969. Alkitab tidak menceritakan bagaimana Methuselah meninggal, namun dipaparkan bahwa Methuselah berusia 187 ketika melahirkan Lamech, dan Lamech berumur 182 ketika melahirkan Noah. Karena Noah berumur 600 tahun ketika air bah datang, maka Methuselah memang berusia 969 ketika banjir melanda. Jadi Methuselah meninggal ketika banjir cukup masuk akal.

The Watcher

Salah satu kontroversi dalam film Noah adalah hadirnya the Watcher, raksasa dari batu yang membantu Noah membangun bahtera, juga membantu melawan para penjahat. Kehadiran the Watcher (yang menghadirkan nuansa Lord of the Ring plus Transformer) ini menjadi kejutan karena sama sekali tidak ditampilkan dalam tailer filmnya.

The Wacher tidak disebutkan dalam Kitab Kejadian. Namun pada bagian sebelum Nuh diceritakan tentang kehadiran para raksasa di bumi. “Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi dan juga pada waktu sesudahnya (Kej 6:4)”. Namun tidak jelas apakah raksasa yang disebut dalam Alkitab itu sama dengan yang dipaparkan dalam film.

Pada Noah, the Watcher merupakan ‘fallen Angels’, para malaekat yang jatuh ke bumi. Dalam diskusi di sejumlah situs yang membahas Noah diceritakan kalau The Watcher disebut-sebut dalam Book of Enoch, yang bercerita tentang pengalaman Enoch. Dalam Alkitab, Enoch atau Henokh adalah ayah dari Metusalah yang diangkat oleh Allah ke Surga. Book of Enoch sendiri tidak termasuk dalam Kitab Suci.

Tentang wahyu

Dalam film, Noah mendapat wahyu dari Allah secara tidak langsung, yakni melalui mimpi atau semacam penglihatan. Dalam Alkitab, dipaparkan kalau Allah memberi perintah secara langsung. Bahkan Allah memberi perintah yang detil terkait ukuran bahtera. Dalam film, ukuran bahtera merupakan hasil kreasi Noah yang dibantu the Watcher.

Kayu untuk bahtera

Dalam film digambarkan Noah mendapat benih tumbuhan dari Methuselah yang berasal dari Eden. Dalam semalam, benih itu tumbuh menjadi hutan lebat. Pepohonan dalam hutan inilah yang oleh Noah dan para raksasa dijadikan bahan untuk membuat bahtera.

Dalam Alkitab tidak dipaparkan bagaimana Noah mendapat kayu untuk membuat bahtera.

Yang selamat

Dalam film, mereka yang selamat dari air bah adalah Noah, Naamah, Sem, Ham, Yafet, Ila dan Tubal-Cain yang masuk secara diam-diam. Belakangan Tubal-Cain tewas dibunuh. Pada versi Alkitab, yang selamat berjumlah delapan orang, yakni Noah, ketiga putranya, dan istri mereka masing-masing.

Versi film, Ham dan Japheth masih berusia sangat muda dan belum menikah. Versi ini meninggalkan pertanyaan mendasar yang sukar dijelaskan. Yakni bagaimana Ham dan Japheth nantinya mendapat istri sementara hanya mereka yang selamat?

Tubal-Cain, tokoh jahat

Sebuah fim tak akan seru jika tak ada tokoh antagonis. Dalam film, yang menjadi tokoh jahat adalah Tubal-Cain (Ray Winstone), yang sejak awal menjadi musuh dan kelak berusaha merebut bahtera begitu air bah mulai melanda.

Pada versi Alkitab tidak diceritakan tentang adanya rongrongan dari pihak tertentu. Sosok Tubal-Cain sendiri memang ada dalam Alkitab, yang merupakan keturunan dari Kain. Dalam Alkitab, Tubal-Cain digambarkan sebagai “bapa semua tukang tembaga dan tukang besi”. Namun tidak jelas apakah Tubal-Cain itu hidup paad jaman yang sama dengan Noah.

Dalam Alkitab, Noah merupakan keturunan Adam melalui Set, yang dilahirkan setelah Habel meninggal.

Pembunuhan keturunan

Dalam film, ada adegan yang memaparkan upaya Noah yang hendak membunuh cucunya, putra Sem dengan Ila. Noah yakin, dari wahyu yang diterimanya, semua manusia harus mati, termasuk cucunya.

Upaya pembunuhan ini tidak ada dalam Alkitab. Kelihatannya Darren Aronofsky sang sutradara terinspirasi dengan kisah Abraham (atau Ibrahim) yang juga nyaris membunuh putranya. Jika Abraham tidak jadi membunuh putranya karena campur tangan Malaekat, maka Noah tidak membunuh cucunya karena kemauannya sendiri. Dalam Alkitab, Abraham merupakan keturunan Noah dari Sem.

***

Apakah unsur fiksi dalam film Noah bisa ditolerir? Tentu, itu tergantung sudut pandang masing-masing. Dalam Alkitab, kisah Noah hanya digambarkan dalam empat bab. Dengan materi yang hanya empat bab memang sulit bagi siapapun untuk membuat sebuah film yang panjangnya hampir dua jam. Jadi, kehadiran unsur fiksi untuk memperlancar cerita itu bisa dipahami.

Dalam beberapa hal, unsur fiksi dihadirkan memang untuk memperlancar cerita. Kehadiran para raksasa batu, contohnya. Jika para raksasa batu itu tidak ada, tentu Darren Aronofsky sebagai sutradara akan kesulitan menggambarkan bagaimana Noah membangun bahteranya. Para raksasa batu juga dibutuhkan untuk membantu Noah melawan para penjahat yang berniat merampas bahtera

Dari sisi cerita, film Noah cukup luyaman. Sayang, adegan datangnya air bah tidak dieksplorasi. Saya sebenarnya berharap adegan air bah lebih panjang dan lebih spektakuler.

Dari sisi akting, Russell Crowe cukup berhasil menjadi seorang Noah. Memang ada beberapa adegan yang aktingnya mirip, dengan nada bicara yang mirip (seperti bergumam). Namun secara umum Crowe cukup berhasil menjadi Noah. Para pendukung juga bermain sesuai porsi, sekalipun memang tidak ada yang menonjol.

***

Dari sisi hiburan, Noah lumayan menghibur. Namun dari sisi ‘religi’, tidak. Beda dengan The Passion of Christ yang bisa diputar di gereja saat Paskah, film Noah sama sekali tidak dianjurkan untuk diputar di gereja manapun. Noah juga tidak diharapkan untuk menjadi referensi untuk sebuah film ‘religi.’

Dan ini sepenuhnya wajar. Karena sejak awal, Darren Aronofsky sang sutradara (yang ateis) kepada Hollywood Reporter mengatakan dia ingin membuat “…this fantastical world la Middle-earth that they wouldn’t expect from their grandmother’s Bible school…”

Kelebihan lain dari Noah adalah, siapapun yang menontonnya, akan ‘terpaksa’ membuka Kitab Suci dan membaca seputar Noah begitu selesai menonton filmnya…

p.s:

‘Review’ film ini dibuat berdasarkan apa yang tertulis dalam Alkitab. Jika teman-teman ingin membandingkan dengan versi Nabi Nuh dalam Al Quran, misalnya, silakan menambahkan dalam kolom komentar


TAGS film noah noah review film russel crowne lord of the ring emma watson


-

Author

Follow Me