Pengalaman ‘Terjebak’ Cinta Lokasi [Edisi Nostalgia]

19 Dec 2014

14188652371134782814

Ilustrasi (love925.com)

CINTA lokasi (cinlok) umumnya menimpa para artis. Karena keseringan bersama ketika syuting, benih asmara pun mekar. Namun, hakekatnya, cinlok tak hanya menimpa para artis. Mereka yang tergolong orang biasa pun bisa mengalaminya.

Aku, dulu, pernah mengalami dan merasakan bagaimana asyiknya cinlok. Salah satu yang paling menggetarkan akan aku ceritakan pada edisi nostalgia kali ini, guna memenuhi janji pada beberapa teman yang penasaran dengan episode itu (termasuk, ehm, salah satu pendiri Rumah Kayu, hahaha).

Kisah cinlok itu terjadi puluhan tahun lalu. Saat itu, aku dan tiga orang teman (satu cewek dan dua cowok) ditugaskan sebuah lembaga mengikuti Training of Trainers di sebuah kota di Jawa Tengah. Seperti biasa, di hari pertama, mataku langsung ‘jelalatan’ melihat ada tidaknya ‘barang bagus yang seger-seger’. (Ya iyalah, mosok aku jelalatan lihat cowok? Emang jeruk makan jeruk? Hahaha). Dari sekian peserta cewek, ada beberapa yang menarik. Salah satunya cewek asal Surabaya, mirip artis Hongkong Rosamund Kwand yang sayangnya udah punya cowok (cowoknya ikutan jadi peserta). Kemudian ada peserta asal Jakarta. Cantik banget, lembut dan sangat mirip Titi Kamal.

Di hari pertama, ketika perkenalan, peserta yang mirip Titi Kamal ini (kita sebut saja namanya Myranda, tentu bukan nama sebenarnya) langsung menyedot perhatian ketika sejumlah pembicara dan pelatih, secara bergurau melakukan protes kenapa Myranda jadi peserta. Rupanya, Myranda biasa menjadi pembicara dan trainer untuk kegiatan sejenis. Beberapa pelatih yang menjadi pembicara pada kegiatan yang aku ikuti pernah menjadi rekannya di acara serupa di tempat lain. Myranda yang dipuji-puji hanya tersipu seraya tersenyum simpul.

Di hari kedua, kami dibagi dalam kelompok kecil. Satu kelompok beranggota empat orang. Kelompok kecil ini bertugas membahas materi yang disajikan sebelumnya, untuk dibawa ke pleno di penghujung sesi. Dan, mungkin sudah takdir Yang Maha Kuasa, aku satu kelompok dengan Myranda.

Bisa satu kelompok dengan sesama peserta yang punya pengalaman segudang, aku tak menyia-nyiakan kesempatan. Jika ada waktu, aku mengajaknya berdiskusi, menanyakan berbagai hal. Dan, Myranda menyambut dengan hangat. Dari pembicaraan yang kami lakukan aku menyimpulkan bahwa dia itu cerdas. Sangat cerdas. Bicaranya ekspresif. Gaya bicaranya cepat, mirip gaya bicara Dessy Ratnasari (artis Dessy Ratnasari sekarang sudah jarang muncul. Jadi semoga teman-teman bisa mengingat seperti apa dia bicara, hehehe).

Suatu ketika, ketika sedang makan siang, aku berbincang dengan Vera (bukan nama sebenarnya), peserta yang sama-sama dari Manado. Rupanya Vera sekamar dengan Myranda (kami menginap di lokasi pelatihan di kamar-kamar yang sudah disediakan. Yang cowok tidurnya terpisah dengan cewek). Setelah ngomong ngalor-ngidul, Vera tiba-tiba bilang, ‘Eh Myranda nanyain kamu terus tuh’

‘Nanya apa?’ jawabku

‘Dia tanya kamu anak keberapa, kerja di mana, gimana kamu bisa ikut pelatihan ini dan lain-lain,’ kata Vera.

