Sebab Ini Bukan Semata Soal Presiden, Tapi Soal Contoh dan Panutan

17 Jul 2014

Delapan hari setelah pemilihan presiden, lima hari sebelum pengumuman resmi tentang hasilnya.

DEE menelisik beberapa berita. Memilih mana yang dia suka. Menaruhnya dalam link facebook. Dan twitter. Dan berbincang dengan beberapa teman melalui BBM, atau sms.

Dee kadang tersenyum, kadang mengusap air mata.

Dalam hati, dia mentertawakan dirinya sendiri. Musim kampanye sudah lewat, kini dia malah baru aktif melakukan itu.

Dia tak suka masa kampanye presiden yang lalu. Dia justru senang saat masa kampanye itu berakhir. Sebab masa kampanye lalu, terlalu hiruk pikuk baginya. Begitu banyak cercaan, berita hitam, cerita miring yang kebenarannya perlu diragukan bertebaran dan adu domba dilakukan.

Dia tak suka melihat apa yang terjadi. Maka dia memilih untuk menepi.

Tidak, dia bukan tak punya pilihan.

Dia justru sudah punya pilihan, sejak awal. Dan tak pernah hatinya meragukan apa yang dipilihnya.

Maka justru, sebab dia sudah punya pilihan, maka dia menganggap menepi dari hiruk pikuk kampanye yang terlalu kotor menurut pendapatnya adalah pilihan terbaik.

Dia tak hendak turut menjatuhkan calon presiden yang bukan merupakan pilihannya. Tapi tak juga terlalu ingin banyak berkomentar tentang calon presiden kemana hatinya memilih.

Dia gembira, sungguh gembira ketika hari terakhir masa kampanye berakhir.

Tapi, apa yang terjadi ternyata membuat sikapnya harus berubah.

Kediamannya bobol. Sikap tak hendak banyak bicaranya jebol.

Dia tak lagi bisa berada hanya di pinggir, menonton tanpa bicara dan diam- diam pada 9 Juli datang ke bilik suara untuk menuntaskan pilihan hatinya.

Tidak bisa lagi.

Karena suara- suara hitam itu berteriak makin keras. Pekak. Nyaring.

Hatinya tak lagi menerima kediamannya.

Dia ingin bicara. Tentang apapun yang dia tahu. Sesedikit apapun itu.

Maka dia mulai bicara. Untuk pertama kalinya. Sehari menjelang pemilihan presiden, dia menuliskan pendapat tentang apa yang diketahuinya, untuk meredam serangan yang tak juga mereda pada pilihannya.

Dan dia tak lagi bisa berhenti setelah itu.

Sebab ternyata, apa yang dia pikir akan menjadi sebuah pesta ria, sebuah puncak acara kesenangan pada saat pemilihan presiden tanggal 9 Juli itu, tidak berjalan seperti apa yang ada dalam angan.

Dee seperti menyaksikan pesta yang dia harapkan menggembirakan, tapi ternyata kue taart yang dibayangkannya akan dipotong dan dinikmati kelezatannya malah berubah menjadi sebuah senjata yang dilemparkan ke muka pihak bersebrangan.

Sirup manis yang seharusnya menyejukkan kerongkongan disiramkan kasar dan mengotori baju.

Duh, mengapa jadi begini?

Kenapa itu terjadi, ketika banyak harapan sudah mulai membumbung tinggi ?

***

575d696669e4dea782c8aff2516899d7_hope

Dee tak pernah tidak memilih.

Seterbatas atau seburuk apapun pilihan yang ada, dia selalu datang menggunakan hak pilihnya pada saat pemilu, selama bertahun- tahun.

Dunia kadang memang tak seindah apa yang kita harapkan. Pilihan yang tersedia kadang tak sebaik apa yang kita mau. Tapi menurut Dee, tak memilih merupakan suatu bentuk pengabaian. Dan jika kita bahkan mengabaikan serta tak perduli, maka janganlah berteriak tentang situasi buruk yang terjadi.

Orang yang tak perduli, tak lagi berhak berteriak mencela.

Dan bahkan ketika memilih bukan merupakan sesuatu yang anomali dalam sejarah hidupnya sebab dia memang selalu memilih, pemilihan presiden kali ini membuka babak baru dalam pemikirannya. Dalam hatinya.

