Di KRL, Semua Pihak Termasuk Ibu Hamil Harus Tetap Santun

18 Apr 2014

Aku pernah hamil. Bahkan lebih dari sekali.

MAKA, kutahu pasti bahwa pada kondisi hamil, energi seorang perempuan akan banyak terserap untuk proses pertumbuhan bayi. Dan karenanya bisa jadi tubuh terasa ‘kurang enak badan’ selama berbulan- bulan.

Jadi, tentu saja, selain turut bergembira sebab tahu bahwa kehamilan itu karunia, aku juga merasa bersimpati pada kondisi kelelahan dan kurang enak badan yang dialami para ibu hamil.

Namun kali ini, sebagai pengguna kendaraan umum, terutama KRL, aku ingin menyoroti sesuatu tentang kehamilan. Dari sudut pandang yang mungkin tak biasa…

***

dbebf415ebcb12748a3b45dbe676f87c_hamil

Sejak KAI menjalankan pola operasi tunggal, menghilangkan KRL ekspres dan mengoperasikan KRL ‘Commuter Line” , kenyamanan menjadi sesuatu yang tak terjangkau. Waktu tempuh berlipat, KRL berenti di semua stasiun, kondisi di dalam gerbong penuh sesak dan sangat tidak manusiawi.

Bukan hanya di dalam gerbong, bahkan sekedar untuk masuk ke dalam gerbong saja, butuh perjuangan tersendiri. Beberapa rute perjalanan yang dipenggal sehingga penumpang harus transit dan berganti kereta dan melanjutkan perjalanan dengan kereta lain menambah deretan hal yang harus dikeluhkan.

Perjalanan dengan KRL, sudah menjadi sangat tidak nyaman bagi semua penumpang. Hamil ataupun tidak hamil penumpang itu.

***

Di gerbong KRL tersedia bangku- bangku prioritas, yang disediakan bagi para ibu hamil, orang lanjut usia, ibu yang membawa balita dan penyandang disabilitas yang pada jam- jam sibuk pergi dan pulang kantor, kursi itu mayoritas diisi oleh para ibu hamil.

Aku ingin menyoroti suatu hal yang menggelitik tentang hal ini, yakni bahwa ada ibu- ibu hamil yang sikapnya menurutku kurang patut.

Hamil tidak berarti kita harus berubah menjadi tidak santun serta egois, bukan?

Para ibu hamil perlu menyadari bahwa kehamilannya terjadi karena pilihan mereka sendiri ( dan suaminya ). Maka, mereka juga harus bertanggung jawab atas pilihan tersebut.

Tentu, atas nama kemanusiaan, sopan santun dan kepatutan sikap, kita bisa mengharapkan bahwa orang lain bersimpati terhadap kondisi para ibu hamil.

Namun jangan lupa, tiap orang juga memiliki masalahnya sendiri- sendiri.

Orang yang tidak hamil, bisa dalam kondisi tergesa, bisa juga sedang agak kalut sebab ada keluarga atau kerabat yang sedang sakit. Bisa saja dia baru di-PHK dan bingung sebab masih banyak cicilan yang belum terbayar. Bisa saja dia baru bersitegang dengan boss-nya. Bisa saja…

Ada beribu kondisi yang dihadapi seseorang.

Orang yang tidak hamilpun bisa saja dalam kondisi sangat lelah, tertekan atau kurang sehat.

Maka, keramahan dan simpati orangpun akan ada batasnya.

Para ibu hamil tak bisa berharap bahwa semua orang akan mendahulukan dirinya, bahwa dia akan selalu mendapat hak istimewa, bahwa semua orang akan ramah padanya. Terutama saat kondisi KRL sendiri sangat jauh dari nyaman maupun ideal seperti sekarang ini.

Maka, justru mengherankan ketika dalam kondisi penumpang hendak masuk berdesak- desakan ke rangkaian kereta, seorang ibu hamil memaksakan diri berebut masuk gerbong di tengah- tengah begitu banyak peumpang lain dan kemudian mengomel panjang pendek ketika tersenggol orang di sebelahnya yang juga sedang berjuang masuk.