Dia kemudian melanjutkan dengan kalimat yang nyaris membuatku terkena stroke. ‘Kayaknya Myranda naksir kamu Far’

WHAAAATTTT? Myranda naksir aku? Myranda yang ITU?

Melihat wajahku yang tak percaya, Vera melanjutkan, ‘Kalau gak naksir, ngapain dia tanya-tanya tentang kamu? Dia gak pernah menanyakan soal Edy atau Bram. Dia hanya tanya-tanya tentang kamu’. Edy dan Bram adalah dua rekanku yang juga dari Manado.

Hemmm.

Sekalipun gak tergolong pakar dalam bercinta, namun aku juga gak termasuk yang lugu. Walau jumlahnya gak banyak, aku beberapa kali pernah ditaksir cewek. Aku bahkan pernah ditaksir mahasiswi yang sedikit mengalami gangguan mental (yang ini nanti dikisahkan kapan-kapan, hehe). Saat itu, aku lumayan bisa membedakan apakah si cewek beneran naksir atau akunya yang ke-GR-an, hehehe. Umumnya cewek yang aku pikir naksir aku itu belakangan memang benar-benar jadi pacar.

Ketika pacaran, aku memang memilih bermain ‘aman’. Aku menerapkan prinsip don’t hunt what you can’t kill. Jadi aku hanya mengejar cewek yang sejak awal aku pikir bisa didapat. Aku gak bakalan menghabiskan waktu dan energi mengejar cewek yang di luar jangkauan. (Itu sebabnya walau aku cinta setengah mati pada Najwa Shihab dan Agnes Monica, aku memutuskan untuk mundur teratur karena aku pikir peluangnya amat sangat tipis, hahahaha).

Pernyataan Vera sempat membuatku tak bisa tidur siang ketika malam tiba. Masak sih Myranda naksir aku? Sejauh ini aku tak melihat adanya signal bahwa dia naksir. Dia memang ramah. Hangat. Terbuka. Namun sikapnya itu juga dia perlihatkan kepada teman cowok lain yang mengajaknya bicara.

Sejak itu, aku melihat Myranda dengan tatapan lain. Sekaligus mencari tanda bahwa dugaan Vera benar. Namun, tanda yang kudapat sangat samar.

Ungkapan cinta tanpa kata

Dua hari menjelang pelatihan berakhir, oleh panitia kami dibawa bertamasya. Field trip. Dengan bus kami ke candi Borobudur. Begitu tiba di Borobudur, aku iseng mengajak Myranda jalan-jalan, memisahkan diri dari rombongan. Dan dia setuju.

Kami pun menelusuri lorong demi lorong. Dan aku memutuskan untuk mencari jawaban. Aku memilih taktik kuno namun masih ampuh hingga kini. Yakni pernyataan cinta dalam diam. Ungkapan cinta tanpa kata.

Ketika suasana lorong sedang sunyi, seolah tanpa sengaja aku menyentuh jemarinya. Dan aku menggengam tangannya.

Sampai sekarang aku masih mengingat ekspresi wajahnya. Dia kaget. Wajahnya sempat memucat. Dahinya berkeringat. Dia berusaha keras untuk tak beradu pandang denganku. Namun dia tak menepis atau melepaskan genggaman tanganku!!

Jadi begitulah. Di lorong yang sunyi di Candi Borobudur kami berpegangan tangan. Jemari kami menyatu. Untuk menghilangkan rasa canggung, aku mengajaknya membahas relief yang ada. Apa makna simboliknya, apa tujuannya bla bla bla. Kami pun berdiskusi dengan asyik. Sambil berpegangan tangan. So sweeeeet.

Setelah jadian, apa yang kami lakukan setelah balik ke tempat pelatihan? Apa yang terjadi kemudian di Jakarta?

to be continued


TAGS cinta lokasi nostalgia cinta


-

Author

Follow Me