Sebab di jatuh cinta.

Baru kali ini, saat ini, dia memilih dengan hati yang begitu dipenuhi cinta.

Baru kali ini, saat ini, dia mendapati sebuah sosok yang bisa membuatnya tertawa dan mengalirkan air mata sekaligus.

Lihatlah betapa sederhananya dia.

Lihat bagaimana caranya menggulung lengan baju yang bahkan tampak ’sembarangan’ dan sekedarnya itu.

Lihatlah, betapa tak ada beragam hal yang perlu ditempelkan pada dirinya untuk membuat dia tampak berwibawa. Tidak jam mahal, tidak baju atau sepatu bermerk, tidak lagak lagu yang jumawa, tak pula kesombongan atau banyak bicara.

Dee tahu, orang yang membuatnya jatuh cinta itu dalam kehidupannya kini tidak bergelimang kemiskinan. Dia tahu persis bahwa kata miskin berlebihan untuk diterapkan pada sosok ini. Dia memang tidak miskin, tapi berpembawaan sederhana.

Dan karena itulah Dee jatuh cinta. Sebab sosok ini memilih jalan sederhana itu, bukan karena terpaksa. Sebab dia punya pilihan untuk menjadi tak sesederhana itu tapi dia memilih menjadi sederhana.

Dee sungguh tersentuh. Sebab, dia sudahbosan, bosan, bosan dan merasa pengap dengan begitu banyak kepalsuan yang selama ini terlihat di sekitarnya, yang bertebaran pada kehidupan sehari- hari. Baik tentang para pemimpin maupun orang yang lalu lalang ( yang meniru gaya para pemimpin itu ).

Dee bosan melihat beragam rupa hal: tentang kekayaan yang digembar- gemborkan, tentang jam bermerk yang ditunjukkan, tentang barang- barang mahal yang dipamerkan. Tak lagi terbilang saat dimana hatinya bertanya: memangnya kita jadi lebih bernilai jika menggunakan itu semua ?

Maka bagi Dee, ini bukan semata tentang presiden. Ini tentang role model.

Tentang sosok panutan.

Ini tentang seseorang yang akan menjadi contoh, bagi banyak orang. Jutaan orang, ratusan juta orang, dari beragam generasi.

Ini tentang bagaimana ketulusan perlu diutamakan.

Tentang bagaimana kesederhanaan perlu dikedepankan.

Tentang bagaimana kepandaian tak berlu digembar- gemborkan, tapi ditunjukkan dalam kalimat sederhana yang tenang dan tindakan yang taktis dan seyum yang selalu ada.

Dee sungguh merindukan suatu hari, dimana anak- anak bisa tumbuh dengan melihat sosok presiden yang bisa dicintai sebab dia bersahaja dan apa adanya.

Tentang seseorang yang menjadi pemimpin bukan semata karena kepentingan dalam dirinya, tapi menggulung lengan baju bekerja nyata untuk rakyatnya.

Dee merindukan suatu hari ketika anak- anak bisa membaca sebuah biografi dimana tak banyak goresan palsu dan basa basi perlu dituliskan disana, sebab sejatinya, sosok yang dituliskan itu tak lagi perlu dipoles. Karena dia memang sudah selalu tampil apa adanya.

Dee sungguh berharap, lima hari lagi, hatinya tak perlu pecah sebab harapan itu kandas. Terutama jika itu bukan semata kandas tapi dikandaskan oleh tangan- tangan kotor yang bermain di belakang punggung. Dikandaskan oleh hati yang tak legowo atas cinta tulus yang diberikan rakyat pada dia yang dicintai, menyalakan harapan dan bisa menjadi panutan.

Dee berharap, kali ini, kebaikanlah yang akan tampil dan menang. Sebab dengan ini, akan banyak orang yang percaya bahwa berbuat baik itu tak sia- sia. Akan banyak orang percaya bahwa sesuatu harus diraih dengan kejujuran. Bukan menghalalkan segala cara semata untuk menang.

Ah, semoga alam semesta, bulan, bintang, matahari dan Sang Maha Cinta, mengamini harapannya ini.


TAGS pilpres 2014 jokowi prabowo presiden republik indonesia


-

Author

Follow Me