” Aduh, ngapain sih ini desak- desak?

” Ih, nggak usah dorong- dorong dong… “

” Gimana sih, nyerobot- nyerobot, udah tau ada yang hamil juga.”

Sikap dan omelan seperti itu, menurutku, jauh dari menimbulkan simpati dan malah sangat egois.

Sebab belum tentu orang lain menyadari soal kehamilan itu. Ada orang- orang hamil yang belum terlalu tampak kehamilannya secara fisik. Atau lebih menyerupai orang gendut dibanding hamil. Apalagi, tidak ada rasanya orang hamil yang menempelkan label besar- besar di dada atau punggung bertuliskan ’saya hamil’ sehingga semua orang lain tahu tentang kehamilannya.

Maka, jika merasa harus melindungi bayi yang sedang dikandung dari senggolan, atau khawatir terjepit, ya hindari kondisi seperti itu. Jangan selalu mengharapkan orang lain yang memahami atau berhati- hati.

Carilah cara, misalnya naik KRL di jam yang tidak terlalu padat. Atau berputar, naik kereta ke arah yang tidak padat dan ikut lagi ke arah balik, sehingga saat masuk ke dalam gerbong tak perlu berdesakan, jadi tak perlu mengomel mengata- ngatai orang yang (bisa jadi tak sengaja) menyenggol.

Datanglah lebih awal, sehingga tak perlu mengusir orang.

Dan…

” Hamil, nggak? ” , sungguh menurutku adalah kalimat yang sama sekali tidak manis.

Tapi kalimat seperti itulah yang kuamati sering digunakan ibu hamil di KRL untuk meminta jatah duduk di kursi prioritas yang saat itu sudah diduduki penumpang lain.

Benar, kursi prioritas memang salah satunya ditujukan untuk orang hamil. Tapi jangan lupa, orang sakit juga berhak duduk di situ. Seseorang bisa saja baru pulih dari operasi, misalnya, lalu jika dia sudah datang lebih dulu dan duduk di kursi tersebut, benarkah dia kalah berhak dengan seorang ibu hamil yang datang semenit sebelum KRL berangkat?

Benarkah ibu hamil itu boleh meminta jatah tempat duduk begitu saja dengan cara semacam itu tanpa memperhitungkan kemungkinan bahwa yang tak hamilpun dalam kondisi tertentu berhak duduk di kursi prioritas?

Atau juga, ada fakta yang sering diabaikan. Bahwa tidak semua kursi di pojok gerbong merupakan kursi prioritas. Ada banyak KRL dimana hanya di satu sisi saja kursi yang diberi label kursi prioritas, dan sisi lain tidak. Artinya, yang tidak itu boleh diduduki oleh siapapun, perempuan atau laki- laki, tanpa kecuali.

Dan bayangkan juga situasi ketika seseorang yang datang awal lalu duduk di kursi di pojok gerbong yang bukan kursi prioritas lalu dihampiri oleh ibu hamil yang datang at the last minute menjelang KRL berangkat dan bertanya ” Hamil nggak ? ” seperti itu.

Ibu hamil juga harus tahu aturan.

Orang lain akan senang hati memberikan tempat duduknya jika pertanyaannya lebih santun. Sadarilah bahwa kursi yang bukan kursi prioritas itu berhak diduduki oleh semua penumpang. Maka, jikapun diminta, itu artinya meminta tolong, meminta kebaikan orang lain untuk memberikan haknya. Dan selayaknyalah kalimat permintaan tolong juga yang digunakan, bukan ” Hamil, nggak? ” seperti itu.

Apa sih sulitnya menghargai juga hak orang lain dan bersikap santun? Hamil bukan berarti harus jadi egois serta kehilangan kesantunan, bukan?

Apalagi, proses sampai terjadinya kehamilan itu kan dijalani hanya berdua dengan suami, maka, mengapa orang lain lalu dianggap harus selalu bersedia menanggung keegoisan, dan ketidak santunan tanpa ibu hamil (dan/atau suaminya) juga bertenggang rasa?

p.s. luv u


TAGS ibu hamil di krl kehamilan kendaraan umum transportasi sopan santun


-

Author

Follow Me